10 SMP Ikut Lomba Cerita Rakyat Berbahasa Port Numbay

Marta Mano Koreri
Marta B. Mano, siswa kelas VII C SMP Kristen Kalam Kudus Kota Jayapura / Foto : Koreri

Koreri.com, Jayapura – Sebanyak 10 SMP di Kota Jayapura mengikuti perlombaan cerita rakyat dengan menggunakan bahasa Port Numbay.

Lomba bernuansa tradisi lokal ini sebagai salah satu upaya Pemerintah Kota Jayapura melestarikan budaya Port Numbay.

Kegiatan itu sendiri berlangsung di aula SMK Negeri 2 Jayapura, Jumat (28/9/2018).

Lomba yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat ini awalnya menargetkan siswa/i SMP se Kota Jayapura di 40 SMP sederajat.

Kepala Disdikbud yang diwakili Kabid Kebudayan Dani Dorneka mengakui dari 40 SMP se derajat di Kota Jayapura, peserta yang ikut perlombaan ini hanya 10 sekolah.

“Memang Kebudayaan adalah bidang yang baru dan ini merupakan kegiatan perdana yang baru diikuti sedikitnya 10 sekolah,” akuinya.

Dikatakan, lomba bercerita budaya Lokal setempat merupakan kegiatan yang bernilai strategis dan langkah karena mewarisi, mengangkat kembali serta melestarikan budaya Port Numbay.

“Selain itu sebagai upaya meningkatkan budaya gemar membaca di kalangan siswa/i serta melatih kemampuan sebagai modal dan faktor terpenting dalam penyelenggaraan pendidikan formal dan non formal,” tandasnya.

Karena itu, satuan pendidikan harus mulai menanamkan dan melatih anak-anak sedini mungkin serta dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan dalam kondisi yang kondusif, baik, harmonis dan juga dengan komunikasi.

“Saya mengharapkan melalui lomba ini agar dapat menumbuhkan minat baca pada anak-anak sejak usia dini dan juga meningkatkan kemampuan dalam mengapresiasi berbagai cerita rakyat yang berlatar budaya Port Numbay dan memahami berbagai bentuk kearifan lokal yang ada di sekitarnya,” tukasnya.

Salah satu peserta, Marta B. Mano, siswa kelas VII C SMP Kristen Kalam Kudus ini saat ditemui mengaku bangga sebagai salah satu putri Port Numbay.

Meski masih berada di bangku SMP namun bisa diikut sertakan dalam perlombaan ini,

“Dengan satu harapan agar bahasa yang ada di negeri kami ini dari generasi ke generasi tidak akan hilang,” harapnya.

Putri sulung pasangan Mathias B. Mano dan Monalisa Iwanggin ini pun berharap anak-anak seusianya dapat turut serta melastarikan budaya Port Numbay terutama bahasa.

HRZ

Exit mobile version