Koreri.com, Tual – Anggota Komisi V DPR RI Saadiah Uluputty menghadiri sekaligus menjadi narasumber (narsum) dalam acara Seminar Kebangsaan yang digelar di Kota Tual, Sabtu, (3/1/2026).
Seminar tersebut bersamaan dengan pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PKS Maluku Tenggara.
Kegiatan ini juga menghadirkan Anis Byarwati, Anggota Komisi XI DPR RI asal Fraksi PKS sebagai narasumber nasional.
Seminar ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat pemahaman kebangsaan sekaligus meneguhkan peran masyarakat dalam menjaga persatuan dan keadilan sosial.
Dalam pemaparannya, Saadiah Uluputty menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan harus hidup dalam praktik sehari-hari, bukan sekadar dipahami secara konseptual.
Ia mengajak peserta seminar yang terdiri dari kader PKS, tokoh masyarakat, pemuda, dan unsur pemerintah daerah untuk menanamkan dan mengamalkan Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Anggota Fraksi PKS DPR RI ini juga menyoroti konteks Maluku sebagai wilayah kepulauan yang memiliki tantangan sekaligus potensi besar.
Menurutnya, laut adalah identitas dan sumber kehidupan masyarakat Maluku, sehingga keadilan pembangunan harus dirasakan hingga wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
“Kebangsaan yang kuat adalah kebangsaan yang adil, yang memastikan tidak ada wilayah dan masyarakat yang tertinggal,” tegas legislator asal Daerah Pemilihan Maluku.
Sementara itu, Anis Byarwati dalam pemaparannya menekankan pentingnya ketahanan ekonomi masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keadilan sosial.
Ia menyampaikan bahwa pembangunan nasional harus dimulai dari penguatan ekonomi keluarga, literasi keuangan, serta kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat kecil, termasuk masyarakat di daerah kepulauan seperti Maluku Tenggara.
Pelaksanaan Seminar Kebangsaan ini dirangkaikan dengan Rakerda PKS Maluku Tenggara, yang menjadi momentum konsolidasi dan perumusan arah kerja politik ke depan.
Saadiah menilai sinergi antara agenda kebangsaan dan kebijakan ekonomi kerakyatan sangat penting agar perjuangan politik benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Selain itu, Saadiah juga memberikan perhatian khusus pada peran pemuda, yang menurutnya harus tampil sebagai penjaga nilai kebangsaan, jembatan antara umat dan negara, serta agen perubahan yang membawa harapan bagi masa depan Maluku dan Indonesia.
Melalui kegiatan ini, ia bersama Anis Byarwati berharap nilai-nilai kebangsaan dan keadilan sosial semakin mengakar di tengah masyarakat, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam membangun Maluku Tenggara yang adil, berdaya, dan berkeadaban.
RLS
