Koreri.com, Jayapura – Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Benhur Tomi Mano – Constant Karma resmi menyampaikan ucapan terima kasih kepada rakyat Papua yang telah mendukung perjuangan keduanya di pemungutan suara ulang (PSU), 6 Agustus 2025 lalu.
Hal itu disampaikan Cagub Benhur Tomi Mano (BTM) dalam sebuah pidato resmi di Kota Jayapura, Jumat (22/8/2025).
Ia menegaskan, bahwa hasil PSU Papua telah di umumkan KPU dan pihaknya tidak lagi menoleh ke belakang akan tetapi langkah hukum akan di tempuh untuk menjaga demokrasi yang jujur dan adil.
Demikian isi pidato lengkapnya,….
Salam perjuangan!
Shaloom,
Assalamu’alaikuim Wr.Wb
Om swatiastu, Namo Budhaya
Merdeka!
Saudara saudaraku, Izinkan saya memulai pidato ini dengan hati yang bergetar. Hati yang penuh syukur, penuh haru, karena sa’at ini kita masih bisa berdiri bersama. Kita berkumpul bukan untuk merayakan akhir, melainkan untuk mengenang sebuah perjalanan panjang, sebelas bulan yang penuh doa, penuh peluh, penuh air mata, dan penuh pengorbanan.
Sebelas bulan di mana ada yang jatuh sakit tetapi tetap hadir di jalan perjuangan. Sebelas bulan di mana ibu-ibu menjual pinang dan berasnya demi membantu gerakan ini. Sebelas bulan di mana anak-anak muda meninggalkan kenyamanan demi mengetuk pintu rumah rakyat. Sebelas bulan di mana doa-doa orang tua dinaikkan setiap malam, menahan langit agar langkah kita tidak goyah.
Saudara-saudaraku, inilah yang membuat saya menundukkan kepala. Karena perjuangan ini bukan milik saya, bukan milik satu orang. Perjuangan ini adalah milik kita semua. Milik mereka yang keringatnya menetes di jalanan, milik mereka yang suaranya terbungkus dalam doa, milik mereka yang dengan sederhana berkata: “KAMI BERSAMA SAMPAI AKHIR”
Yang saya hormati dan saya cintai:
– Para relawan yang setia mengetuk pintu rumah rakyat, mengibarkan bendera, menjaga TPS meski hujan dan panas.
– Para pendukung dan simpatisan yang tidak pernah surut walau badai menerpa.
– Para tokoh masyarakat adat yang menjaga identitas dan martabat orang Papua di tengah gelombang demokrasi nasional.
– Para tokoh agama: para pendeta, gembala, imam, ustadz, dan seluruh umat beriman yang mendoakan agar langkah kita tetap dalam ridha Tuhan.
– Para aparat keamanan yang masih menjaga rakyat dengan hati nurani.
– Para kuasa hukum yang membela suara rakyat di medan hukum.
– Kader dan simpatisan partai, terutama PDI Perjuangan sebagai pengusung utama, dan PKN sebagai partai pendukung.
– Teristimewa, Ibu Megawati Soekarnoputri yang mengajarkan arti kesetiaan dan konsistensi perjuangan, serta Cak Anas Urbaningrum yang menghadirkan kejernihan di tengah politik yang penuh intrik.
– Dan tentu, penghormatan setinggi-tingginya saya tujukan kepada wartawan, media massa, dan pers. Karena lewat pena, kamera, dan mikrofon kalian, perjuangan rakyat Papua bergema ke seluruh penjuru negeri.
Saudara-saudaraku,
Sebelas bulan lamanya kita menempuh jalan ini.
Relawan, dengan peluh yang tak pernah berhenti.
Tim hukum, dengan mata yang tak pernah tidur.
Tim doa, dengan bibir yang tak pernah alpa menyebut nama kita di hadapan Tuhan.
