Tak Bantah Penumpukan Pasien, Direktur Sele Be Solu Beberkan Sejumlah Kendala

Direkrut RSUD Sele Be Solu Kota Sorong drg Susi Jitmau,MPA didampingi kasie pelayanan medis Maria Kandam,S.Sit,Ners dan Kepala Instalasi Rawat Inap Zugi Kasiani,S.Kep. Ners/foto: KENN
Direkrut RSUD Sele Be Solu Kota Sorong drg Susi Jitmau,MPA didampingi kasie pelayanan medis Maria Kandam,S.Sit,Ners dan Kepala Instalasi Rawat Inap Zugi Kasiani,S.Kep. Ners/foto: KENN

Koreri.com, Sorong– Terkait hasil inspeksi mendadak (Sidak) lintas komisi Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sorong di RSUD Sele Be Solu, Rabu (14/1/2026) mendapat tanggapan positif dari pimpinan RSUD setempat.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Sele Be Solu drg. Susi Jitmau saat memberikan keterangan persnya kepada wartawan, Kamis (15/1/2026) membenarkan sejumlah pasien yang dirawat di IGD tidak mendapatkan tempat tidur dan terpaksa dirawat dalam posisi duduk di kursi.

Namun drg Susi menjelaskan alasan mendasar sehingga pihaknya menerima pasien yang datang meski sudah melebihi kapasitasi ruangan.

“kami menjalankan arahan dan komitmen dari pimpinan bahwa rumah sakit tidak boleh menolak pasien dalam kondisi apa pun. Setiap pasien yang datang wajib diterima dan dilayani terlebih dahulu,” ucap direktur RSUD kepada awak media.

Dikatakannya bahwa petugas IGD RSUD Sele Be Solu telah menyampaikan secara terbuka kepada pasien dan keluarga terkait kondisi rumah sakit yang sedang penuh, selanjutnya berkomunikasi dan meminta kesediaan pasien untuk sementara dirawat dengan kondisi terbatas, termasuk dirawat sambil duduk, sampai tempat tidur tersedia.

“Jadi proses komunikasi sudah dilakukan dan berdasarkan persetujuan pasien, atas upaya tersebut, saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim IGD yang telah berusaha maksimal memberikan pelayanan kepada pasien dalam segala keterbatasan yang ada,” sebutnya.

Terkait dengan penyebab terjadinya penumpukan pasien di IGD dan belum masuk ke ruang rawat inap, pimpinan rumah sakit pemerintah daerah ini menjelaskan bahwa, daya tampung tempat tidur di Rumah Sakit Sele Be Solu saat ini berjumlah 154 tempat tidur.

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Sorong yang berdasarkan data terakhir berjumlah sekitar 302.450 jiwa, maka menurut rasio perhitungan WHO—yaitu 1 tempat tidur per 1.000 penduduk—Kota Sorong idealnya membutuhkan sekitar 302 tempat tidur.

Apabila menggunakan standar nasional, yaitu 1,3 sampai 1,5 tempat tidur per 1.000 penduduk, maka kebutuhan ideal tempat tidur di Kota Sorong berkisar antara 390 hingga 450 tempat tidur.

“Namun perlu diketahui bahwa di wilayah Kota Sorong terdapat 7 rumah sakit, terdiri dari 1 rumah sakit milik pemerintah dan 6 rumah sakit swasta. Berdasarkan data tahun 2024, enam rumah sakit swasta tersebut memiliki daya tampung sekitar 350 tempat tidur. Jika ditambah dengan 154 tempat tidur di RS Sele Be Solu, maka total ketersediaan tempat tidur di Kota Sorong mencapai sekitar 500 tempat tidur,” ujarnya.

Artinya lanjut Susi JItmau, secara jumlah kapasitas tempat tidur di Kota Sorong sebenarnya sudah melebihi standar ideal yang ditetapkan baik oleh WHO maupun standar nasional.

