Koreri.com, Jayapura – SMPN 1 Beoga dan SD Klemabeth, Kabupaten Puncak baru saja kehilangan dua tenaga pendidiknya masing-masing Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden.
Kedua pahlawan tanpa tanda jasa itu gugur dalam aksi penembakan brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Beoga, Jumat (9/4/2021)
Tepat di tengah acara pemakanam Bapa Guru Yonatan Renden, tepatnya pukul 15.00 WIT, Junaedi Arung Sulele, yang tak lain adalah Kepala SMPN 1 Beoga Kabupaten Puncak Papua menyampaikan rasa dukanya atas berpulangnya kedua rekannya itu.
“Mereka guru terbaik, mereka dari masyarakat sipil tidak ada hubungannya dengan aparat TNI-Polri. Tidak banyak orang yang mau bertahan hidup di pedalaman, hidup bersama keluarga bertahan disana, ditengah hutan,” ungkapnya dengan nada lirih.
Kesedihan sekaligus amarah terlihat dari mimik Junaedi.
“Saya mengutuk keras tindakan ini. Kami harap aparat keamanan bertindak menjaga diri dan juga menegakkan hukum yang belaku,” tegasnya.
Kedua korban merupakan guru pendatang dari Toraja. Kondisi Beoga yang sulit dijangkau kendaraan menyebabkan tidak banyak orang maupun pendatang yang mau bertahan disitu.
“Bapa Oktavianus dan Bapa Yonathan ini mendidik anak Papua dengan setulus hati, mendidik anak-anak pedalaman Papua. Sekali lagi, kami orang Toraja percaya dengan aparat dan kami taat hukum. Kami mohon aparat menjaga masyarakat tanpa terkecuali, apalagi guru yang mendidik anak Papua, kami sangat sesalkan kejadian ini,” cetusnya
Dalam acara layatan tersebut, Junaidi menjelaskan kondisi mencekam saat penembakan terjadi.
“Sebelum ada kejadian, hingga kami semua turun. Situasi sudah kembali kondusif sehingga kami memutuskan untuk kembali ke Beoga,” bebernya.
“Puji Tuhan saya masih lolos, saat penembakan saya tidak lihat orang, ketika bunyi tembakan saya lari ke arah kanan, saudara Yonatan Renden (28) lari ke kiri. Korban sudah kena 2 kali tembakan di dada tapi masih sempat lari kemudian rubuh,” bebernya
Junaedi mengaku kalau saat penembakan korban pertama, dirinya tidak berada di TKP.
“Jadi, lokasi saya jauh dari situ. Lokasi korban pertama itu di SMPN 1 Beoga, tapi korban sendiri adalah guru SD Klemabeth. Tetapi karena istrinya mengajar di SMP mereka tinggal di perumahan guru SMPN 1 Beoga. Saat penembakan korban pertama, saudara Oktovianus Rayo (40) dia di kepung KKB,” tuturnya.
Masih menurut Junaedi, selama ini situasi aman-aman saja mengingat aparat keamanan dari Koramil, Polsek hingga Satgas TNI-Polri selama ini memang sudah berjaga di Beoga.
“Pasca penembakan, situasi di atas sana saat ini masih siaga. Aparat TNI-Polri masih berjaga di sekitar kampung Beoga. Informasi yang saya terima yang dibakar adalah perumahan guru dan 1 gedung sekolah SMA,” lanjutnya.
Ditegaskan pula, bahwa selama ini guru pendatang dekat dengan masyarakat asli Kabupaten Puncak.
Lanjutnya, kedua korban itu merupakan guru kontrak dimana Oktavianus sudah menjalankan profesinya selama 10 tahun sedangkan Yonathan 2 tahun.
Dan, keduanya juga telah berkeluarga.
“Saudara Oktavianus bersama keluarga tinggal di Beoga, sedangkan Yonatan anak dan istrinya berada di Toraja. Total ada 11 orang guru pendatang, sebagian mengungsi di Koramil,” sambungnya lagi.
Dijelaskan oleh Junaidi bahwa tidak banyak pendatang di wilayah Beoga, hanya para guru saja.
Terkait informasi yang menyatakan Junaidi diculik tidak sepenuhnya benar.
Pasalnya saat terjadi penembakan, Junaidi dilaporkan bersembunyi dirumah warga.
“Ketika aparat TNI-Polri yang mengevakuasi jenazah lewat di dekat persembunyian saya, saya langsung keluar dan ikut mengamankan diri ke Koramil,” tutupnya.
SEO