Merekalah alasan kita masih berdiri hari ini. Merekalah bukti bahwa perjuangan ini bukan milik satu orang, tapi milik semua. Milik rakyat yang berdoa, yang bekerja, yang berkorban, agar suara mereka tidak hilang dan harapan mereka tetap hidup.
Dan dari semua itu, izinkan saya memberi penghormatan khusus kepada Tim Doa. Selama sebelas bulan, setiap hari tanpa henti, kalian menyalakan api iman dan pengharapan. Tanpa doa, mungkin langkah ini sudah lama runtuh. Tetapi karena doa, perjuangan ini tetap berdiri, tetap kokoh, hingga hari ini.
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada para simpatisan. Mungkin kalian tidak pernah hadir di rapat. Mungkin nama kalian tidak tercatat dalam struktur tim. Tapi saya tahu, diam-diam kalian ikut berdoa, ikut memilih dengan hati nurani. Kalian adalah bagian yang tak terlihat, tapi nyata. Tak terlihat di meja rapat, tapi hadir di bilik suara. Tak disebut dalam daftar, tapi terhitung dalam setiap suara yang kita raih. Dan karena kalian, perjuangan ini mendapat napas, mendapat kekuatan, mendapat harapan.
Kepada para netizen, Anak-anak muda yang setia menjaga narasi kebenaran di dunia maya, saya ucapkan terima kasih. Di tengah gempuran berita bohong dan propaganda yang menyesatkan, kalian tetap berdiri menyebarkan kabar yang benar, menguatkan semangat, dan menyuarakan harapan rakyat. Jangan pernah anggap kecil peranmu, karena di zaman ini, perjuangan juga terjadi di layar ponsel dan di dunia digital. Namun saya juga berpesan: Stop dengan ejekan di WA group, TikTok, Facebook, dan media sosial pada hari ini. Jangan ejek tanah ini, jangan ejek martabat orang Papua.
Kepada para relawan Kaos kalian mungkin lusuh, sandal kalian mungkin tipis, tapi semangat kalia tak pernah berhenti. Keringat kalian adalah tinta sejarah. Langkah kalian adalah jejak perjuangan. Kalianlah wajah sejati dari rakyat yang berjuang.
Perjuangan sebelas bulan ini tidak hanya tercatat dalam dokumen politik, tapi juga terukir dalam hati rakyat. Kita melihat mama-mama Papua yang menyiapkan makanan sederhana bagi relawan, meski dapurnya sendiri penuh kekurangan. Kita melihat anak-anak muda, dengan motor tuanya, berkeliling kampung membawa pesan perjuangan, tanpa peduli hujan atau panas. Kita melihat orang-orang tua yang renta, duduk di rumahnya, berdoa dalam kesunyian malam.
Semua itu adalah bukti: demokrasi sejati lahir bukan dari istana megah, tapi dari bawah. Lahir dari rakyat. Lahir dari hati yang tulus. Dan itulah kekuatan kita!
Saudara-saudara yang saya sayangi, Hari ini saya berdiri bukan untuk memperdebatkan lagi keputusan KPU. Biarlah itu lewat bersama angin sejarah. Saya tidak menoleh ke belakang. Kita tidak lagi menghitung luka, karena yang lebih penting adalah menjaga harapan. Kita tidak lagi mengulang cerita yang melukai hati, karena kini kita melangkah dengan satu tujuan: menjemput kebenaran di Mahkamah Konstitusi.
Kita semua melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana suara rakyat diperlakukan semena-mena. Angka-angka dihapus dengan Tipeks, seakan suara rakyat bisa dihapus begitu saja dengan sebotol cairan putih. Tetapi kita tahu, suara rakyat bukan angka di atas kertas. Suara rakyat adalah denyut hati, napas, dan harapan. Cairan putih itu mungkin bisa menutup tinta, tapi tidak pernah bisa menghapus nurani. Sama seperti sungai yang deras, meski alirannya coba ditutup, air akan mencari jalan. Begitu pula kebenaran. Ia mungkin tertahan sebentar, tapi pada akhirnya ia akan sampai juga ke muara keadilan.