“Dari kondisi ini kemudian muncul pertanyaan mengapa RS Sele Be Solu tetap mengalami penumpukan pasien? Seharusnya pasien dapat terdistribusi secara merata ke seluruh rumah sakit yang ada di Kota Sorong,” ucapnya dengan nada tanya.

Salah satu faktor yang perlu dipahami adalah bahwa masyarakat cenderung memilih RS Sele Be Solu karena berbagai alasan, di antaranya ketersediaan layanan IGD yang selalu siap, tenaga medis yang lengkap, serta keberadaan dokter spesialis yang lebih konsisten standby.

Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa penumpukan terjadi karena mutu pelayanan yang buruk, justru sebaliknya, masyarakat mempercayakan pelayanannya kepada RSUD Sele Be Solu.

Terkait informasi mengenai fasilitas tertentu yang disebutkan belum tersedia, Direktur Sele Be Solu menyampaikan bahwa kondisi dan kebutuhan setiap pasien berbeda-beda, termasuk dalam penggunaan alat tertentu seperti pendingin ruangan atau fasilitas lainnya yang juga mempertimbangkan kondisi medis pasien.

Namun demikian, Dirinya akan memerintahkan agar ke depan fasilitas-fasilitas pendukung tersebut tetap disiapkan semaksimal mungkin, Selanjutnya, perlu ditegaskan terkait lambatnya perputaran pasien dari IGD ke ruang rawat inap dimana secara regulasi, rumah sakit diwajibkan untuk memisahkan ruang perawatan berdasarkan kategori, antara lain pasien laki-laki dan perempuan, pasien dewasa dan anak, pasien penyakit menular dan non-menular.

Kondisi inilah yang kadang menyebabkan pasien di IGD belum dapat langsung ditempatkan ke ruang rawat inap karena belum tersedianya ruang yang sesuai dengan klasifikasi pasien tersebut.

“Namun demikian, saya akui bahwa ada kemungkinan kelalaian internal, di mana masih terdapat petugas atau penanggung jawab ruangan yang tidak menjalankan komitmen perputaran pasien secara optimal, sehingga ada tempat tidur yang kosong namun belum dimanfaatkan,” sahutnya.

Berdasarkan temuan DPR Kota Sorong, langkah-langkah yang akan dilakukan manajemen RSUD Sele Be Solu adalah, terus berupaya menambah jumlah tempat tidur.

“Sejak saya diberikan amanah sebagai Direktur pada Juni 2022, kami melihat langsung tingginya angka penumpukan pasien. Pada tahun 2023 kami mengajukan advokasi penambahan gedung rawat inap. Gedung tersebut selesai dibangun pada tahun 2024, dan pada tahun 2025 kami melengkapi sarana prasarana termasuk tempat tidur dan peralatan medis lainnya,” urainya.

Lanjutnya, di tahun 2026 proses finishing sedang berjalan dan bersiap untuk melakukan launching penambahan layanan tersebut. ditargetkan, penambahan 64 tempat tidur baru segera dioperasionalkan. Dengan dukungan rekrutmen tenaga dan kelengkapan fasilitas.

“Kami menargetkan launching paling lambat akhir Januari hingga awal Februari, harapannya Tuhan memuluskan rencana ini agar kapasitas pelayanan RS Sele Be Solu dapat segera meningkat dan mengurangi penumpukan pasien di IGD,” harapnya.

Ditambahkan dokter gigi asli papua ini bahwa langkah selanjutnya akan melakukan pembenahan dan evaluasi tegas terhadap kepala-kepala ruangan yang tidak disiplin, khususnya yang tidak memperhatikan perputaran pasien dan membiarkan tempat tidur kosong.

“Terhadap oknum yang masih “nakal”, kami tidak akan ragu untuk mengambil langkah penertiban dan penegakan disiplin,” pungkasnya.

KENN

Exit mobile version