Koreri.com, Biak – Para jurnalis Biak diharapkan memahami soal perspektif gender saat menulis berita.
Harapan tersebut disampaikan Fasilitator Dr. Eni Maryani, M. Si seusai kegiatan Pelatihan Jurnalistik Berbasis Perspektif Gender (Journalism Training Based on Gender Perspective), bertempat di Hotel Asana Biak, 9 – 10 Maret 2020.
Giat tersebut dihadiri 21 wartawan dan penyiar beberapa media elektronik juga online serta melibatkan praktisi dari perguruan tinggi.
”Kami berharap, melalui kegiatan ini teman-teman jurnalis juga memahami perspektif gender saat menulis berita,” harapnya.
Menurut Eni, pemahaman tentang gender ini sangat sulit di dapatkan termasuk di sekolah pun hampir tidak ada. Bahkan di sekolah komunikasi pun jarang sekali yang memberikan isu tentang gender.
“Jadi melalui pelatihan ini, kami sudah bisa mengenalkan apa yang dinamakan dengan konstitusi sosial tentang laki-laki dan perempuan. Bagaimana melalui tulisan rekan-rekan jurnalis atau juga berita-berita baik media elektronik, online maupun cetak bisa membuat berita yang memiliki sensitivitas gender,” tuturnya.
Dengan begitu, tidak memarjinalkan perempuan tetapi memberikan dukungan terhadap keberhasilan melalui kehadiran mereka dan juga menempatkannya setara dengan kaum laki-laki.
Selain itu juga, memberikan keadilan baik buat perempuan maupun laki-laki terkait dengan kapasitas potensi mereka yang memang sebetulnya bisa disebarluaskan oleh media sehingga dapat memberi inspirasi buat semua orang.
“Karena selain representasi perempuan meningkat, juga tidak bias gender dan juga mengangkat perempuan dalam ketidakberdayaannya serta menempatkan laki-laki sebagai rekan yang saling mendukung dengan kaum perempuan,” pungkasnya.
Di kesempatan yang sama, Project Leader Dr. Nharia, S.Sos., M.Si mengatakan ia berkeinginan jurnalis punya sensitivitas gender terhadap isu-isu yang ada di sekitarnya.
Karena, selama ini sebenarnya isu-isu gender itu banyak namun diakuinya, dari sisi jurnalis yang belum sensitif. Dalam hal ini, belum bisa membedakan mana yang disebut dengan isu gender.
“Kita memberikan pelatihan ini selama kurang lebih dua hari, mulai dengan bagaimana gender itu di konstruksi secara sosial sehingga kita paham apa bedanya gender dan khodrat kita sebagai manusia,” tandas Dr. Nharia.
Melalui giat ini juga, peserta diberikan bekal bagaimana memetakannya, sehingga para jurnalis di Biak betul-betul bisa mengetahui mana isu-isu gender yang bisa di angkat.
“Sekali lagi saya tegaskan, bukan berarti tidak ada isu gender yang ada di sekitar kita. Memang banyak, namun jurnalisnya yang belum paham, sehingga dengan pelatihan ini lebih banyak jurnalis bisa mendapatkan pelatihan tentang gender dan itu yang sangat kita harapkan,” tukasnya.
Pelatihan Jurnalistik Berbasis Perspektif Gender yang disponsori oleh Kedutaan besar Amerika Serikat untuk Indonesia ini berlangsung di 3 wilayah masing-masing Jakarta, Biak dan Merauke.
Kegiatan serupa juga telah dilakukan bagi jurnalis di Jayapura dan Timika pada 2018 dan 2019 lalu.
OLAND
