Koreri.com, Jakarta – Optimalisasi dalam proses pembelajaran sesungguhnya memberi keunggulan tersendiri bagi mereka yang mampu memaksimalkan fungsi otaknya secara baik.
Filda Malari S.E., M.Han, CTMP, pendiri dari Indonesia Brain Camp (IBC) adalah salah satu anak Papua yang cukup berprestasi, berhasil mengembangkan metodenya sendiri yang fokus pada proses pembentukan memori jangka panjang.
Seperti diketahui, otak kiri berhubungan erat dengan kemampuan logika, bahasa dan urutan sementara otak kanan bertanggung jawab menangani visualisasi, kreatifitas, pola dan pengenalan bentuk berdasarkan neurosains terbaru.
Filda yang akrab dipanggil Dadu, berhasil mengembangkan metodenya sendiri dan saat ini telah berkembang pesat dan banyak diadopsi beberapa institusi pendidikan di beberapa daerah.
Ia sendiri, menguasai beberapa bahasa asing secara aktif yaitu Bahasa Inggris, Perancis, Mandarin, Jepang, Jerman, Spanyol dan Arab berkat metode yang dikembangkannya itu.
Jika ditelaah secara ilmiah, proses pembentukan memori jangka panjang terjadi melalui mekanisme long-term potentiation (LTP) yaitu penguatan koneksi sinaptik antar neuron ketika stimulasi sensorik dan kognitif terjadi secara berulang.
Penelitian Harvard Center on the Developing Child dan studi dari National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa memori bertahan lebih lama ketika kedua belahan otak diaktifkan secara seimbang.
Proses kerja multisistem otak memicu neuroplasticity, kemampuan otak membentuk jalur saraf baru yang memperkuat retensi memori jangka panjang.
Menurut Alumni SMA Negeri 1 Jayapura, metode yang Ia kembangkan menggabungkan tiga pendekatan utama yakni visual, auditori, dan kinestetik (VAK).
Lanjutnya, pendekatan visual terbukti mengaktifkan area korteks oksipital dan parietal yang berperan dalam pengolahan gambar dan peta konsep, sesuai temuan dalam Journal of Cognitive Neuroscience.
Sehingga, ketika proses belajar menggunakan warna, simbol, atau peta pikiran, hal itu merangsang otak kanan menghasilkan asosiasi kuat yang meningkatkan kemampuan encoding (pengkodean, Red.) memori.
Pendekatan auditori, yang melibatkan ritme, pengulangan verbal, storytelling, dan suara, didukung oleh teori phonological loop dalam model memori kerja Baddeley & Hitch (2017), yang menyatakan bahwa informasi berbasis suara lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang jika diulang dan diberi konteks emosional.
Sementara itu, metode kinestetik mengaktifkan sistem somatosensorik dan motorik, bagian otak yang berkaitan dengan gerak dan pengalaman langsung yang menurut riset Oxford University Press (2020) dapat meningkatkan memori prosedur dan memperkuat jalur neural karena otak mengingat sesuatu lebih kuat ketika tubuh terlibat secara fisik.
Dalam aplikasinya, metode yang dikembangkan oleh Dadu, dapat diaplikasikan tidak hanya pada proses belajar bahasa asing saja, namun bisa diterapkan pada proses belajar pada umumnya, namun saat ini, masih dimanfaatkan sebatas pembelajaran bahasa asing.
Lewat dedikasinya yang tidak kenal lelah dalam mengembangkan metode pembelajaran tersebut, Ia menyebut ini adalah saat yang tepat untuk berkontribusi dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) di tanah kelahirannya, yakni Tanah Papua.
Filda Malari, S.E. M.Han C.T.M.P (Dadu) – Founder Indonesia Brain Camp
Tempat tanggal lahir : Jayapura, 15 Januari 1974
Alamat : Jakarta
Pendidikan:
SD Yapis Jayapura
SMP Negeri 1 Jayapura
SMA Negeri 1 Jayapura
S1 – SE STIE Yapan Surabaya
S2 – Master Pertahanan Unhan
Profil dan Karier:
– Interpreter bahasa Prancis di pasukan perdamaian PBB di Kongo (2008-2009)
– Beasiswa ecole de guerre Prancis 2011
– Military Observer Jordania 2013
– Beasiswa Presiden LPDP 2014
– Konsultan Pendidikan di LPK Azuko Cilegon
– Trainer Brain Development program sekolah Guang Ming Jakarta
– konsultan di Praditya Adhigana Global School Sukabumi
– Pengajar di Sekolah alam Islami Junudul Rohman Cianjur
IBC dapat dilihat di akun IG @indonesiabraincamp
Konten Khusus – Redaksi Koreri
