Koreri.com, Yogyakarta (31/12) – Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa ada lima provinsi di Indonesia yang rawan terhadap penggunaan isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) dalam kampanye Pemilihan Kepala Daerah serentak pada 2018.
“Sementara (pertama) di Papua dan kedua di Jawa Barat,” jelas Tjahjo disela kehadirannya di resepsi pernikahan putri Menteri Sekretaris Negara di Jogja Expo Centar, Yogyakarta, Sabtu.
Menurut Tjahjo, Papua memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi dibanding daerah lain karena masyarakatnya tidak semuanya paham dengan Pemilu sehingga sosialisasi harus dilakukan secara lebih intensif.
Setelah Papua, ada Jawa Barat yang dianggap berada di posisi kedua tingkat kerawanannya karena merupakan satu-satunya daerah dengan jumlah pemilih terpadat di Indonesia.
Seluruh partai politik berusaha untuk mendapatkan suara maksimal di daerah itu karena kepadatan penduduk yang dimilikinya.
Selain kedua daerah tersebut, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Barat masuk juga dalam kategori daerah yang memiliki kerawanan tinggi.
Saat ini pemerintah bersama Kepolisian, TNI serta Badan Intelijen Negara (BIN) telah melakukan pengamatan dan deteksi dini secara lebih dalam dengan mengacu pada data tingkat kerawanan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Saya optimis lancar dari sisi Pilkada-nya. Hasil evaluasi Pilkada selanjutnya akan menentukan pola pada pileg dan pilpres,” tegas Tjahjo.
Ia berharap pihak keamanan terutama dari Kepolisian untuk menindak tegas setiap pihak yang menggunakan isu SARA dalam kampanye yang akan digelar.
Ia juga meminta agar masyarakat tidak menggunakan SARA, fitnah dan ujaran kebencian dan lebih aktif melaporkan dengan bukti adanya penggunaan isu-isu itu.
“Memang sulit untuk mencegah penggunaan isu SARA. akan tetapi harus ada masyarakat yang mengadukan ke kepolisian,” tegasnya.
MP-RR
