Koreri.com,Manokwari– Eks Ketua Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) Maxsi Nelson Ahoren,S.E sesalkan sikap Bupati Manokwari Selatan Markus Waran,S.T.,M.Si yang diduga melakukan ujaran kebencian melalui pemberitaan terkait dengan rekomendasi yang diterimanya dari unsur agama sebagai bakal calon anggota Majelis Rakyat Papua Barat.
“Semua warga negara berhak menerima rekomendasi dari Gereja manapun, disebutkan bahwa saya pernah menjadi penatua disalah satu denominasi sementara saya pernah menjadi panitia pembangunan gereja hampir di semua denominasi,” kata Ahoren, Jumat (7/7/2023).
Rekomendasi yang diberikan kepada dirinya merupakan kepercayaan yang diberikan oleh gereja karena menganggap apa yang telah dilakukan selama menjabat sebagai ketua MRPB.
“Tidak ada ketentuan didalam Perdasi Nomor 8 bahwa rekomendasi Gereja hanya diberikan kepada orang yang berstatus pendeta atau yang lainnya, semua memiliki hak yang sama,” ucap Ahoren saat memberikan keterangan pers kepada awak media.
Selain itu, Maxsi juga menyebutkan dengan rekomendasi unsur agama yang diterima olehnya memberikan ruang bagi perwakilan adat yang lain dari Kabupaten Manokwari Selatan.
“Harusnya Bupati Manokwari Selatan bersyukur karena lahir generasi baru yang mewakili adat dan perempuan dari sana, sementara selama ini Mansel belum pernah mendapat kuota agama,” sebut Bakal calon Bupati Manokwari Selatan itu.
Bahkan Ahoren juga berterima kasih kepada Bupati Manokwari Selatan yang telah memberikan rekomendasi dirinya sebagai wakil adat asal Mansel pada MRPB periode 2017-2022.
“Saya secara pribadi berterima kasih kepada Bupati yang meberikan rekomendasi saya selama 5 setengah tahun di MRPB, sehingga tidak perlu mencari-cari kesalahan serta berlebihan dalam menanggapi permasalahan ini,” ucapnya.
Terkait masalahan tersebut, Maxsi Ahoren juga akan melayangkan Somasi kepada media online yang memuat berita tersebut, dimana menurutnya terdapat ujaran kebencian yang disampaikan.
“Seharusnya media masa memberikan pembelajaran kepada masyarakat agar menyaring setiap kalimat yang diucapkan narasumber, terlebih ada ujaran kebencian didalamnya,” pungkasnya.
KENN
