as
as

Fakta 22 Tahun Tak Seusai Harapan, Jurnalis PBD Akan Dilibatkan Kawal Otsus Jilid II

USAID Kolaborasi2

Koreri.com, Sorong – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (PBD) bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia melalui Program USAID Kolaborasi melakukan kegiatan media meeting: Kitorang Kawal Otsus” dengan mengusung tema “Media Sebagai Pengawas Pembangunan Daerah dan Optimalisasi Otonomi Khusus di Tanah Papua”.

Giat ini dalam rangka memperingati Hari Otsus di Tanah Papua serta sebagai upaya untuk menjaga hubungan dengan media lokal tentang Otsus serta memberikan peluang untuk memperkuat pengetahuan dan informasi dalam bidang jurnalistik.

Media meeting yang menggandeng para jurnalis di Kota Sorong ini dilaksanakan di Hotel Rylich Panorama, baru-baru ini dengan menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya Hendrina Dian Kandipi selaku Kepala Kantor Berita Antara Biro Papua, wartawan senior Krist Ansaka serta Lucky Ireeuw Pemimpin Redaksi Cenderawasih Pos (Cepos) yang juga Ketua AJI Kota Jayapura.

Sementara, pembicara dari Pemerintah Provinsi PBD diwakili Frengky Albert R. M Saa, SE, MM selaku Koordinator Bidang Riset dan Inovasi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah dengan materi “Membangun DOB dalam rangka Otsus Papua (Program Pembangunan Otsus yang sustainable, komprehensif, serta penganggaran Otsus yang tepat, efektif dan optimal, akuntabilitas penganggaran Otsus lebih khusus pada bidang kesehatan dan pendidikan OAP menuju Indonesia Emas 2045).

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan bekal materi penulisan berupa trik, strategi dan teknik yang terencana dan baik bagi para jurnalis terutama terkait penulisan tentang Otsus di wilayah PBD.

Frengky Saa dalam pernyataannya, secara khusus mendorong pembentukan USAID Kolaborasi media center yang akan melibatkan langsung media jurnalis guna mengawal pelaksanaan kebijakan Otsus di PBD.

Dia menilai keberadaan media center ini sangat penting mengingat 22 tahun sejak 21 November 2001 dana Otsus yang digulirkan ke Papua tidak memberikan manfaat dan sangat jauh dari harapan.

Frengky Saa USAID Kolaborasi
Frengky Albert R. M Saa, SE, MM selaku Koordinator Bidang Riset dan Inovasi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah PBD

Salah satu yang kemudian disorot berkaitan dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih sangat rendah pada sejumlah kabupaten di PBD seperti Tambrauw, Maybrat hingga Sorong Selatan.

“IPM kita sudah terpuruk hari ini.  Lalu pertanyaan, uang Otsus yang sudah dikasih sejak 22 tahun lalu sampai hari ini dimana? Sampai saya pernah bertanya ke Tuhan, apakah orang Papua ini sudah dikutuk paling terburukkah,” bebernya.

Fakta lainnya, Franky juga menyoroti kondisi jalan yang buruk di Sorong Selatan, Maybrat dan Tambrauw.

“Waktu saya sampai di Aifat Timur, saya lihat buruk sekali jalannya. Dengan rumah sakit yang ada di Maybrat, lalu bagaimana dengan orang sudah sakit dari Aifat Timur sana? Mati di tengah jalan. Apalagi ke Sorong Selatan. Ini kita baru bicara satu aspek, fasilitas rumah sakit. Baru satu item, belum bicara pendidikan,” bebernya lagi.

Untuk itu, Frangky menekankan, keberadaan media center itu sangat penting.

“Target kita adalah bagaimana media ini terlibat dengan kita full, dan akan kita siapkan satu produk hukum untuk itu. Juga  kerja sama dengan Komisi Informasi Publik. Supaya ketika orang mau minta data Otsus, lalu OPD tidak berikan maka OPD itu disidang karena media adalah garda terdepan mengawal Otsus ini agar bisa jalan dengan baik,” pungkasnya.

Direktur Proyek USAID Kolaborasi yang diwakili Interim Manajer Proyek Senior, Radika Pinto dalam pernyataannya menjelaskan USAID Kolaborasi ini merupakan dukungan dari masyarakat AS dengan durasi program hingga 2027.

Dan kegiatan “Kitorang Kawal Otsus” ini merupakan bagian dari kolaborasi antara NGO (USAID) dengan media jurnalis.

“Waktu pertemuan di Papua Barat Manokwari dua bulan lalu saya mengistilahkan rekan-rekan jurnalis sebagai hakim garis dalam sepakbola. Dan dalam momen kali ini kami mengistilahkan rekan-rekan jurnalis berperan sebagai  Foreder (pelopor),” ungkapnya.

USAID KolaborasiBaginya, Foreder itu  perlu tahu rencana awal, kemudian tahu apa yang dikawal, dan  juga harus berperan optimal dalam memberikan informasi bahwa ada sesuatu di depan yang akan lewat dan memastikan akan lewat dengan lancar.

Begitu juga berperan secara  optimal untuk bagaimana bisa mengantar sampai tujuan serta dia juga bisa memberikan solusi ketika menghadapi kendala sehingga memberikan jalan yang lain untuk bisa sampai pada tujuan.

“Sangat penting untuk kita membawa Otsus jilid 2 ini sampai pada tujuan. Karena tentu banyak pelajaran dari Otsus jilid 1 dan tujuannya agar bagaimana optimalisasi Otsus ini bagi masyarakat. Karena sampai Hari Otsus kemarin, masih  saja ada yang menyampaikan keluhan-keluhan. Yang penting bagi kita adalah bagaimana keluhan-keluhan itu bisa terjawab dengan solusi ,” tegas Radika Pinto.

Sebagai foreder juga perlu saling berkomunikasi dan berkolaborasi.

“Dalam program kita ini mungkin ke depan, rekan-rekan Jurnalis akan lebih banyak diperjumpakan atau dikenalkan dengan stakeholder yang selama ini tak mudah berkomunikasi.  Misalnya beberapa pertemuan kita ada kemandekan komunikasi dengan pihak Pemda. Ketika kita kesulitan mengakses berapa sih anggaran Otsus misalnya untuk pendidikan, kesehatan di Kabupaten A atau di dinas ini seringkali banyak hal yang ditutupi. Dengan komunikasi dan koordinasi itu semoga bisa membuka relasi kita dengan orang yang sudah kita kawal sebenarnya,” bebernya.

USAID Kolaborasi lanjut Radika Pinto juga memiliki pendekatan pendampingan ke komunitas di kampung-kampung untuk mengajari masyarakat bagaimana bersuara atas apa yang sebenarnya adalah hak masyarakat.

“Ini sesuatu yang baru. Karena selama ini trust antara masyarakat dengan pemerintah sangat rendah dan kita ingin membangun bagaimana masyarakat menyampaikan haknya dalam pendidikan, terhadap kesehatan juga kebijakan-kebijakan lain dalam Otsus ini. Dan rekan-rekan kami akan perjumpakan dengan situasi riil yang ada di kampung dan menjembatani komunikasi  antara warga dengan pemerintah,” tandasnya.

Radika Pinto menegaskan USAID Kolaborasi hanya bertujuan untuk bagaimana pelaksanaan Otsus Jilid 2 ini bisa optimal.

ZAN

as