Festival Benteng Nieuw Victoria 2026, Vanath: Penting Merawat Warisan Sejarah

IMG 20260909 WA00362
Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath saat membuka Festival Benteng Nieuw Victoria di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (7/9/2026) / Foto : Ist

Koreri.com, Ambon – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku menegaskan pentingnya menjaga warisan sejarah sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Pesan itu disampaikan Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath saat membuka Festival Benteng Nieuw Victoria di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (7/9/2026).

Festival yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku tersebut mengusung tema “Merangkai Warisan Budaya dalam Harmoni” sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon.

Pembukaan festival diawali karnaval budaya, penampilan ansambel musik Benteng, serta fashion show yang menampilkan beragam pakaian adat Maluku.

Vanath mengatakan Benteng Nieuw Victoria memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting bagi perjalanan Kota Ambon dan Maluku.

Benteng tersebut, menurut dia, bukan sekadar peninggalan masa kolonial, tetapi menjadi saksi perjalanan Ambon sebagai pusat perdagangan rempah, pemerintahan, sekaligus ruang perjumpaan berbagai bangsa, suku dan agama.

“Benteng ini adalah saksi hidup perjalanan panjang Kota Ambon, sejak menjadi pusat perdagangan rempah, pusat pemerintahan, hingga menjadi titik pertemuan berbagai bangsa, suku dan agama yang kemudian membentuk wajah Ambon sebagai kota yang majemuk,” kata Vanath.

Ia menegaskan, status Benteng Nieuw Victoria sebagai cagar budaya peringkat nasional membuat upaya pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.

Karena itu, Vanath mengapresiasi Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku yang menghadirkan festival tersebut sebagai ruang untuk mendekatkan masyarakat dengan sejarah dan kebudayaan.

Menurutnya, tema festival juga sejalan dengan karakter Maluku sebagai rumah bersama masyarakat yang memiliki keragaman pulau, suku, tradisi dan agama.

Ia mengingatkan agar nilai-nilai kearifan lokal seperti pela gandong, hidup orang basudara, ale rasa beta rasa dan sagu salempeng dibagi dua terus diwariskan kepada generasi muda.

“Nilai-nilai itu bukan sekadar ungkapan, tetapi cara hidup orang Maluku yang harus terus kita jaga sampai ke anak cucu,” ujarnya.

Festival ini memiliki makna khusus karena digelar bertepatan dengan HUT ke-451 Kota Ambon. Tanggal 7 September 1575 menjadi salah satu tonggak sejarah Ambon, ketika di lokasi tersebut berdiri benteng pertama yang dikenal dengan nama Nossa Senhora da Anunciada atau Benteng Kota Laha.

Selain menghidupkan kembali sejarah, festival tersebut juga memperkuat identitas Ambon sebagai UNESCO Creative City of Music sejak 2019.

“Karnaval budaya, pameran, panggung seni tradisional hingga penampilan musisi lokal adalah bukti kebudayaan Maluku hidup, berkembang dan mampu bersanding dengan kreativitas masa kini,” katanya.

Abdullah berharap momentum tersebut dapat mendorong terbentuknya ekosistem kebudayaan dan ekonomi kreatif yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Ia juga mengajak pelaku seni, sanggar budaya, komunitas, pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga Benteng Nieuw Victoria serta berbagai cagar budaya lainnya di Maluku.
“Benteng Nieuw Victoria dan cagar budaya lainnya harus menjadi ruang publik kebudayaan yang memberi manfaat edukasi, sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.

Festival Benteng Nieuw Victoria diharapkan tidak berhenti sebagai agenda perayaan, tetapi menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah sekaligus mendorong seni dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.

BKL

Exit mobile version