BRIN Gelar Pelatihan Pembuatan Biogas Skala Rumah Tangga di Sorong, Targetkan Ini

BRIN Gelar Pelatihan Biogas di Sorong

Koreri.com, Sorong – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Program Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk masyarakat menggelar Pelatihan Pembuatan Biogas Skala Rumah Tangga bertempat di Hotel Vega Sorong, Selasa (23/1/2024).

Peneliti BRIN Prasetyadi dihadirkan sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut.

Total 200 peserta dari kalangan masyarakat umum yang dilibatkan dalam pelatihan ini.

Prasetyadi dalam keterangannya mengakui, sampah makanan di Sorong memang sebetulnya belum terlalu banyak tapi bisa menjadi contoh untuk tempat-tempat lainnya karena itu yang memang jadi masalah.

“Dan sampah makanan itu sebetulnya kalau telat-telat sedikit jadi bau. Nah, kalau itu udah dipisah, maka pengolahan sampah yang lain akan lebih mudah untuk ditangani dan itu memungkinkan karena gampang,” akuinya kepada awak media saat dikonfirmasi di sela-sela kegiatan, Selasa (23/1/2024).

Prasetyadi membenarkan potensi dari sampah makanan itu lebih menjanjikan di banding peternakan yang hanya ada pada tempat-tempat tertentu saja. Kalau pun sekarang sudah ada yang dimanfaatkan untuk ternak namun itu masih sebagian kecil saja.

“Yang lain misalnya di pasar-pasar ya, itu masih banyak yang bisa kita manfaatkan untuk pengolahan biogas dari sampah makanan,” sambungnya.

Untuk potensi biogas dari sampah makanan rumah tangga yang dihasilkan, Prasetyadi mengaku memang tidak terlalu banyak atau kecil kecuali kalau ada yang mengumpulkan dari beberapa rumah tangga kemudian jadikan satu.

“Dari pengamatan saya sampah rumah tangga paling banyak 2 ons untuk satu rumah tangga sehingga untuk 1 unit saja itu kita butuh sekitar 5 rumah tangga supaya cukup satu kilo atau satu kilo setengah jadi satu kebutuhan satu rumah tangga,” bebernya.

Aplikasinya lanjut Prasetyadi, sangat mudah sekali hingga bisa sampai menghasilkan gas untuk rumah tangga itu sendiri.

“Karena itu kan kita tinggal blender campur air langsung masukin ke reaktor. Selebihnya tinggal reaktor itu menghasilkan biogas masuk ke dapur untuk pengganti LPG,” lanjutnya.

Prasetyadi menambahkan jika pihaknya akan mengusulkan melalui perwakilan untuk minta ke BRIN terkait praktek bagi peserta pelatihan melalui asistensi atau pendampingan.

“Nanti tinggal pembiayaannya dari mana? Apakah di sini ada perusahaan yang bisa mendukung implementasi teknologi ini? Saya sih mengharap ada upaya-upaya dari kelompok atau dari organisasi manapun untuk mencari pendanaan itu,” tambahnya.

Sebetulnya, kata Prasetyadi, banyak dana CSR perusahaan-perusahaan besar yang memang masih belum tahu mau disalurkan ke mana karena mereka harus tepat sasaran.

“Nah proyek ini tepat karena ini memang pertama, untuk substitusi bahan bakar. Karena di sini (Sorong) itu katanya harga elpiji 400.000. Nah lumayanlah itu cukup membebani. Maka kalau misalnya itu bisa diambil dari sampah, sehingga sampah itu yang tadinya bermasalah di lingkungan malah kemudian menjadi bermanfaat. Sudah begitu kan kita bisa memanfaatkan atau mensubstitusi LPG yang tadinya harganya 400.000 rupiah menjadi gratis gitu untuk bahan bakar rumah tangga,” pungkasnya.

ZAN

Exit mobile version