Koreri.com, Ambon – Momentum peringatan Hari Pattimura kembali menjadi pengingat kuat bagi masyarakat Maluku tentang arti perjuangan, pengorbanan, dan identitas diri sebagai anak negeri para raja.
Legislator DPRD Maluku, Maureen Vivian Haumahu, menegaskan bahwa semangat perjuangan Kapitang Pattimura harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai kekuatan moral dalam memperjuangkan keadilan serta menjaga harga diri masyarakat Maluku.
Menurut politisi Partai Perindo tersebut, perjuangan Pattimura lahir dari perlawanan terhadap ketidakadilan di masa penjajahan dan telah menjadi simbol keberanian rakyat Maluku sepanjang sejarah.
“Dari semangat menyala memperjuangkan ketidakadilan di masa penjajahan, lahirlah semangat yang tidak pernah padam dari negeri raja-raja,” ujar Maureen kepada media ini, Jumat (15/5/2026).
Ia mengatakan, darah perjuangan para Kapitang bukan sekadar bagian dari catatan sejarah, melainkan identitas diri masyarakat Maluku yang harus terus dijaga dan dimaknai secara sadar oleh seluruh generasi.
“Semangat itu harus dijaga tidak padam, seperti api obor Pattimura yang terus menyala dari Gunung Saniri,” katanya.
Maureen menilai, perjuangan yang dibayar dengan darah dan nyawa tidak boleh dimaknai hanya sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, perjuangan harus menjadi refleksi moral untuk melanjutkan nilai keberanian, persatuan, dan keadilan di tengah kehidupan masyarakat saat ini.
“Maka api semangat yang menyala tanpa henti itu akan menjadi pengingat bahwa perjuangan yang dibayar darah dan nyawa adalah perjuangan yang harus dirayakan dengan sadar diri, bukan karena keterpaksaan,” tegasnya.
Maureen juga mengajak generasi muda Maluku agar tidak kehilangan arah perjuangan di tengah perkembangan zaman dan tantangan sosial yang terus berubah.
Menurutnya, semangat Pattimura harus melahirkan kesadaran kolektif bahwa perjuangan demi keadilan membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan ketulusan.
“Dengan sadar diri, bukan karena terdesak. Dengan sadar diri, bukan karena terpaksa. Dengan sadar diri, karena sadar harga yang dibayar untuk bisa memperjuangkan keadilan adalah darah dan nyawa,” ungkapnya.
Dalam refleksinya, Maureen turut menegaskan bahwa nilai perjuangan tidak dapat diukur dengan materi ataupun kepentingan sesaat.
“Seribu rupiah maupun dua puluh juta dan lima puluh juta tidak akan membuat sejarah itu hilang. Setiap sen-nya akan menjadi semangat yang berkobar di tahun-tahun berikutnya,” tutupnya.
Peringatan Hari Pattimura sendiri setiap tahun menjadi momentum penting bagi masyarakat Maluku untuk mengenang jasa Kapitang Pattimura beserta para pejuang Maluku dalam melawan penjajahan serta mempertahankan martabat rakyat dan tanah Maluku.
JFL
