Koreri.com, Jayapura — Satu per satu jejak korupsi dana Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 mulai terbongkar.
Pengungkapan kasus yang angka kerugian sangat fantastis ini bakal lanjut memasuki babak baru. Sebagai kelanjutan dari pengungkapan sebelumnya.
Salah satunya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua kembali bergerak menyita uang tunai Rp1,1 miliar dari salah satu vendor penyiaran, PT Samuan Rumah Kreasi yang terlibat dalam proyek Host Broadcast Production.
Menurut Kepala Seksi Penyidikan Kejati Papua Valery Dedy Sawaki, uang tersebut merupakan hasil pinjaman tak tercatat dalam dokumen resmi DPA atau DPA-P Panitia Besar (PB) PON XX Papua.
Nilainya mencapai Rp2,5 miliar, diduga dicairkan tanpa dasar anggaran sah oleh Bendahara Umum PB PON, Drs Theodorus Rumbiak, kepada Direktur PT Samuan Rumah Kreasi, Ir Bambang Edi Heryanto.
“Baru dikembalikan sebagian sebesar Rp1,1 miliar, sisanya Rp1,4 miliar belum dikembalikan dan sekarang menjadi barang bukti,” tegas Sawaki dalam konferensi pers di Kejati Papua, Kota Jayapura, Kamis (3/7/2025).
Penyitaan uang vendor broadcast ini mempertegas aroma busuk korupsi yang masih membelit pasca ajang olahraga terakbar nasional digelar pada 2021 lalu.
Total dana yang telah berhasil diamankan Kejati Papua sejauh ini tercatat Rp23,4 miliar, dengan rincian Rp15,6 miliar di 2024 dan Rp7,8 miliar sepanjang 2025.
Sementara itu, proses penyidikan berjalan paralel. Sebanyak 12 saksi diperiksa dalam perkara PON XX Part Dua tahun 2025, sementara empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Part Satu tahun 2024, berinisial T-R, R-D, R-L, dan V-P.
Asisten Pidana Khusus Kejati Papua, Nixon Mahuse, tegas mengingatkan agar para pihak yang masih menahan dana hasil korupsi segera mengembalikannya sebelum penindakan lebih keras dijalankan.
“Kami beri ruang agar para saksi mau mengembalikan uang negara. Tapi kalau tidak juga, kami akan tindak tegas,” tegasnya.
Nixon juga menegaskan, bahwa Kejati Papua tidak akan mentolerir praktik bancakan anggaran di tubuh PON XX Papua.
“Kami tidak tebang pilih. Tajam ke atas, humanis ke bawah. Siapapun terlibat, pasti kami proses,” cetusnya.
Skandal korupsi PON Papua menjadi tamparan keras di tengah semangat membangun olahraga nasional.
Publik menanti, apakah Kejaksaan mampu menuntaskan benang kusut penjarahan anggaran rakyat ini hingga ke aktor intelektualnya, bukan hanya sebatas pemain pinggiran.
EHO
