Koreri.com, Aimas – Penanggung jawab sekaligus Event Director Papua Van Java (PVJ) Eko Paul Werditi menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan konser PVJ yang digelar di Alun-alun Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (18/4/2026) malam.
Menurutnya, konser itu berlangsung meriah, ramai, dan mampu menjawab kerinduan masyarakat akan hiburan berskala besar di wilayah PBD.
“Kami mengucapkan puji syukur, acara berlangsung sukses, meriah, dan pecah. Ini menjadi tolak ukur kami untuk pelaksanaan event di kota selanjutnya,” ujar Eko kepada wartawan di Aimas, Minggu (19/4/2026).
Eko menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah daerah, khususnya Distrik Aimas, yang telah mendukung penuh sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan acara.
Apresiasi khusus turut disampaikan kepada Gubernur Papua Barat Daya yang hadir bersama istri dan langsung berkontribusi besar dalam menyukseskan acara, termasuk dengan memborong tiket untuk masyarakat.
“Beliau turut menjawab kerinduan masyarakat Sorong untuk menyaksikan konser dengan memberikan akses kepada warga agar bisa menikmati kemeriahan PVJ,” sambungnya.
Selain itu, Eko juga mengapresiasi antusiasme masyarakat Kabupaten Sorong yang turut memadati lokasi konser dan ikut memeriahkan acara tersebut.
Meski demikian, pihak penyelenggara mencatat sejumlah evaluasi penting, terutama terkait aspek keamanan.
Eko menegaskan bahwa ke depan pihaknya akan lebih selektif dalam mempersiapkan sistem pengamanan, termasuk penataan barikade agar arus masuk penonton lebih tertib dan tidak semrawut.
Namun, yang paling disayangkan adalah hilangnya sejumlah aset milik penyelenggara pasca acara.
Eko mengungkapkan, pagar seng yang berjumlah hampir seribu lembar dilaporkan raib dalam semalam, padahal sebelumnya telah ada kesepakatan dengan pihak kepolisian untuk melakukan pengawasan.
“Aset kami yang direncanakan akan dibawa ke Merauke untuk event selanjutnya justru hilang. Ini sangat kami sesalkan karena sudah ada komitmen pengamanan, namun tidak berjalan,” keluhnya.
Dikatakan Eko, hilangnya pagar tersebut tidak hanya berdampak pada kerugian materi, tetapi juga mengganggu proses pembongkaran dan pembersihan area konser.
Dalam standar pelaksanaan event, pagar atau barikade merupakan elemen terakhir yang dibongkar setelah seluruh peralatan produksi dan sampah dibersihkan.
“Ketika pagar sudah hilang lebih dulu, otomatis area menjadi terbuka dan kondisi di dalam venue terekspos. Ini berdampak pada citra pelaksanaan event yang seharusnya rapi dan bersih saat dikembalikan,” sahutnya.
Selain itu, sekitar 10 kubik kayu raib, tinggal 2 kubik jadi ada yang ijin minta ya kami persilahkan. Kemudian properti milik sponsor dan cermin di tenda artis juga raib.
“Barang milik vendor kami sewa kalau hilang karena kelalaian penjagaan ya jadi harus diganti”, bebernya.
Eko juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak kepolisian yang diakui telah mengakui kelalaian, namun belum memberikan solusi konkret atas kerugian yang dialami penyelenggara.
“Permintaan maaf saja tidak cukup menjawab persoalan kami, apalagi ini berdampak pada persiapan event selanjutnya. Kami harus menghitung ulang dan menyusun strategi baru,” tambahnya.
Meski diwarnai catatan tersebut, Eko menegaskan bahwa secara keseluruhan konser PVJ tetap memberikan dampak positif dan menjadi pengalaman berharga untuk perbaikan ke depan.
Diharapkan pelaksanaan PVJ di kota-kota berikutnya seperti Merauke dan Jayapura dapat berjalan lebih maksimal dengan persiapan yang lebih matang, khususnya dalam aspek keamanan dan manajemen aset.
KENN
