Koreri.com, Timika – Komitmen PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui Program Investasi Sosial (INSOS) dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Papua terus diperkuat melalui kemitraan dengan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).
Dukungan tersebut tidak lagi sebatas membuka akses pendidikan dan memberikan beasiswa bagi anak-anak Papua.
YPMAK bahkan memastikan Dana INSOS PTFI memperkuat pengelolaan alumni penerima manfaat melalui pendataan, validasi hingga pemberdayaan agar lulusan memiliki arah yang lebih jelas menuju dunia kerja.
Ketua Perkumpulan Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan (Papeda) YPMAK Timika Hilarius Dolame mengatakan program pendidikan yang didukung melalui Dana Kemitraan PTFI pada dasarnya ditujukan untuk membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Beasiswa ini diprioritaskan kepada orang yang tidak mampu, orang tuanya. Kemudian melalui seleksi,” ungkapnya.
Menurut Hilarius, penerima manfaat program pendidikan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mereka melanjutkan pendidikan di Jayapura, Manokwari, Semarang, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Manado hingga Makassar.
Sebagian lainnya bahkan mendapat kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri.
Namun, perhatian YPMAK terhadap penerima manfaat tidak berhenti setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
Melalui Papeda YPMAK, keberadaan alumni kini menjadi salah satu perhatian penting dalam memastikan investasi pendidikan tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas SDM Papua.
Hilarius menjelaskan, terdapat dua fokus utama yang tengah diperkuat, yakni pengelolaan alumni dan pemberdayaan alumni.
“Alumni itu dua hal yang difokuskan. Yang pertama adalah pengelolaan alumni dan pemberdayaan alumni,” ujarnya.
Langkah pertama dilakukan melalui pendataan dan validasi. Alumni akan dipetakan untuk mengetahui siapa yang telah bekerja, siapa yang belum bekerja, serta siapa yang masih membutuhkan penguatan kompetensi.
“Yang lulus itu kita data. Sudah bekerja berapa, belum bekerja berapa. Yang belum bekerja ini kita lihat sisi lemahnya di mana,” sambungnya.
Menurut Hilarius, pendataan tersebut menjadi penting karena kondisi setiap alumni berbeda. Ada yang sudah memasuki dunia kerja, sementara sebagian lainnya masih menghadapi berbagai kendala untuk mendapatkan pekerjaan.
Karena itu, alumni yang belum terserap akan dipetakan lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang menjadi hambatan, baik dari sisi kompetensi, kemampuan akademik, pengalaman maupun kebutuhan lainnya.
“Kalau memang ada kelemahan, otomatis kita akan bina mereka. Kita lihat kemampuan dan kapasitasnya, kemudian kita arahkan sesuai dengan bidangnya,” jelas Hilarius.
Ia menegaskan, pendataan alumni bukan sekadar pekerjaan administratif. Data tersebut akan menjadi dasar untuk mengevaluasi dampak program pendidikan sekaligus menentukan bentuk pembinaan yang dibutuhkan para lulusan.
Dengan data yang valid, YPMAK dapat mengetahui keberadaan alumni, bidang pekerjaan yang digeluti, hingga kondisi mereka yang masih mencari peluang kerja.
“Kita harus memastikan lulusan itu sekarang ada di mana, bekerja di mana, dan bagaimana kondisinya. Itu yang kita pastikan melalui pendataan,” tegasnya.
Hilarius menyebut jumlah mahasiswa yang memperoleh dukungan pendidikan tahun ini cukup banyak. Namun, jumlah keseluruhannya masih dalam proses pendataan dan validasi.
Sejumlah mahasiswa juga telah diberangkatkan untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi, termasuk di Semarang, Malang dan Surabaya.
Ia menegaskan, penerima manfaat bukan hanya berasal dari wilayah perkotaan, tetapi juga berasal dari kampung-kampung yang memiliki keterbatasan akses pendidikan dan kemampuan ekonomi.
Karena itu, pendekatan hingga tingkat kampung dinilai penting agar anak-anak Papua yang memiliki potensi tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Dari kampung-kampung juga kita lihat. Anak-anak yang dari awal belum masuk sekolah, kemudian diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,” katanya.
Menurut Hilarius, tujuan akhir dari program tersebut bukan sekadar membuat anak-anak Papua memperoleh ijazah. Lebih jauh, mereka diharapkan mampu mengembangkan kompetensi, memasuki dunia kerja dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta daerah.
Melalui kemitraan PTFI dan YPMAK, investasi di bidang pendidikan diharapkan memiliki kesinambungan, mulai dari memberikan akses sekolah, mendukung proses pendidikan, memastikan kelulusan hingga membantu alumni mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Hilarius berharap pendataan, validasi dan pemberdayaan alumni dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga setiap lulusan penerima manfaat memiliki arah yang lebih jelas setelah menyelesaikan pendidikan.
“Intinya kita ingin memastikan anak-anak ini sekolah, lulus, kemudian mampu bekerja dan memberikan kontribusi bagi daerahnya,” pungkasnya.
NUEL
