Koreri.com, Jayapura – Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Papua Joni Y. Betaubun, tampil menginspirasi puluhan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Cenderawasih (Uncen) dalam acara Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang digelar Selasa kemarin di aula fakultas.
Dengan tema besar “Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan yang Transformatif, Berintegritas, Berkualitas, dan Kompetitif”, serta subtema “Membangun Karakter Pemimpin yang Tangguh dan Visioner”, Betaubun membawakan materi bertajuk “Tata Kelola Kepemimpinan yang Efektif, Berintegritas, dan Berdampak.”
Sebagai alumnus FH Uncen sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa 2004-2005, Joni Betaubun memberikan motivasi kuat kepada para peserta agar memanfaatkan kesempatan berharga ini dengan sungguh-sungguh.
Ia menekankan bahwa pemimpin sejati bukan hanya soal gelar atau posisi, melainkan sikap rendah hati, disiplin, dan niat tulus untuk melayani.
“Saya ingat masa-masa saya kuliah dulu, segala fasilitas sangat terbatas. Tapi kalian hari ini duduk nyaman di ruang ber-AC. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk memacu diri menjadi pemimpin yang bukan hanya pintar, tapi juga berintegritas,” ujar Betaubun penuh semangat.
Dalam paparan yang sarat pengalaman akademik dan politiknya, Betaubun mengingatkan bahwa menjadi pemimpin yang berhasil adalah perjalanan panjang yang harus diawali dengan pembentukan karakter kuat. Dia juga menekankan pentingnya sikap merendahkan diri dan belajar mendengar, terlebih bagi mahasiswa yang berlatar belakang Kristen dan Islam.
Joni Betaubun yang pernah mengabdi sebagai dosen Fakultas Hukum Uncen sejak 2006 juga membagikan pengalamannya membentuk karakter mahasiswa. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, melainkan juga disiplin dan semangat belajar yang terus menerus.
“Sukses itu soal karakter. Gelar hanyalah salah satu bagian kecil. Maka mulai sekarang siapkan diri kalian bukan hanya untuk mendapat gelar, tapi juga menjadi teladan,” jelasnya.
Joni juga mengajak mahasiswa untuk aktif berperan dalam organisasi keagamaan dan sosial sebagai wadah membangun karakter kepemimpinan.
“Kesetiaan dalam hal-hal kecil seperti aktif di sekolah minggu, pemuda gereja, atau remaja masjid adalah latihan berharga untuk mendapat kepercayaan dalam tugas yang lebih besar,” ujarnya.
Menutup sesi, Betaubun mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah tentang melayani dan membawa dampak positif bagi masyarakat, bukan sekadar kekuasaan.
“Hari ini saya tidak hanya berbagi teori, tapi juga menanamkan semangat agar kalian kelak menjadi pemimpin yang peduli, berintegritas, dan mampu membawa perubahan nyata di Papua,” tutupnya dengan penuh harap.
SAV
