Koreri.c, Opini – Di ufuk timur Indonesia, ketika matahari pertama menyentuh gugusan Raja Ampat dan cahaya pagi menyapu pegunungan Arfak hingga lembah-lembah hijau Papua, alam seolah sedang mengajarkan satu pelajaran sederhana: kehidupan hanya dapat tumbuh dengan baik ketika manusia hidup selaras dengan lingkungannya.
Papua dianugerahi hutan tropis yang luas, sungai-sungai yang mengalir jernih, udara yang relatif bersih, serta kekayaan biodiversitas yang menjadi salah satu paru-paru terakhir dunia.
Namun di balik keelokan bentang alam itu, masih tersimpan tantangan besar yang menguji kualitas pembangunan manusia: Tuberkulosis (TBC) dan stunting.
Kedua persoalan tersebut sesungguhnya memiliki akar yang sama.
Ia tumbuh ketika kemiskinan bertemu dengan lingkungan yang tidak sehat, ketika gizi yang kurang baik bertemu dengan sanitasi yang belum memadai, dan ketika penyakit menular berjumpa dengan rendahnya kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat.
Karena itu, upaya mengakhiri TBC selain melalui pengobatan yang intensif.
Ia harus berjalan berdampingan dengan perbaikan lingkungan, peningkatan kualitas pangan, serta pembangunan budaya hidup sehat yang mengakar di masyarakat.
Dalam semangat itulah, Pemerintah Kota Sorong Bersama HAKLI (himpunan ahli Kesehatan lingkungan Indonesia) dan AKKOPSI (Aliansi Kabupaten-Kota Peduli Sanitasi) mendukung komitmen para kepala daerah se-Tanah Papua pada tanggal 29–30 Mei 2026 menyelenggarakan Deklarasi Gerakan Pemberantasan TBC Berbasis Komunitas melalui Higiene Sanitasi dan Dukungan Quality Control di SPPG pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Deklarasi ini bukan sekadar seremoni administratif.
Ia merupakan ikrar moral bahwa Papua ingin berdiri di garis depan perjuangan menuju eliminasi TBC tahun 2030.
Menurut laporan World Health Organization (WHO), Indonesia masih termasuk negara dengan beban TBC tertinggi nomor dua di dunia.
Diperkirakan lebih dari 1 juta kasus TBC baru terjadi setiap tahun dengan kematian mencapai sekitar 125.000 jiwa per tahun.
Artinya, setiap hari lebih dari 300 orang Indonesia meninggal akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan.
Bakteri Mycobacterium tuberculosis lebih mudah menyebar pada rumah yang padat penghuni, ventilasi buruk, pencahayaan minim, kelembapan tinggi, serta lingkungan yang tidak sehat.
Alam Papua sesungguhnya menyediakan modal ekologis yang luar biasa.
Hutan yang luas menghasilkan oksigen, sungai menyediakan air, dan ruang terbuka memberikan sirkulasi udara alami yang menjadi musuh bagi penularan penyakit berbasis droplet seperti TBC.
Namun modal alam tersebut harus diperkuat oleh perilaku manusia.
Karena itu, deklarasi para kepala daerah se-Tanah Papua menjadi momentum penting untuk membangun gerakan kolektif yang bertumpu pada tiga pilar utama: 1.
Masyarakat Hidup Sehat : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),
1.Rumah sehat dengan ventilasi memadai, Deteksi dini TBC, Kepatuhan pengobatan. 2. Lingkungan Sehat : Sanitasi layak, Air bersih aman, Pengelolaan sampah, Pengendalian kepadatan hunian.
3. Pangan Bergizi dan Aman : Penguatan Program MBG, Peningkatan kualitas gizi ibu hamil dan balita, Keamanan pangan sekolah.
Kajian WHO menunjukkan bahwa kekurangan gizi merupakan faktor risiko terbesar kedua penyebab TBC setelah kontak dengan penderita aktif.
Karena itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki makna strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar program penyediaan makanan.
MBG merupakan investasi kesehatan jangka panjang.
Program ini akan memperkuat : Status gizi balita, Status gizi ibu hamil, Kesehatan siswa sekolah, Daya tahan tubuh masyarakat yang pada akhirnya akan memperkecil kerentanan terhadap penyakit infeksi termasuk TBC.
Dukungan Pemerintah Kota Sorong dan kepala daerah se-Tanah Papua untuk mempercepat penempatan Tenaga Sanitasi Lingkungan (Sanitarian) pada SPPG merupakan langkah yang sangat visioner.
Idealnya tersedia minimal 1 tenaga sanitasi lingkungan untuk setiap 5 SPPG sebagai pengawas higiene sanitasi dan quality control pangan.
Peran mereka meliputi: Inspeksi higiene sanitasi dapur, Pengawasan kualitas air, Pengendalian kontaminasi pangan, Monitoring limbah, Pengawasan penyimpanan bahan makanan, Pencegahan keracunan pangan.
Kedepan, Papua membutuhkan transformasi dari budaya mengobati menuju budaya mencegah.
Budaya pencegahan itu dapat dimulai dari tindakan yang sederhana: Membuka jendela rumah setiap pagi, Menjemur kasur dan perlengkapan tidur, Menggunakan air bersih secara aman, Tidak membuang sampah sembarangan, Menjaga kebersihan lingkungan, Mengonsumsi pangan bergizi, Menyelesaikan pengobatan TBC hingga tuntas.
Deklarasi yang lahir di Kota Sorong bukan sekadar dokumen. Ia adalah panggilan moral. Panggilan untuk menghadirkan Papua yang lebih sehat.
Panggilan untuk memastikan bahwa setiap anak dapat tumbuh tanpa stunting. Panggilan untuk memastikan bahwa setiap keluarga terbebas dari ancaman TBC.
Panggilan untuk menjadikan sanitasi, gizi, dan kesehatan lingkungan sebagai budaya kehidupan.
Di tanah yang dianugerahi hutan lebat, sungai yang panjang, laut yang kaya, dan pegunungan yang megah ini, sesungguhnya alam telah menyediakan sebagian besar syarat untuk hidup sehat.
Yang kini dibutuhkan adalah kesadaran manusia untuk menjaganya.
Karena pada akhirnya, eliminasi TBC bukan hanya tentang mengalahkan bakteri. Ia adalah tentang memenangkan peradaban yang menghormati udara yang dihirup, air yang diminum, pangan yang dikonsumsi, dan lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis : Ketua Umum PP HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan
