Soroti Aksi Pembakaran Mahkota Cenderawasih, Ini Penegasan IKBS se-Sorong Raya

Christopel Suu IKBS se Sorong Raya
Ketua IKBS se-Sorong Raya Christopel Suu

Koreri.com, Sorong – Aksi pembakaran mahkota Cenderawasih yang sedang viral di sosial media (Sosmed) mendapat tanggapan serius dari berbagai pihak, baik asli Papua maupun Nusantara.

Salah satunya datang dari Ikatan Keluarga Besar Suu (IKBS) se-Sorong Raya.

Ketua IKBS se-Sorong Raya Christopel Suu mengatakan tujuan kegiatan pembakaran mahkota oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua untuk melindungi burung Cenderawasih agar jangan punah dengan cara memutus rantai perdagangan ilegal satwa liar yang dilindungi.

Namun, tindakan tersebut tanpa disadari oleh pihak BKSDA Papua yang dinilai sudah sesuai Undang-undang akan mendapat reaksi keras dari masyarakat adat Papua, yang menilai bahwa mahkota bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehormatan, kebijaksanaan, dan identitas budaya yang sangat penting. menganggap itu sebagai  bentuk pelecehan terhadap simbol budaya dan identitas masyarakat Papua.

Chirstopel menjelaskan, Mahkota Cendrawasih memiliki arti dan makna Sakral yang sangat penting bagi suku-suku di seluruh Tanah Papua antara lain :

– Simbol Kehormatan : Mahkota dianggap sebagai simbol kehormatan dan kebesaran, melambangkan kekuatan spiritual dan kesetiaan terhadap tradisi Adat & Budaya.

– Identitas Budaya : Mahkota menjadi representasi identitas budaya yang membedakan org Papua dengan Suku lainnya di Indonesia bahkan belahan Dunia.

– Makna Spiritual : Mahkota memiliki makna spiritual yang mendalam, melambangkan Perempuan Papua yang cantik mempesona & mahal dr nilai Adat istiadatnya.

– Warisan Leluhur : Mahkota diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari warisan leluhur dan identitas suku yang mana hanya dapat di pakai oleh seorang Kepala Suku di semua Tanah Papua.

– Kekuatan Simbolik: Mahkota memiliki kekuatan simbolik yang kuat, melambangkan Burung Sorgawi yang indah,keindahan alam tanah Papua,dan kedudukan sosial dalam masyarakat Adat Papua.

“Dalam upacara-upacara adat, mahkota Burung Cendrawasih digunakan sebagai simbol penyambutan tamu kehormatan dan sebagai tradisi serta kemakmuran Bangsa Papua,” ungkap Christopel kepada media ini dalam keterangan persnya, Jumat (24/10/2025).

Lebih lanjut dikatakan Kepala Suku Moi itu bahwa kejadian Pembakaran mahkota seperti yang terjadi beberapa waktu lalu dianggap oleh masyarakat Papua sebagai penghinaan terhadap identitas dan nilai budaya masyarakat Papua.

“Menurut kami sebenarnya ada maksud baik dari BKSDA untuk melindungi dan menjaga kelestarian Burung Surga ini, namun mereka mengambil keputusan yg salah dgn membakar Burung Surga yg amat sangat Sakral ini,” tegasnya.

Harusnya kata Suu, pihak BKSDA Papua lebih dulu berkoordinasi dengan Lembaga Adat Papua untuk meminta pendapat serta pertimbangan dari para kepala suku, dewan adat, MRP, DPR Otsus, para toko lainnya  agar memberikan saran sehingga tidak terjadi seperti saat ini mendulang kecaman dari berbagai pihak OAP di seluruh Tanah Papua.

Untuk kehadiran TNI /Polri dalam kegiatan tersebut mungkin hanya  sebagai tamu undangan kegiatan yang diselenggarakan oleh BKSDA, sehingga mengikuti rundown dari kegiatan tersebut.

Karena itu, BKSDA Papua harusnya meminta maaf melalui media masa atas tindakan tersebut  dan dimohon untuk instansi yang lain apabila akan melaksanakan kegiatan yang menyangkut tentang adat istiadat, budaya dan sosial mohon lebih mempertimbangkan dan berkonsultasi dulu dengan dewan adat, MRP atau instans/ lembaga lainnya.

Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi dalam pelaksanaan  tugasnya ke depan,  kegiatan yang berdampak meresahkan atau melecehkan masyarakat Papua.

RED

Exit mobile version