Koreri.com, Jayapura – Ketua Gerakan Merah Putih Provinsi Papua Rudi Waromi, yang juga tokoh masyarakat setempat menegaskan, Buchtar Cs selaku terdakwa kasus kerusuhan Papua pada 2019 adalah murni pelaku kriminal dan bukan tahanan politik.
“Mereka yang sedang menjalani proses persidangan di Kalimatan Timur adalah murni pelaku kriminal yang mengakibatkan terjadi kerusuhan di Papua dan khususnya di Kota Jayapura,” tegasnya.
Akibat aksi mereka, banyak masyarakat Papua yang mengalami kerugian baik itu materil maupun harta benda.
Waromi juga menyikapi beberapa oknum kelompok-kelompok kecil yang mengklaim bahwa ke 7 pelaku kasus kerusuhan Papua 2019 lalu merupakan tahanan politik.
“Jadi, mereka itu adalah murni pelaku kriminal dan bukan tahanan politik sehingga saat ini proses hukum yang dijalani oleh mereka adalah sesuai dengan perbuatan mereka,” kembali tegasnya.
Waromi sekaligus mengingatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat lainnya yang mengklaim hal yang sama.
“Mari kita lihat apa perbuatan mereka sehingga terjadi kerusuhan di Papua. Mereka adalah murni pelaku kriminal,” sambungnya.
Waromi menuturkan jika melihat bersama bahwa pada 19 Agustus 2019, awalanya memang ada demo terkait rasisme dan aksi itu wajar-wajar saja.
“Tetapi pada 29 Agustus itu, terjadi perubahan. Yang mana kita lihat banyak terjadi kerusakan, pembakaran, hingga termasuk orang Papua sendiri yang mempunyai fasilitas juga ikut dibakar. Ini kan bukan lagi tindakan manusiawi melainkan sudah diluar dari aturan sehingga proses hukum sudah patut dijalani dengan baik karena sesuai dengan perbuatan mereka,” urainya.
Pihak kepolisian pun, lanjut Waromi, dalam memproses kasus tersebut sesuai dengan bukti dan fakta di lapangan.
“Jadi, jalani saja proses hukum yang sedang diberlakukan,” cetusnya.
Waromi juga mengingatkan oknum atau kelompok-kelompok yang mencoba mengaitkan masalah rasisme di Amerika Serikat dengan Indonesia karena sangat berbeda kejadianya.
Ia mengimbau masyarakat Papua agar tidak terprovokasi.
“Kita ini warga negara Indonesia jadi jangan mudah terprovokasi dengan sekelompok orang yang ingin mengaitkan dan atau menjadikan kita sama dengan orang-orang di Amerika sana. Kita harus menyadari bahwa, tanah Papua ini adalah titipan Tuhan untuk bangsa Indonesia sehingga mari kita jaga dan syukuri itu, karena misi utama kita adalah menjadi berkat untuk semua bangsa. Kita tidak ingin ada lagi terjadi pertumpahan darah atau kerusuhan lainya, seperti yang sudah terjadi pada zaman Koreri. Zaman ini adalah bagaiamana kita hidup berdamai dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya.
AND
