Koreri.com, Manokwari – Menjelang peringatan bersejarah HUT Injil Masuk di Tanah Papua ke 170 Tahun, berbagai kalangan telah menyiapkan sejumlah kegiatan menyambut momen sakral tersebut.
Dan di Pulau Mansinam, Kabupaten Manokwari, Papua Barat selalu menjadi lokasi menggelar hajatan krusial mengingat sejarah masuknya Injil di pulau itu pada 1855 silam oleh dua misionaris dari Jerman.
Di lain sisi, keberadaan Pulau Mansinam juga menjadi fokus perhatian para wakil rakyat di DPR Papua Barat.
Salah satunya terkait pengelolaannya sebagaimana diungkapkan Anggota DPR PB Allosius Siep dan Imam Muslih.
Keduanya menekankan pentingnya pengelolaan Pulau Mansinam yang berkelanjutan tidak hanya fokus pada perayaan 5 Februari.
“Kami berharap Pemerintah dapat meningkatkan status wilayah dan memperbaiki manajemen agar pulau tersebut dapat berkembang sebagai ikon wisata religius dan pusat peradaban bagi masyarakat Papua,” harap keduanya.
Siep secara khusus menyatakan bahwa Pulau Mansinam memang memiliki sejumlah permasalahan yang sudah berlangsung lama dan perlu perhatian lebih.
Ia menegaskan, pengelolaan Pulau Mansinam seharusnya tidak hanya fokus pada perayaan 5 Februari, namun perlu adanya pengelolaan yang berkelanjutan.
“Sejumlah bangunan yang kami lihat di Pulau Mansinam cukup memprihatinkan. Setelah perayaan HUT tahun ini, kami berharap pemerintah bisa mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Allosius kepada awak media Mansinam Beach Hotel Manokwari Senin (3/2/2025).
Siep yang juga Ketua Partai Perindo Papua Barat ini menekankan pentingnya manajemen yang lebih sehat agar Pulau Mansinam dapat terus berkembang dan semakin maju setiap tahunnya, bukan hanya sesaat.
“Sudah saatnya ada manajemen yang lebih baik untuk mengelola Pulau Mansinam,” tambahnya.
Senada dengan Allosius, Anggota DPR PB Komisi 1, Imam Muslih, menyatakan bahwa kedepan harus ada kejelasan mengenai pengelolaan Pulau Mansinam.
“Pemerintah harus mempertimbangkan untuk meningkatkan status wilayah Mansinam, misalnya menjadi kelurahan atau distrik khusus,” ungkap Imam.
Menurutnya, langkah ini penting agar pengelolaan, pemeliharaan, dan pembiayaan kawasan tersebut memiliki tanggung jawab yang jelas.
Imam juga mengingatkan, jika pengelolaan hanya dilakukan secara temporer, seperti yang terjadi pada 5 Februari, maka perhatian terhadap kawasan ini akan terkesan hanya sesaat dan tidak berkelanjutan.
“Pulau Mansinam bisa menjadi ikon wisata religius yang menarik bagi wisatawan, sehingga wilayah sekitarnya juga dapat berkembang menjadi destinasi perairan yang menarik.
lanjut Imam, Ia mengusulkan agar lembaga yang pernah mengelola kawasan ini dievaluasi dan melibatkan semua pihak terkait, baik adat, gereja, maupun pemerintah, untuk merancang masa depan Pulau Mansinam yang lebih baik.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kunjungan anggota DPR PB ke Pulau Mansinam Senin, 3 Februari 2025, dalam rangka melihat persiapan panitia untuk memperingati HUT ke-170 Pekabaran Injil Masuk Tanah Papua pada 5 Februari 2025.
Dalam kunjungan tersebut, tujuh anggota DPR Papua Barat yang hadir, antara lain ; Anggota Komisi 1 Imam Muslih dan A. Selasa Mansim; Anggota Komisi 2 Amin Ngabarin, Evert Indouw dan Musa Naa; Anggota Komisi 3 Allosius Siap serta Anggota Komisi 4 Sapri Bani.
Mereka sepakat bahwa sudah saatnya Pulau Mansinam dikelola dengan manajemen yang lebih baik, mengingat peran strategisnya sebagai pulau peradaban bagi seluruh masyarakat Papua.
“Kami berharap, ke depan, Pulau Mansinam dapat lebih baik dan berkembang pesat,” ujar perwakilan Komisi 1,’’ tutupnya.
RLS
