as




as

Papua, DOB, Jakarta, Singapura, Australia dan Akselerasi Pembangunan di Tanah Papua

Koreri.com – Mencermati beberapa DOB baru di Tanah Papua yang digagas berdasarkan keinginan kuat masyarakat adat dan direalisasikan dengan baik oleh Pemerintah, membuat Redaksi Koreri untuk turut mencermati hal itu dengan seksama.

Pro-kontra adalah hal yang lumrah dan merupakan dinamika yang perlu dihadapi dengan satu pandangan positif yang ditujukan demi kemajuan masyarakat Papua itu sendiri dan bagaimana harus menyikapi keputusan (pembentukan DOB – red) yang sudah dibuat.

Sepakat untuk ‘sepakat’ atau sepakat untuk ‘tidak sepakat’, merupakan hal yang biasa dan perlu disikapi dengan dewasa, namun visi masa depan Tanah Papua menjadi begitu penting untuk diperhatikan dengan baik.

Hilangkan prasangka buruk. Mari kawal visi-misi yang telah dicita-citakan bersama. Papua damai, sejahtera, serta menjadi daerah yang memainkan peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ingat, cara pembangunan atau pemimpin boleh saja berbeda (karena politik) tapi bukankah tujuan kita sama untuk Papua yang lebih baik kedepannya?

Agar tidak tersesat dalam eforia atau kesedihan karena adanya DOB, sudah saatnya kita melakukan persiapan yang baik demi menyambut kedatangannya.

Otsus yang lalu bisa menjadi pelajaran berharga bagi provinsi tertua, Papua, Papua Barat dan DOB di Tanah Papua.

Bandingkan dengan Singapura di tangan Lee Kwan Yew yang hanya dalam 30 tahun menjadi negara maju dan meninggalkan negara lain di ASEAN yang tetap dengan status negara berkembang atau jujurnya, ‘negara miskin’ termasuk Indonesia sendiri.

Indonesia negara miskin? Bahasa yang lebih tepat adalah negara yang ‘salah urus’ alias tidak diurus dengan benar oleh segilintir orang ‘serakah’ walau Indonesia memliki kekayaan alam yang sangat melimpah.

Otonomi khusus (Otsus) Papua sudah berjalan selama lebih dari 20 tahun dan kalau dilihat dari kacamata (pandangan) yang benar, seharusnya Tanah Papua sudah dekat-dekat dengan Singapura dan menjadi daerah yang tidak terbelakang di Indonesia.

Bukan meremehkan atau makar, stop mencontoh ‘Jakarta’ lagi dalam hal melaksanakan pembangunan sesungguhnya di Papua. ‘Jakarta’ ternyata tidak bisa menjadi contoh yang baik.

Belajar buka mata ‘lebar-lebar’! Contohi Singapura atau Australia, negara maju yang sangat dekat dengan Indonesia itu, mari kita tiru keberhasilan mereka!

Langsung saja, filosofi relevan suku Biak, sebuah ‘perahu’ membutuhkan ‘kapten’ yang visioner dan ‘pedayung’ yang bekerja keras dan konsisten serta ‘penumpang’ yang dengar-dengaran untuk sampai ke tujuannya dan jangan lupa bahwa kapten dan pedayung adalah penumpang juga.

Urusan angin/ badai, ombak besar merupakan hal-hal yang tidak bisa dikontrol tapi bisa diminimalisir resikonya ketika sang kapten, pedayung dan penumpang bisa berkolaborasi dengan baik agar bisa melalui dasyatnya badai dan ombak samudera luas.

Pertama, kapan perahu harus berangkat (mengejar cita-cita pembangunan Papua seutuhnya)? Di situasi Tanah Papua hari ini, tidak ada kata terlambat, kita harus segera berangkat hari ini, walau ada badai/ angin kencang dan lautan berombak besar ataupun tanpa ombak!

Kedua, siapa kaptennya (gubernur/ bupati/ walikota)? Pilih pemimpin yang kompeten, berpengetahuan dan memiliki attitude (niat hati/ perilaku benar) yang tahu melayani rakyat dengan hati.

Jangan tertipu dengan mereka yang sering jualan ‘kata-kata surga’ alias “bicara lain, latihan lain, main lain, hasil pasti tra (tidak – red) jelas”.

Yang terpenting, jangan oligarki/ KKN atau harus dari suku ‘A’ atau ‘B” atau ‘kelompok saya’ atau ‘kelompok mereka’. Sudah bukan jamannya bro! Itu penghambat kemajuan! Kompetensi menjadi begitu penting dalam hal ini!

Syukur, sampai saat ini kita masih memiliki kapten-kapten hebat seperti ‘Dominggus Mandacan’ (DM) atau juga ‘Paulus Waterpauw’ (PW) yang bisa menahkodai beberapa kapal besar yang dimiliki Tanah Papua.

Ada juga Kaka ‘Bahlil Lahadalia’ (BL) yang karena kompetensinya, diminta menahkodai kapal yang jauh lebih besar di ‘Jakarta’ sana. Cukup membanggakan!