Karena itu saya ingin menyampaikan pesan kepada penyelenggara pemilu, kepada KPU Papua: Beranilah menyatakan kebenaran! Terlalu banyak bukti kecurangan dalam proses PSU.
Tuhan tidak akan membiarkan apa yang kamu lakukan hari ini. Ingat, apa yang kamu lakukan akan ditanggung akibatnya oleh anak cucumu di atas tanah ini. Apa yang ditabur, itulah yang akan dituai, cepat atau lambat.
Saudaraku, mari kita melihat fakta: Hampir seluruh kekuatan politik besar berdiri di belakang mereka. Tapi setelah semua suara dihitung, apa hasilnya? Selisihnya hanya 0,81 persen. Sementara kita, hanya bertumpu pada dua kaki, yaitu kaki banteng yang kokoh, dan kaki sahabat seperjalanan yang setia, namun kita mampu berdiri tegak, melangkah jauh, dan mendekat sejauh ini.
Apalah artinya Benhur Tomi Mano dan Costan Karma, Apalah artinya dua partai, Jika bukan Tuhan yang bekerja, Jika bukan rakyat yang bersuara, Tak mungkin kita berdiri sejajar menghadapi kekuatan sebesar itu.
Saya juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, Terutama kepada Menteri Dalam Negeri yang telah memberi perhatian kepada Papua. Kepada Kapolri dan Kapolda Papua, kita tahu di lapangan ada dinamika yang menimbulkan luka di hati Rakyat. Tetapi kita juga tahu, masih banyak aparat yang berdiri di sisi rakyat dengan jujur. Kepada mereka, saya angkat hormat. Karena hanya dengan aparat yang benar-benar berdiri di sisi rakyat, demokrasi bisa tetap tegak.
Kepada para Bupati dan Wali Kota di Papua, yang mampu menjaga wilayahnya agar rakyat bisa menyalurkan hak pilih dengan damai, saya juga menyampaikan rasa hormat dan terimakasih
Saudara-saudaraku, Saya, Benhur Tomi Mano, dan saudara saya Constan Karma, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua 2025–2029, menegaskan komitmen kuat kami berdua dalam mendukung berbagai Program Strategis Nasional (PSN) dan program-program berbasis kerakyatan demi mewujudkan masyarakat Papua yang sejahtera, berdaya saing, dan berkeadilan.
Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut adalah dukungan penuh terhadap Program Strategis Nasional yang tengah dijalankan pemerintah pusat di Tanah Papua, khususnya dalam bidang infrastruktur, konektivitas, ketahanan pangan, dan digitalisasi layanan publik. Kami meyakini percepatan pelaksanaan PSN akan membuka aksesibilitas, menurunkan biaya logistik antarwilayah, dan memperkuat fondasi pembangunan ekonomi di seluruh penjuru Papua dari pesisir hingga pegunungan.
Lebih lanjut, kami juga memberikan perhatian khusus terhadap penguatan ekonomi lokal melalui dukungan terhadap program Koperasi Merah Putih. Melalui koperasi berbasis kampung yang tersebar di pelosok Papua, kami bertekad menggerakkan ekonomi rakyat dari bawah, menghidupkan kembali semangat gotong royong, dan menjadikan koperasi sebagai alat kedaulatan ekonomi masyarakat adat. Koperasi Merah Putih tidak hanya diberdayakan secara modal dan manajerial, tetapi juga difasilitasi untuk terhubung dengan pasar regional dan nasional secara digital.
