Terobos Cuaca Buruk, BTM Sapa Masyarakat se-Distrik Kepulauan Aruri di Sowek

BTM Kampung Sowek

Koreri.com, Supiori – Dalam kondisi cuaca laut yang buruk dan tak bersahabat, Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM), tetap melanjutkan perjalanannya menuju Pulau Sowek, Distrik Kepulauan Aruri, Kabupaten Supiori, Sabtu (19/7/2025).

Keputusan ini membuktikan komitmennya untuk hadir langsung dan menyapa masyarakat di wilayah kepulauan yang kerap terpinggirkan dari perhatian pembangunan.

Dengan menumpangi kapal cepat Marina 3, BTM bersama rombongan menyusuri perairan yang tengah diguncang gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan lebat, dalam perjalanan menuju tiga kampung yang tergabung dalam wilayah Sowek: Kampung Mbruwandi, Rayori, dan Manggoswan.

Perjalanan laut yang memakan waktu lebih dari dua jam itu bukan hal mudah. Di atas kapal, berbagai reaksi muncul dari anggota rombongan.

Sebagian terlihat tenang, lainnya memilih menyeruput kopi panas di kantin kapal untuk meredakan mual akibat gelombang.

Sementara BTM, didampingi istri tercinta Kristhina Luluporo Mano dan putra mereka Alfa Mano, Ketua Komisi IV DPR Papua Joni Y. Betaubun bersama tim doa dan pendukung inti, memilih beristirahat di dek bawah kapal sambil menunggu kapal menepi di dermaga tujuan.

Namun satu hal yang tidak pernah padam adalah semangat BTM. Ia tetap melangkah tegak untuk menyapa masyarakat yang telah lama menantikan kehadirannya.

Ia menyadari bahwa pemimpin sejati harus berani hadir dalam situasi apapun, dan bukan hanya tampil di tempat-tempat yang mudah dijangkau.

“Saya ingin melihat dan merasakan langsung apa yang dirasakan masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan. Saya tahu betul, betapa sulitnya mereka mengakses pelayanan dasar hanya dengan perahu Johnson yang seadanya,” tegas BTM.

Menurutnya, persoalan transportasi laut adalah urat nadi kehidupan masyarakat kepulauan. Karena itu, jika dirinya bersama Constant Karma (CK) dipercaya memimpin Provinsi Papua untuk periode 2025–2030, mereka akan memberi perhatian khusus pada pengembangan infrastruktur dan moda transportasi laut, terutama di wilayah-wilayah seperti Supiori, Biak Numfor, Waropen, dan Kepulauan Yapen.

“Transportasi laut bukan hanya tentang mobilitas. Ini soal akses pendidikan, pelayanan kesehatan, distribusi hasil tangkapan nelayan, bahkan menyangkut masa depan ekonomi masyarakat. Ini kebutuhan yang sangat mendasar,” ujar BTM dengan serius.

Ia juga memberi apresiasi kepada kapten kapal Marina 3, Doni, yang berhasil membawa rombongan menyeberangi kepulauan Aruri dengan aman meski cuaca buruk melanda. Ia menyebut bahwa seorang kapten kapal yang mahir dan berpengalaman sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini sebagaimana masyarakat Papua juga membutuhkan pemimpin yang berpengalaman dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Sementara itu, Juru Bicara BTM, Marcel Morin, menyebut bahwa perjalanan ini bukan sekadar kunjungan kampanye biasa. Baginya, ini adalah safari politik penuh makna dan menjadi simbol ketulusan seorang pemimpin yang tak takut menghadapi rintangan demi bisa hadir di tengah masyarakatnya.

“Meski cuaca buruk dan laut bergelombang, BTM tetap bertolak dari Pelabuhan BMG Biak menuju Sowek. Ini adalah bukti nyata dari keberanian dan komitmen seorang Benhur Tomi Mano untuk menjangkau rakyat di pulau-pulau terluar,” ujar Morin.

Dalam kunjungan tersebut, BTM juga menyerap banyak aspirasi masyarakat, terutama menyangkut akses transportasi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar lainnya. Aspirasi-aspirasi tersebut, kata Morin, akan dituangkan dalam program kerja konkret yang masuk dalam visi-misi BTM-CK jika kelak dipercaya memimpin Papua.

“Sebagian besar masyarakat di pulau ini bermata pencaharian sebagai nelayan. Dengan transportasi yang memadai, mereka bisa membawa hasil tangkapan ke pasar lebih cepat dan lebih aman. Itu akan sangat berpengaruh pada penghasilan mereka dan perputaran ekonomi lokal,” tambah Morin.

Kehadiran BTM di Sowek bukan hanya menyapa, tetapi juga menyampaikan pesan penting: bahwa tak ada satu pun wilayah di Papua yang terlalu jauh untuk dijangkau, dan tak ada satu pun masyarakat yang boleh tertinggal dalam gerak pembangunan.

“Cuaca buruk bukan penghalang, melainkan pengingat. Pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian untuk hadir dan mendengar langsung suara rakyat, bahkan di tengah kesulitan,” tutup Morin.

TIM

Exit mobile version