Melihat kompetensi pemimpin-pemimpin negara di Australia dan Singapura yang kuat dalam membangun negaranya, pemimpin Papua terutama DOB, harus sama seperti Kaka DM, PW, dan kaka BL.

Calon pemimpin DOB seharusnya berjiwa bisnis dan sosial yang diterjemahkan sebagai visioner, cari untung, pekerja keras dan cerdas serta konsisten tapi tetap melayani rakyat secara berkeadilan sosial sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Artinya, sebuah provinsi/ kabupaten itu perlu ‘memutar mesin ekonomi (berbisnis)’ di daerahnya untuk bisa menghidupi masyarakatnya tanpa melupakan sisi sosial kemanusian yang artinya tidak hanya cari untung tapi juga mengurus sosial masyarakat juga.

Jangan tiap saat mengemis ke pemerintah pusat untuk urusan APBD karena itu sangat memalukan! Ingat Tanah Papua itu tanah kaya seumber daya manusia dan alam (SDM/ SDA) dan bisa dikelola dengan baik untuk jadi kemakmuran masyarakat. Jangan miliki ‘mental pengemis’, anda mempermalukan Tuhan-mu!

Lihatlah Singapura, apa kekayaan alam negara itu? Jelas tidak ada! Tapi negara itu telah membuktikan diri bahwa SDM handalnya mampu membalikan keadaan negaranya menjadi negara yang disegani dunia.

Kalau Papua, jelas miliki keduanya bukan? Ada SDM dan juga ada SDA. Jadi, mau pake alasan apa lagi untuk berkelit atau terus mengemis? Buang jauh-jauh mental bobrok itu!

Ketiga, para pedayung atau jajaran pemerintahan/ aparatur negera, menjadi tanggung jawab sang Kapten untuk menentukannya dengan cermat sehingga bisa menjalankan visi-misi sang kapten. Jangan angkat mereka karena Oligarki/ KKN.

Salah pilih pedayung, maka arah kemajuan perahu tidak akan bergerak dengan ritme yang diinginkan oleh sang kapten’. Jangan takut untuk menjadikan si pedayung sebagai penumpang biasa apabila, tidak benar dalam mendayung atau buang saja ke laut kalo memang sudah tidak bisa dikasih arahan.

Terakhir adalah para penumpang (masyarakat umum). Jadilah penumpang yang baik, patuhi rambu-rambu yang ditentukan oleh sang kapten. Kalian yang memilih sang kapten, jadi hormati kapten anda dengan menaati segala perintah dan peraturan, serta rencana-rencana pembangunannya.

Buat yang tidak memilih sang kapten (karena beda pandangan politik), jangan permasalahkan kaptennya tapi mari besama-sama gapai ‘tujuan atau visi-misinya’ karena tujuannya sudah pasti sama, yakni menjadi lebih baik, lebih makmur, lebih maju dan lebih-lebih lainnya! Tetap bersyukur, anda masih bisa menjadi salah satu penumpang di perahu dengan kapten yang bukan pilihan anda.

Kalau ada yang salah-salah dalam hal cara pelayanan ataupun eksekusi rencana-rencana tersebut, jangan segan-segan untuk menyampaikan aspirasi tapi dengan cara yang bermartabat, tidak perlu palang-palang kantor, jalan, demo anarkis,  apalagi sampai bunuh-bunuhan seperti orang yang tidak memiliki budaya saja.

Khusus untuk mama-mama Papua yang mayoritas menjadi penumpang, pemerintah perlu untuk memperhatikan mereka dengan baik karena mereka adalah orang-orang yang membentuk peradaban di Tanah Papua lewat pembentukan karakter SDM yang juga adalah calon kapten, calon pedayung, dan penumpang yang handal dan taat aturan di masa yang akan datang.

Mereka perlu dibekali dengan salah satu kemampuan wajib yakni kemampuan mengelola keuangan keluarga sehingga pengelolaan kebutuhan sandang, pangan dan papan bisa terpenuhi dan anak-anak bisa bersekolah dengan baik.

Ya benar sekali, sekolah adalah jalan terbaik dan investasi terbaik dalam menciptakan kapten-kapten, pedayung-pedayung dan penumpang unggul yang semuanya kelak menjadi SDM tangguh Papua di masa depan yang tidak terpengaruh oleh cuaca buruk!

Percaya atau tidak percaya, kemampuan mama-mama ini akan diturunkan kepada generasi-generasi handal Papua di masa yang akan datang sehingga diharapkan kedepannya, generasi salah urus (hedon, korup, dsb) bisa diminimalisir.

Sebagai pesan penutup dari tulisan kali ini, Redaksi Koreri mau bilang “hai para pedayung dan penumpang, jadilah penumpang yang baik, satukan barisan, ayo mari kita kalahkan ‘Jakarta’ (dalam hal positif). Ingat, kitorang sangat bisa untuk itu!

Mengutip kata-kata Ben Francia, “Perbedaan antara mimpi indah dan kenyataan adalah ditindakan kita (kerja keras), jadi mari kita semua camkan itu baik-baik!

Konten Khusus – Redaksi Koreri