Dalam sektor sosial dan pendidikan, kami mendukung kebijakan terobosan berupa program Makan Bergizi Gratis bagi anak-anak usia sekolah, khususnya di daerah pedalaman dan terpencil. Program ini bukan sekadar pemberian makanan, tetapi intervensi nyata untuk menurunkan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, dan membangun generasi Papua yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Sebagai wujud perhatian terhadap akses pendidikan berkualitas, kami juga mendukung percepatan pembangunan Sekolah Rakyat, Sekolah Unggul Garuda, dan Sekolah Unggul Garuda Transformasi di berbagai wilayah strategis Papua. Sekolah-sekolah ini akan menjadi model pendidikan unggulan yang inklusif, mempersatukan anak-anak dari berbagai latar belakang, serta mengedepankan semangat kebangsaan, toleransi, dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Dengan semangat Papua Maju, Mandiri, dan Berbudaya, kami siap menghadirkan visi kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, mendorong kolaborasi antara pusat dan daerah, serta memastikan bahwa tak satu pun anak bangsa di Papua tertinggal dalam arus kemajuan.
Saudara-saudaraku, Banteng boleh disakiti, boleh ditekan, tetapi banteng tidak pernah menyerah. Merah di tubuhnya bukan hanya warna, tetapi simbol darah rakyat yang rela berkorban demi keadilan. Dan di sisi kita ada PKN, sahabat seperjalanan, rumah baru yang berani menyalakan api perlawanan. Bersama, kita membuktikan bahwa politik bukan hanya soal kursi, tapi soal keberanian menjaga masa depan.
Perjuangan kita bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi gubernur, tapi soal siapa yang menjaga martabat rakyat Papua.
Tentang generasi mendatang yang berhak hidup dalam demokrasi yang jujur, tanpa tipu daya. Kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh dengan pelajaran buruk bahwa suara bisa dihapus dengan Tipeks. Kita ingin mereka belajar bahwa kebenaran mungkin tertunda, tetapi tidak pernah kalah. Karena itu, perjuangan ini kita jalani bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Papua yang lebih bermartabat, dan untuk Indonesia yang lebih adil.
Dalam perjalanan ini, mungkin ada kata-kata keras yang keluar dari mulut kita terhadap aparat. Tapi saya ingin tegaskan di sini: itu bukan ditujukan kepada institusi, melainkan kepada oknum-oknum yang menyalahgunakan seragamnya. Kita tahu, masih banyak polisi yang baik. Masih banyak aparat yang berdiri di jalanan, menjaga TPS, mengatur lalu lintas, dan mengawal rakyat dengan hati nurani. Kepada mereka, saya angkat hormat. Karena mereka membuktikan, seragam itu bukan sekadar kain, tetapi lambang pengabdian.
Begitu pula kepada TNI. Kita patut berterima kasih karena TNI telah menjaga netralitasnya. Tentara kita tetap berdiri sebagai pengawal bangsa, bukan pengawal kepentingan sesaat. Netralitas TNI adalah napas segar bagi demokrasi di tanah Papua, dan rakyat melihat serta menghargainya.
Karena itu, saya ingin menegaskan: perjuangan kita ini bukan untuk melawan aparat. Perjuangan kita adalah untuk bersama-sama menjaga marwah demokrasi. Dan tanpa aparat yang baik, mustahil demokrasi ini bisa terjaga.
Mari kita tetap bersatu. Mari kita kawal proses hukum ini dengan doa, dengan hati yang teguh, dan dengan keberanian. Kita tidak akan pernah mundur. Karena selama merah banteng masih berkibar, selama doa masih dipanjatkan, selama rakyat masih berdiri teguh, perjuangan ini tidak akan padam.
Apalah arti kami tanpa rakyat, apalah arti partai tanpa doa. Tetapi bersama rakyat dan Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi Papua Dari rakyat kita datang, bersama rakyat kita berjuang, dan untuk rakyat kita akan menang!
Salam perjuangan!
Hidup rakyat Papua!
Hidup demokrasi Indonesia!
DR.DRS. BENHUR TOMI MANO., MM (Calon Gubernur Papua)
Drh., COSTANT KARMA (Calon Wakil Gubernur Papua)
Merdeka !!!!!
