Koreri.com, Biak – BKKBN Provinsi Papua Biro Ketahanan Remaja (BKR) menggelar Workshop Tentang Kita bagi Pengelola Pusat Informasi dan Konseling (PIK) di Kabupaten Biak Numfor.
Giat dalam rangka penguatan kelompok kegiatan BKR dan PIK Remaja untuk Edukasi Kespro dan Gizi bagi Remaja bertempat di ruang pertemuan Swiss-Belhotel Cendrawasih Biak, Selasa (7/3/2023).
Plh Kepala DP3AK Biak Numfor Rita Sombuk dalam membacakan sambutan tertulis mengatakan, upaya-upaya yang dilakukan oleh suatu kelompok sekolah/lnstansi/Perusahaan untuk mengubah total atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik dengan tidak mengabaikan tujuan awal yang berorientasi keuntungan /kebaikan atau dikenal dengan istilah REBRANDING yang dilakukan oleh BKKBN bukan hanya sekedar merubah logo baru dan tagline tetapi juga merubah pola pendekatan, strategi dan kegiatan-kegiatan agar lebih relevan dengan kebutuhan dan gaya hidup generasi milenial dan generasi Z.
“Saya ingatkan kepada seluruh peserta kegiatan tentang pesan TUHAN yang memerintahkan manusia untuk takut jika generasi sesudahnya atau yang ditinggalkan nantinya itu menjadi generasi yang lemah. Artinya, manusia saat ini diperintahkan untuk serius menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM, red) berkualitas setelahnya agar dapat berkompetisi dikehidupan masa depan,” ungkapnya saat membacakan sambutan Kepala DP3AKB.
Ditambahkan, masalah yang muncul saat ini di Indonesia adalah Stunting. Saat ini dan kedepan dunia Industri membutuhkan SDM yang profesional, berdaya saing dan inovasi tinggi untuk dapat bertarung di level dunia.
“Stunting yang merupakan gangguan perkembangan fisik dan otak anak disinyalir kuat menjadi salah satu ganjalan, kerikil serta penghambat untuk menciptakan generasi emas yang berkualitas,” tuturnya.
Denga demikian, kata kuncinya adalah menyiapkan remaja, bagaimana remaja saat ini nantinya ketika berkeluarga mampu melahirkan anak-anak yang sehat bebas Stunting sehingga ketika menjadi SDM produktif mampu mempunyai daya saing tinggi.
“BKR dan PIK-Remaja sebagai wadan aktivitas remaja saat ini dan seterusnya dikelola secara penuh melibatkan remaja di dalamnya, bersifat partisipatif, salah satu bentuknya adalah melalui Pendidik dan Konselor sebaya,” katanya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan para konselor sebaya ini, sekaligus juga mengenalkan pedoman baru yaitu (Tentang Kita), Maka modul Tentang Kita, di-Workshop-kan.
Modul (Tentang Kita) ini merupakan pegangan pedoman para konselor sebayaya PIK Remaja yang berperan untuk mengedukasi para remaja terkait dengan kesehatan reproduksi dan Perencanaan kehidupan masa depan.
Diharapkan nantinya, para konselor sebaya PIK Remaja ini mampu menjadi teman diskusi sekaligus curhat bagi remaja-remaja disekitarnya.
“Saya harapkan para peserta, yang terdiri dari Pengelola Bina Ketahanan Remaja (BKR) dan PIK-Remaja dapat mengikuti kegiatan dengan baik, memahami materi Tentang Kita ,dan Mendiskusikan serta mencari solusi dari permasalahan yang ada dilingkungan remaja,” pungkasnya.
Sementara itu Alosius Karubaba Kepala Pokja Biro Ketahanan Remaja BKKBN ketika ditemui media ini d lokasi kegiatan menjelaskan, mengawali 2020, BKKBN hadir dengan cara-cara baru karena ingin selalu relevan dengan kelompok sasaran generasi yang selalu berubah sesuai dinamika zaman.
“Rebranding menjadi keharusan dilakukan karena target group BKKBN saat ini berbeda dengan target group ketika lembaga ini didirikan. Target group BKKEN saat ini adalah para Milenial dan Generasi Z. Rebranding BKKBN tidak sekadar mengubah logo dan tagline, tetapl juga pendekatan, strategi, dan kegiatän-kegiatan yang dilakukan BKKBN pun harus selalu relevan dengan kebutuhan dan gaya hidup Generasi Milenial dan Generasi Z,” tuturnya.
Menurut Karubaba, Program Ketahanan Remaja atau Program Generasi Berencana (Genre) menjadi salah satu program yang dituntut untuk melakukan penyesuaian karena target group dari program ini adalah remaja yang tidak lain merupakan Generasi Z.
Program Ketahanan Remaja harus didesain dan dilaksanakan berdasarkan prinsip Pelibatan Remaja secara Bermakna. Remaja harus benar-benar menjadi subjek, bukan hanya aksesoris, pelengkap, dan objek sebuah program. Mereka harus terlibat di setiap tahapan program: mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi.
“Remaja tokoh kunci yang akan menentukan hidup-matinya organisasi PIK Remaja. Penggerak utama dari seorang Pendidik Sebaya dan Konselor sebaya adalah seberapa besar hatinya tersentuh oleh realitas tentang perkembangan, karakteristik, serta permasalahan/problematika yang dihadapi oleh remaja,” ucapnya.
Dikatakan pula, harus tertanam kesadaran di hatinya bahwa: teman sebayaku membutuhkanku. Mendengarkan, perhatian, sentuhan dan edukasi.
“Dan saran yang diberikan oleh seorang Peran Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya kepada remaja teman sebayanya akan menyelamatkan remaja-remaja Indonesia dari ketidaktahuan, kesalahpahaman, keputusasaan dan jeratan perilaku berisiko yang mengancam masa depannya, bahkan nyawanya,” tukasnya.
Hadir pada kegiatan workshop ini Perwakilan BKKBN, Esalon 3 dan 4 dilingkungan DP3AKB dikabupaten Biak Numfor serta peserta workshop dan tamu undangan lainnya.
HDK
