Saksi Kunci Ungkap Peristiwa Pembunuhan Sadis Nakes Diawali Bunyi Letusan Senpi

Saksi Kunci Hamzah Saksikan Kejadian Awal
Hamzah (baju kaos lengan Panjang putih - celana pendek putih) yang kesehariannnya menjadi Tenaga Kesehatan di RS Pratama Fef, saksi kunci yang selamat dari peristiwa pembunuhan sadis nakes Yeremia Lobo dan warga sipil Edwin di Kampung Jokba, Distrik Bamus Bama, Kabupaten Tambarauw mengungkapkan awal mula kejadian naas tersebut, Rabu (18/3/2026) / Foto : KENN

Koreri.com, Sorong – Hamzah, saksi kunci yang merupakan satu dari dua korban selamat peristiwa pembunuhan sadis tenaga kesehatan Yeremia Lobo dan warga sipil Edwin di Kampung Jokba, Distrik Bamus Bama, Kabupaten Tambarauw, Senin (16/3/2026) mengungkapkan awal kejadian naas tersebut.

Hamzah yang bertugas sebagai Tenaga Kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Pratama Fef menjelaskan awalnya mereka berempat menggunakan 3 unit sepeda motor menuju Sorong.

“Kami berempat dari Fef tujuan mau ke Sorong menggunakan tiga unit sepeda motor. Dua motor masing-masing dikendarai satu orang, sementara satu motor berboncengan dengan Edwin yang juga salah satu korban meninggal,” ungkapnya.

Saat mendekati lokasi sekitar 30 meter sebelum titik kejadian (sekitar area tikungan kiri), tiba-tiba terdengar bunyi letusan senjata api (senpi) yang kemudian memicu kepanikan.

“Tidak lama kemudian, kami melihat sekitar 4 sampai 5 orang muncul secara tiba-tiba di tikungan. Mereka membawa tombak dan langsung membuat kami semakin panik,” bebernya.

Karena situasi begitu cepat dan mencekam, Hamzah mengaku rombongannya berusaha menyelamatkan diri.

“Saya berada di posisi paling belakang. Di depan saya ada dua rekan, salah satunya korban selamat, saudara Robi, dan satu lagi saudara Yeremia yang juga menjadi korban,” sahutnya.

“Saudara Yeremia juga panik dan melakukan pengereman mendadak hingga motornya terjatuh. Saya yang berada di belakang tidak sempat menghindar dan menabrak motor tersebut. Setelah itu, saya langsung lari ke arah pinggir dan masuk ke area pepohonan untuk menyelamatkan diri. Saudara Robi yang melihat saya berlari kemudian ikut menyelamatkan diri. Sementara dua korban lainnya tidak sempat menyelamatkan diri,” sambung Hamzah.

Untuk korban lainnya, salah satunya adalah Edwin asal NTT yang merupakan masyarakat sipil juga terjatuh.

Hamzah mengakui bahwa peristiwa tersebut terjadi sangat cepat, diperkirakan hanya dalam hitungan detik. Para pelaku berjumlah sekitar 4 sampai 5 orang, semuanya membawa tombak, dan diduga melakukan penyerangan setelah terdengar bunyi letusan senpi yang diduga memicu kepanikan.

Jarak antara bunyi tembakan dengan titik kejadian diperkirakan sekitar 30 meter.

“Harapan kami, para pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” desaknya.

KENN

Exit mobile version