Koreri.com, Ambon – Di momen Dies Natalis ke 64 tahun, DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Ambon memilih jalan berbeda.
Tak ingin hajatan itu berlalu sebagai seremoni belaka, mereka turun langsung ke lapangan, menggelar aksi nyata dari jalan santai hingga membersihkan pesisir Negeri Rumah Tiga, Jumat (17/4/2026).
Langkah ini menjadi pesan tegas bahwa perayaan organisasi kepemudaan tak harus berhenti di panggung dan spanduk, tetapi menyentuh langsung persoalan nyata di tengah masyarakat.
Kegiatan diawali dengan jalan santai dari kawasan Monumen Dr. J. Leimena, sebelum rombongan bergerak menuju RT 02/RW 03 kawasan Pohon Mangga, Negeri Rumah Tiga. Di lokasi pesisir tersebut, puluhan peserta langsung menyisir pantai, memungut sampah, dan membersihkan area yang selama ini terdampak pencemaran.
Aksi ini tak berjalan sendiri. GAMKI menggandeng mahasiswa KKN Gelombang II Angkatan LII Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, hingga jajaran Polsek Teluk Ambon. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa kepedulian lingkungan membutuhkan kerja bersama, bukan aksi individu.
Ketua DPC GAMKI Kota Ambon, Desy Kosita Hallauw, menegaskan bahwa momentum Dies Natalis harus menjadi titik balik peran pemuda di tengah masyarakat.
“Ini bukan sekadar perayaan. Ini komitmen kami bahwa pemuda harus hadir dengan aksi, bukan hanya wacana. Kami ingin membangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan,” tegasnya.
Menurut Desy, persoalan sampah terutama di wilayah pesisir bukan lagi isu kecil yang bisa diabaikan. Jika tidak ditangani bersama, dampaknya akan terus meluas, merusak ekosistem, bahkan mengancam masa depan kota.
Karena itu, ia menilai aksi sederhana seperti bersih pantai memiliki makna besar: membangun kebiasaan, menumbuhkan kepedulian, dan menggerakkan masyarakat untuk ikut terlibat.
“Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi? Dari hal kecil seperti ini, kita ingin dorong perubahan besar, termasuk mendukung Ambon meraih Adipura,” tambahnya.
Lebih dari sekadar kegiatan simbolik, GAMKI ingin menjadikan gerakan ini sebagai budaya. Desy berharap, semangat gotong royong yang terlihat dalam kegiatan ini tidak berhenti di momen Dies Natalis, tetapi terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, langkah GAMKI Ambon ini menjadi pengingat: perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari aksi nyata dari tangan-tangan yang mau bergerak, dan dari pemuda yang memilih untuk tidak tinggal diam.
RLS
