Total 3 Hari : 6.29 Ton Sampah Berhasil Dialihkan, Warga Mimika Baru Raup Belasan Juta

Distrik Mimika Baru H3 17 Ton Chalengge
Berbagai jenis sampah yang berhasil terkumpulkan melalui Gerakan 17 Ton Challenge yang diluncurkan Distrik Mimika Baru yang langsung ditangani petugas setempat / Foto : Ist

Koreri.com, Timika – Gerakan 17 Ton Challenge yang diluncurkan Pemerintah Distrik Mimika Baru mulai menunjukkan hasil nyata.

Selama tiga hari pelaksanaan Pos Timbang Merdeka, masyarakat berhasil mengumpulkan sekitar 6,29 ton material daur ulang, atau rata-rata mencapai sekitar 2,1 ton per hari.

Capaian tersebut disampaikan Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, Sabtu (8/8/2026).

Dikatakan dari tiga hari pelaksanaan kegiatan tersebut, memberikan gambaran bahwa pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai ketika sampah sudah berada di tempat pembuangan.

“Jadi sebagian persoalan sampah di Mimika ternyata bisa dikurangi sebelum sampah itu masuk ke sistem pengangkutan,” bebernya.

Menurut Kadistrik Merlyn, masyarakat justru dapat dilibatkan sejak dari sumbernya dengan cara memilah material yang masih memiliki nilai ekonomi.

“Di Pos Timbang Merdeka, masyarakat datang sendiri membawa karton, botol, besi, buku, seng dan berbagai material yang selama ini berpotensi menjadi sampah,” sambungnya.

Material tersebut kemudian dipilah dan ditimbang. Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, sementara material yang berpotensi menjadi sampah dapat dialihkan untuk didaur ulang.

“Hasilnya, dalam tiga hari sekitar 6,29 ton material daur ulang berhasil dihimpun. Rata-rata sekitar 2,1 ton per hari,” ujarnya.

Angka tersebut dinilai cukup menarik jika dibandingkan dengan estimasi timbulan sampah perkotaan yang mencapai sekitar 90 ton per hari.

Dengan capaian rata-rata sekitar 2,1 ton material daur ulang per hari, gerakan tersebut berkontribusi mengalihkan sekitar 2,3 persen dari estimasi timbulan sampah harian perkotaan.

“2,3 persen memang belum besar. Tetapi ini bukan perkiraan. Ini kilogram yang benar-benar masuk dan ditimbang,” tegasnya.

Bagi Kadistrik Merlyn, capaian tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dapat menjadi bagian penting dari solusi persoalan persampahan di Mimika.

Ia menilai pendekatan tersebut tidak hanya berbicara mengenai kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang agar sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

“Karena itu kami optimistis model ini layak diuji dan dikembangkan lebih luas sebagai salah satu instrumen Pemda Mimika,” pungkasnya.

Gerakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penanganan sampah tidak harus selalu berakhir pada aktivitas mengangkut dan membuang.

Sebagian sampah justru dapat dihentikan dari sumbernya, dipilah, ditimbang, kemudian dikembalikan menjadi material yang memiliki nilai ekonomi.

NUEL

Exit mobile version