Hoya Bukan Zona Merah! Tokoh Muda Minta Pemkab Mimika-PTFI Buka Christmas Flight

Lapter Distrik Hoya
Suasana masyarakat di lapangan terbang Distrik Hoya, Kabupaten Mimika, Papua Tengah / Foto : Tenus Kum

Koreri.com, Timika – Perwakilan intelektual dan tokoh pemuda Distrik Hoya, Tenus Kum meminta Pemerintah Kabupaten Mimika dan Manajemen PT. Freeport Indonesia (PTFI) untuk membuka kembali layanan Christmas Flight menuju Distrik Hoya yang sudah tiga hingga empat tahun terakhir dihentikan dengan alasan “zona merah”.

Permintaan tersebut disampaikan menjelang perayaan Natal tahun 2025.

Menurut Tenus, setiap kali memasuki bulan Desember, masyarakat Hoya yang ingin pulang kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga selalu terbentur status keamanan tersebut.

Namun hingga kini, mereka tidak pernah memperoleh penjelasan resmi mengenai alasan penetapan zona merah.

“Setiap tahun kami tanya, tapi tidak pernah ada jawaban yang jelas. Kami ingin tahu dasar penetapannya apa,” desak Tenus kepada koreri.com melalui sambungan telepon, Rabu (26/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa sepanjang tahun, helikopter Intan Komala tetap melayani kebutuhan sekolah, kesehatan, dan aktivitas masyarakat di Hoya. Namun khusus penerbangan Natal, layanan selalu dihentikan.

“Tahun lalu juga begitu. Dibilang zona merah, masyarakat protes, dan akhirnya mereka pakai heli besar mendarat di area pembangunan airstrip. Tapi itu jauh dari kampung,” tambahnya.

Perwakilan intelektual dan tokoh pemuda Distrik Hoya, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Tenus Kum / Foto: Dok Pribadi

Tenus menegaskan bahwa kondisi keamanan di Distrik Hoya saat ini aman dan kondusif.

Hal itu juga ditegaskan tokoh gereja, Wakil Klasis Jerinus Uamang, melalui sebuah video pernyataan dari kampung yang belakangan beredar di grup WhatsApp masyarakat.

“Tokoh gereja di atas juga pastikan Hoya aman. Masyarakat berharap pelayanan penerbangan tetap berjalan supaya kami bisa Natal bersama keluarga,” ujar Tenus mengutip pernyataan tokoh gereja Jerinus Uamang.

Tenus meminta agar Pemkab Mimika khususnya Dinas Perhubungan ikut turun tangan berkoordinasi dengan manajemen Freeport maupun operator helikopter agar layanan penerbangan ke Hoya dapat dibuka kembali.

“Kami sangat membutuhkan transportasi, bukan hanya untuk Natal, tapi juga kesehatan, sekolah, dan ekonomi. Kami mohon pemerintah memperhatikan masyarakat Hoya,” kata Kum.

Ia berharap dalam waktu dekat kepala distrik dan pihak manajemen PTFI dan pemerintah daerah dalam hal ini dinas perhubungan dapat duduk bersama untuk menyepakati langkah solusi secara sebelum bulan Desember 2025.

Sehingga karyawan dan masyarakat asal Hoya yang berdomisili di Timika dapat kembali merayakan Natal di kampung halaman.

EHO

Exit mobile version