Papua Darurat Demokrasi, Warga Desak Hentikan Intervensi Hasil PSU Pilgub

Masyarakat Papua demo tolak intervensi hasil PSU

Koreri.com, Jayapura – Ratusan warga Papua yang terdiri dari tokoh agama, pimpinan denominasi gereja, pemuda, hingga perwakilan paguyuban menggelar aksi demo damai di Kantor Gubernur Papua, Dok II, Kota Jayapura, Senin (11/8/2025).

Aksi yang berlangsung aman dan tertib ini diwarnai dengan penyerahan aspirasi kepada Pj Sekda Papua, Suzana Wanggai didampingi Asisten III Triwarno dan jajaran OPD setempat.

Sebagai simbol “matinya demokrasi” di Papua, masyarakat adat dari Kampung Kayu Batu juga melakukan aksi pemalangan pintu Kantor Gubernur Papua.

Koordinator lapangan aksi, Pdt. John Baransano, menegaskan bahwa PSU Pilgub Papua telah tercoreng oleh dugaan intervensi “mafia politik” yang ingin mengatur hasil pemilihan.

“Kami minta Presiden Prabowo menertibkan aparat kepolisian dan membiarkan rakyat memilih sesuai hati nurani. Kami juga menilai Menteri Bahlil Lahadalia tidak netral, bahkan pernyataan Pj Gubernur Papua Agus Fatoni menunjukkan indikasi keberpihakan kepada salah satu paslon,” tegasnya.

Baransano menuding pernyataan Agus Fatoni di sejumlah kesempatan baik saat kunjungan ke Saireri maupun saat memimpin apel di Kantor Wali Kota Jayapura memperlihatkan keberpihakan.

Ia memperingatkan bahwa kondisi Papua saat ini sudah “tidak baik-baik saja” dan berpotensi memicu konflik pasca PSU.

“Kami akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar. Kalau demokrasi di Papua terus dihambat, kami siap melawan siapa saja yang merusaknya,” tegasnya.

Sementara itu, Pj Sekda Papua, Suzana Wanggai, menyatakan bahwa aspirasi tersebut akan segera diteruskan kepada Pj Gubernur Papua.

“Aspirasi ini saya terima dan akan segera ditindaklanjuti dengan melaporkannya kepada pimpinan,” ujarnya.

Aksi ini menjadi sinyal keras bahwa publik Papua menilai proses demokrasi di tanah mereka sedang berada dalam situasi darurat, dan mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah tegas untuk menghindari eskalasi konflik.

EHO

Exit mobile version