Pemkab Mimika Gelar Apel Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Bencana dan Kemarau

Pemkab Mimika Apel Siaga bencana
Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 berlangsung di Lapangan Upacara Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP 3, Jumat (28/8/2026). Apel dipimpin Bupati Johannes Rettob / Foto : Evan

Koreri.com, Timika – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika memperkuat kesiapan menghadapi potensi bencana dengan menggelar apel pasukan dan peralatan kebencanaan.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh unsur terkait siap bergerak cepat menghadapi kondisi darurat, terutama di tengah musim kemarau yang mulai berdampak di sejumlah wilayah.

Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 digelar di Lapangan Upacara Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP 3, Jumat (28/8/2026).

Apel dipimpin Bupati Johannes Rettob dan diikuti unsur pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, instansi terkait, dunia usaha serta unsur lainnya.

Bupati Johannes mengatakan kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Kesiapan personel, sarana dan peralatan menjadi bagian penting agar penanganan dapat dilakukan secara cepat ketika situasi darurat muncul.

“Kita harus siap siaga. Bencana tidak tahu kapan datangnya, untuk itu kita harus siap selalu,” ujar Johannes.

Menurut dia, penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, instansi terkait, dunia usaha, relawan dan masyarakat harus terus diperkuat.

“Koordinasi harus terus kita bangun sehingga ketika terjadi bencana, semua sudah tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Selain mengantisipasi potensi bencana, Pemkab Mimika kini memberi perhatian khusus terhadap dampak musim kemarau. Sejumlah wilayah mulai menghadapi keterbatasan air dan kesulitan menjalankan aktivitas pertanian maupun perkebunan.

Johannes menyebut kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat di Tembagapura, Distrik Alama dan Distrik Jila. Kekeringan tidak hanya mengganggu ketersediaan air, tetapi juga memengaruhi aktivitas berkebun masyarakat.

“Di wilayah Tembagapura, Alama dan Jila sekarang masyarakat mengalami kesulitan karena musim kemarau. Tidak bisa berkebun dan air juga susah, sehingga kita segera memberikan bantuan bahan makanan kepada mereka,” ungkapnya.

Pemkab Mimika akan terus memantau wilayah yang terdampak dan menyiapkan intervensi sesuai kebutuhan masyarakat. Bantuan bahan makanan menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk membantu warga yang mengalami dampak langsung musim kemarau.

Di sisi lain, kondisi cuaca kering juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian penting dari langkah mitigasi untuk mencegah maupun merespons kebakaran sejak dini.

Melalui apel tersebut, pemerintah daerah memastikan unsur-unsur yang terlibat dalam penanggulangan bencana berada dalam kondisi siap dikerahkan. Kesiapan itu diharapkan tidak berhenti pada apel seremonial, tetapi menjadi bagian dari sistem respons cepat ketika bencana terjadi.

Pemkab Mimika juga mengimbau masyarakat ikut menjaga lingkungan, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta segera melaporkan setiap indikasi bencana kepada pihak berwenang.

Pemerintah daerah menegaskan perlindungan dan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam menghadapi berbagai potensi bencana, sekaligus memperkuat ketahanan Mimika menghadapi perubahan kondisi cuaca dan ancaman kebencanaan.

TIM

Exit mobile version