Koreri.com, Biak – Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM), mendapat penyambutan istimewa di rumah adat Kankain Karkara Byak, Kabupaten Biak Numfor, Jumat (18/7/2025).
Momen ini menjadi tonggak penting dalam safari politiknya ke wilayah adat Saireri, menandai penerimaan adat dari masyarakat Biak kepada figur BTM sebagai anak negeri Tabi.
Penyambutan dipimpin langsung Ketua Dewan Adat Papua, Yan Pieter Yarangga dan disaksikan para Mananwir serta ratusan warga yang memadati pelataran rumah adat. Suasana penuh haru dan kehangatan menyelimuti prosesi tersebut.
“Beliau datang dengan penuh hormat, tampil dewasa dan bermartabat. Ini adalah kehormatan adat yang tidak sembarangan diberikan,” tegas Yarangga dalam sambutannya.
Yarangga menilai kehadiran BTM bukan sekadar kunjungan politik, melainkan simbol besar penyatuan dua wilayah adat: Tabi dan Saireri. Ia juga menyampaikan dukungan terbuka kepada pasangan BTM–Constant Karma (BTM-CK) yang dinilainya mencerminkan kekuatan besar Papua: Tabi dan Mambri.
“Pak Karma adalah simbol orang Biak. Maka pilihan BTM sudah sangat tepat,” ungkapnya, disambut tepuk tangan masyarakat adat.
Dalam sambutannya, BTM menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas penyambutan adat tersebut. Ia menegaskan bahwa kedatangannya bersama Constant Karma adalah bentuk komitmen memperjuangkan Papua yang lebih maju dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya.
“Saya datang sebagai anak negeri Tabi, memohon restu dari negeri para Mambri. Mari kita bersatu menjaga tanah ini, membangun Papua yang mandiri dan berbudaya,” ujar BTM.
BTM juga mengungkapkan telah menggagas lahirnya Provinsi Papua Utara melalui kesepakatan adat bersama tokoh-tokoh di Parai – sebuah inisiatif besar yang mencerminkan perjuangan akar rumput dan semangat perubahan dari dalam.
“Saya mohon doa dan dukungan masyarakat Biak dan seluruh wilayah adat Saireri agar kami dapat meraih kemenangan pada 6 Agustus mendatang,” pungkasnya.
Momen ini tak hanya memperkuat legitimasi sosial dan kultural pasangan BTM–CK, namun juga menegaskan bahwa dalam politik Papua, adat dan martabat adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.
TIM
