Potensi Perikanan di Selatan Papua Capai 4 Juta Ton/Tahun, Nelayan OAP Diminta Berubah

IMG 20220611 WA0027

Koreri.com, Jayapura – Potensi perikanan terbesar di Papua berada di perairan selatan yang diperkirakan mencapai 4 juta ton /tahun.

Sementara untuk potensi yang sama di bagian Utara tercatat 2,4 juta ton/tahun.

“Dengan demikian peluang bagi investor untuk menanamkan modalnya di bidang perikanan masih terbuka luas,” kata Kepala Dinas Perikanan Papua Iman Djuniawal, di Jayapura, Jumat (10/6/2022).

Diakui, besarnya potensi yang dimiliki karena faktor geografis hingga saat ini memiliki dua wilayah pengolahan perikanan yang berlokasi di perairan Pasifik dan Perairan Arafura.

Untuk menunjang itu perlu sarana dan prasarana pendukung termasuk pelabuhan perikanan dimana tercatat ada sembilan yang tersebar baik di utara terdiri dari pelabuhan perikanan Waiya Depapre, Hamadi di Kota Jayapura, Fandoi Biak dan Sarafambe di Serui.

Di selatan sendiri terdapat lima pelabuhan perikanan yaitu Waharia di Nabire, Pomako di Timika, Komor Asmat, Sumuraman di Mappi dan Kelapa Lima di Merauke.

Guna mendukung investasi maka saat ini sudah dilakukan pemetaan ruang laut atau zonasi sehingga para investor yang ingin menanamkan modalnya dapat mengetahui lokasi-lokasi mana saja yang bisa digunakan agar tidak terganggu.

Mengingat saat ini laut juga sudah digunakan untuk menempatkan jaringan telekomunikasi misalnya kabel bawah laut, pengelolaan tambang lepas pantai hingga pariwisata.

“Dengan adanya tata ruang laut dapat menggali potensi dan sumber pendapatan daerah yang saat ini sudah mencapai tahap persetujuan teknis kementerian yang nantinya akan dipadukan tata ruang laut dan darat,” jelas Iman.

Diharapkan, dengan adanya penataan tata ruang maka diharapkan potensi kelautan yang dimiliki Papua dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin hingga memberikan kesejahteraan bagi nelayan dan masyarakat.
Terkait nelayan Papua, Iman mengakui, hingga kini 90 persen nelayan asli Papua masih masuk kategori nelayan tradisional.

Selain masih menggunakan peralatan sederhana dan tradisional, seperti menggunakan pancing, saat melaut nelayan OAP hanya sebentar dibanding nelayan non OAP yang bisa beberapa jam bahkan melaut selama dua hingga tiga hari.

“Karena itulah kami berharap para nelayan OAP merubah kebiasaan tersebut sehingga hasil tangkapannya lebih banyak,” harap Iman.

ZAN