Koreri.com, Sorong– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya (PBD) menggelar satu tahun kepemimpinan Elisa Kambu – Ahmad Nausrau sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur pada dilantik Presiden Prabowo Subianto, 20 Februari 20 Februari 2025 silam.
Peringatan satu tahun kepemimpinan pasangan Gubernur dan Wagub PBD pertama ini digelar dalam ibadah syukuran pertama secara Kristen yang berlangsung di Gedung Drs. Ec Lamberthus Jitmau, M.M, Jumat (20/2/2026).
Kemudian rangkaian syukuran peringatan satu tahun kepemimpinan Kambu-Nausrau ini akan dilanjutkan dengan buka puasa bersama umat Muslim se-Papua Barat Daya di Gedung Al-Akbar Convention Center Kota Sorong, Jumat (20/2/2026) sore nanti.
Ibadah syukuran yang dipimpin Pdt. Esau Ulimpa, S.Si. Teol itu dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, agama dan adat, serta perwakilan panti asuhan, SLB juga tamu undangan lainnya.
“Beberapa tahun lalu semua orang bisa diberi sentuhan. Waktu Pj Gubernur dua tahun lalu, Bapak Ibu dapat sentuhan karena memang ada uang,” kata Elisa Kambu didampingi Wakil Gubernur Ahmad Nausrau.
Gubernur Elisa memaparkan, pada 2023 APBD PBD mencapai Rp2,9 Triliun atau hampir Rp3 Triliun. Namun 2024 turun menjadi Rp1,9 Triliun, kemudian kembali turun pada 2025 menjadi Rp1,4 Triliun.
APBD terakhir sempat berada diangka Rp1,8 triliun, yang menurutnya merupakan sisa anggaran tahun-tahun sebelumnya yang kemudian digabungkan.
“Akan tetapi pada 2026 ini, APBD Papua Barat Daya hanya berada di angka Rp1,080 Triliun. Yang artinya, kita kehilangan hampir Rp2 Triliun. Kondisi kita hari ini memang tidak seperti yang kita harapkan,” bebernya.
Di tengah keterbatasan fiskal tersebut, Gubernur Elisa Kambu mengajak seluruh masyarakat untuk tetap bersyukur dan tidak larut dalam kekecewaan.
Elisa menegaskan, masa depan PBD harus diyakini akan lebih baik dari hari ini.
“Kita yakin dengan sungguh bahwa besok harus pasti lebih baik dari hari ini. Untuk itu, saya ingin mengajak kita semua yang hari ini kecewa, putus asa dan marah, saya ingin katakan bahwa dunia belum kiamat,” tegasnya.
Dijelaskan Elisa, jika berbicara tentang kesehatan dan pendidikan maka keduanya tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonomi. Karena itu harus menjadi atensi utama.
Pemerintah akan mendorong masyarakat Papua agar mampu memanfaatkan kebijakan Pemerintah pusat, khususnya terkait upaya swasembada pangan, minimal untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Sektor pertanian dan perikanan menjadi fokus utama.
“Alokasi bantuan yang ada sebagian besar diarahkan ke sana. Kita ingin sektor pertanian dan perikanan benar-benar berkembang, termasuk mendorong hilirisasi produk,” lanjutnya.
Hasil pertanian tidak hanya dijual mentah, tetapi bisa diolah dan dikemas menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik dan berbagai olahan lainnya.
“Itulah sebabnya tadi diserahkan bantuan mesin pengolahan kacang, bantuan pupuk, serta alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mengolah lahan. Semua itu merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat. Karena pada dasarnya, ekonomi adalah fondasi kehidupan,” ujarnya.
KENN
