Reses di Malteng, Legislator DPRD Maluku Ini Soroti Soal Banjir Langganan

Allan Lohy Komisi III DPRD Mal
Anggota Komisi III DPRD Maluku, Allan Lohy / Foto : Ist

Koreri.com, Ambon – Anggota Komisi III DPRD Maluku Allan Lohy telah melakukan reses di Daerah Pemilihannya yaitu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) beberapa waktu lalu.

Ia mengantongi sejumlah aspirasi yang kemudian disorotinya yaitu persoalan banjir langganan yang kerap melanda sejumlah wilayah di kabupaten itu khususnya di kawasan Waru, TNS, dan Waipia.

Dikatakan Legislator muda ini, banjir yang terjadi hampir setiap tahun itu disebabkan luapan Kali Tone, sehingga dibutuhkan penanganan serius berupa pembangunan dam pengalihan aliran sungai serta normalisasi kali.

“Lokasi sudah kami lihat langsung. Daerah Waru, TNS, dan Waipia memang sangat terdampak banjir dari Kali Tone. Ini butuh dam untuk pengalihan kali dan normalisasi sungai. Itu yang paling penting,” ungkapnya kepada wartawan di ruang Fraksi Gerindra DPRD Maluku Karang Panjang Ambon, Rabu (7/1/2026).

Ia mengatakan, hasil reses tersebut akan segera disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku untuk ditindaklanjuti.

Selain persoalan banjir, Alan juga mengungkapkan aspirasi masyarakat di wilayah tersebut relatif tidak terlalu banyak. Disamping pembangunan jalan, juga masyarakat menyoroti penurunan kondisi ekonomi, kebutuhan jaminan kesehatan, serta program rumah subsidi.

“Masih banyak rumah kumuh yang perlu diselesaikan. Rumah subsidi menjadi kebutuhan utama masyarakat di sana,” bebernya.

Saat ditanya mengenai aspirasi untuk tahun anggaran 2026, Alan menjelaskan bahwa sebagian usulan kemungkinan baru bisa dikondisikan pada tahun anggaran berikutnya, karena keterbatasan serapan program pokok-pokok pikiran (pokir).

Ia juga menyebutkan adanya aspirasi lain yang disampaikan masyarakat di beberapa wilayah seperti, pembangunan jalan di Messa TNS dan Tana Nahu, serta keluhan masyarakat di Desa Way terkait kondisi jalan.

Sementara di wilayah Hatu Pulau Ambon, masyarakat mengusulkan pembangunan talud penahan ombak.

“Yang paling signifikan tetap dampak banjir dari Kali Tone. Beberapa kampung di situ terdampak parah dan ini memang bencana tahunan,” sambungnya.

Alan menambahkan, pihaknya telah melakukan rapat dan menyampaikan aspirasi tersebut secara lisan kepada BWS Maluku agar dapat dimasukkan dalam master plan pembangunan dam.

“Respon BWS baik, mereka akan kaji dan kemungkinan turun lapangan. Untuk sementara, normalisasi kali dulu. Aspirasi ini juga sudah kami sampaikan ke Kementerian PUPR di Jakarta,” pungkasnya.

JFL

Exit mobile version