Tanggapi Komentar Publik Soal Dirinya, Gubernur Enembe Beri Pernyataan

Gubernur Pap LE Jubir
Gubernur Papua Lukas Enembe

Koreri.com, Jayapura – Gubernur Papua Lukas Enembe telah menerima sejumlah masukan dan kritik yang diberikan oleh sejumlah tokoh menyoal kondisi fisiknya.

Gubernur melalui juru bicaranya M. Rifai Darus menganggap bahwa penyampaian pendapat yang datang dari sudut pandang setiap kelompok masyarakat Papua akan selalu diterima dan menjadi masukan yang berharga bagi kepemimpinannya, selama koridor yang digunakan selalu dalam ruang yang sejuk, damai dan beretika.

Terkait argumentasi “Gubernur yang sakit-sakitan telah mengakibatkan kegaduhan birokrasi dan minusnya pelayanan publik” yang disampaikan oleh sebuah kelompok, orang nomor satu di provinsi paling timur Indonesia ini menyatakan bahwa hal tersebut tidak berdasar.

“Pasca pengobatan saya dari Singapura beberapa bulan yang lalu memang telah dilakukan sejumlah penataan organisasi pada Pemerintahan Provinsi Papua yang semata-mata untuk memperkuat koordinasi dan mengakselerasi kinerja,” tegasnya membantah klaim tersebut.

Sebagai Warga Negara Indonesia, Gubernur menegaskan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pemenuhan hak atas kesehatan dengan berbagai macam cara, baik pencegahan dan penyembuhan.

Proses pengobatan yang dijalani juga telah menempuh prosedur yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada, termasuk mendapat izin dari Mendagri untuk melakukan medical check-up bertepatan pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2022 kemarin.

“Karena itu, saya minta kepada sejumlah tokoh yang mendesak saya untuk mundur ataupun digantikan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Pemerintah Pusat agar lebih dulu memperkaya diri atas informasi yang sahih terkait kondisi fisik saya dari otoritas resmi ataupun yang berwenang,” cetusnya mengingatkan.

Gubernur juga menyayangkan narasi-narasi keliru yang masih dalam koridor hipotesis sudah dianggap sebagai sajian ilmiah oleh kelompok tersebut.

Ia tak lupa meminta maaf apabila dalam penyampaian beberapa pidato ataupun sambutannya di sejumlah acara terlihat terbata-bata dan tidak lancar, namun daya kritis dan manajemen kepemimpinan yang dimilikinya masih teramat tebal dan kaya.

Gubernur menekankan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya membutuhkan mulut yang bisa berbicara, tetapi jauh dari itu, membutuhkan otak yang mampu berpikir tangkas dan hati yang tulus dalam pengabdiannya.

Ia mengingatkan pula agar masyarakat adat yang ada di seluruh tanah Papua untuk tidak terpecah oleh agenda-agenda yang bertendensi adu domba.

Gubernur mengajak kepada seluruh tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang ada di Papua untuk menjaga perdamaian dan ketentraman.

“Saya tidak anti terhadap kritik, tapi jangan sekali-kali menggunakan atribut politik yang dapat memantik api polemik,” pungkasnya.

OZIE

Exit mobile version