Fokus Percepatan Rujukan: Pusling Perairan Siap Tunjang Layanan CC 119 di PBD

Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya , dr. Yan Pieter Kambu, Sp.OG-KFer/Foto : Suzan
Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya , dr. Yan Pieter Kambu, Sp.OG-KFer/Foto : Suzan

Koreri.com, Sorong – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya resmi menyerahkan bantuan hibah kepada tiga puskesmas di wilayah kepulauan dan pesisir.

Penyerahan bantuan berupa Puskesmas Keliling (Pusling) Perairan sebanyak tiga unit speedboat dengan 2 mesin 40 PK tersebut dilaksanakan di Dermaga Marina Sorong, Senin (23/2/2026).

Adapun bantuan itu dihibahkan ke Puskesmas Reni dan Waimbon di Kabupaten Raja Ampat, serta Puskesmas Kais di Sorong Selatan (Sorsel).

Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana PBD dr. Yan Pieter Kambu, Sp.OG-KFer menjelaskan terkait alasan bantuan hibah tersebut ke Raja Ampat dan Sorsel.

“Untuk bantuan kepada Puskesmas Reni dan Puskesmas Waimbon di Raja Ampat, mengapa kita prioritaskan di sana? Karena sebelumnya kami sudah melakukan survei. Hasilnya menunjukkan bahwa di kedua Puskesmas tersebut memang terdapat fasilitas yang rusak dan sebagian belum tersedia sama sekali. Berdasarkan kebutuhan itu, maka bantuan kemudian kita serahkan ke Reni dan Waibun,” jelasnya kepada awak media seusai acara penyerahan, Senin (23/2/2026).

Kemudian, lanjut Kadis, hal yang sama juga dilakukan untuk Puskesmas Kais, Kabupaten Sorong Selatan.

“Di sana ada fasilitas yang rusak dan ada yang memang belum tersedia, sehingga kita serahkan bantuan untuk mendukung pelayanan kesehatan di wilayah tersebut. Puskesmas lainnya juga tetap menjadi perhatian dan akan kita tindak lanjuti sesuai hasil evaluasi,” lanjutnya.

Untuk pengadaan Pusling Perairan atau Pusling air ini diakui Kadis, anggarannya kurang lebih sekitar Rp4 miliar lebih untuk tiga unit.

“Nilai totalnya sekitar Rp4 miliar sekian untuk tiga unit Pusling yang akan beroperasi di wilayah perairan,” akuinya.

Terkait kendala pelayanan kesehatan di PBD, Kadis menyebutkan ada dua persoalan utama yaitu pertama adalah kendala geografis dan kedua adalah komunikasi.

Saat ini akses internet memang sudah mulai membaik di beberapa daerah, tetapi masih belum merata.

Sementara kondisi geografis laut, sungai, dan daratan yang sulit dijangkau menjadi tantangan besar dalam sistem rujukan pasien.

“Karena itu, kita membangun sistem rujukan yang terintegrasi. Dimulai dengan pengadaan pusling perairan dan ambulans darat, termasuk dukungan dari armada yang ada, untuk menunjang operasional Call Center 119 yang rencananya akan kita launching tahun ini,” sambungnya.

Pihaknya juga mendorong kabupaten/kota, khususnya di Sorong Selatan, Maybrat, Tambrauw, dan wilayah lainnya agar mengaktifkan sistem rujukan dalam satu sistem terpadu.

Sistem ini akan didukung oleh tenaga kesehatan, staf, dan dokter yang siap siaga, sehingga ketika ada laporan masuk melalui aplikasi, langsung terdeteksi titik koordinat pasien, diketahui harus dijemput dimana, dan dirujuk ke rumah sakit mana.

Kadis menambahkan provinsi ini memiliki wilayah laut dan darat.

Untuk wilayah laut, pelayanan rujukan akan menggunakan Pusling air.

Sementara untuk darat menggunakan ambulans. Ke depan, fasilitas Pusling dan ambulans ini akan terus ditingkatkan secara bertahap, terutama untuk mendukung operasional 119.

“Selama ini kita sering menghadapi masalah: masyarakat tidak tahu harus menghubungi siapa, siapa yang menjemput, dan ke mana pasien harus dibawa. Karena itu, sistem ini kita bangun agar semuanya terintegrasi dimana ada manusianya, ada sistemnya, dan siap bekerja cepat dalam kondisi darurat,“ tegasnya.

Untuk jangkauan Pusling air, dari Kais misalnya bisa menjangkau Sorong Selatan sekitar satu jam perjalanan. Dari Reni sekitar tiga jam menuju fasilitas rujukan.

Dari Waimbon dapat merujuk pasien ke RSUD Raja Ampat.

“Jadi Pusling ini memang difokuskan untuk pasien darurat,” bebernya.

Di dalam Pusling air sudah dilengkapi fasilitas yang memadai, seperti lampu sorot, safety box, perlengkapan emergency, dan GPS.

Kemudian dengan GPS, bisa mengetahui titik koordinat posisi armada. Nantinya akan terintegrasi dengan sistem 119, mirip seperti sistem pemesanan transportasi online dimana ketika ada laporan masuk, sistem langsung mengetahui lokasi pasien dan armada terdekat yang harus bergerak.

“Kita berusaha dan berdoa, semoga seluruh rencana ini dapat terwujud tahun ini, demi meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Papua Barat Daya. Jika Tuhan mengizinkan, semua program ini berjalan dengan baik demi kepentingan pelayanan kesehatan di provinsi yang kita cintai ini,” pungkasnya.

ZAN