Opini  

Ketika Matahari Tidak Lagi Bersalah

Gelombang Panas Eropa, Kesehatan Lingkungan dan Pelajaran One Health bagi Masa Depan Peradaban

Ilustrasi Opini Ketika Matahari Tak Lagi Bersalah
Ilustrasi / Foto : Ist

Koreri.com – Tidak ada yang lebih jujur daripada matahari. Ia tidak pernah memilih siapa yang akan dihangatkan, sebagaimana hujan tidak pernah memilah tanah yang hendak dibasahinya. Selama ribuan tahun matahari menjadi sahabat kehidupan; menumbuhkan gandum di dataran Eropa, memelihara hutan-hutan pinus di utara, menghidupkan kebun-kebun anggur di Prancis dan Italia, sekaligus menemani lahirnya peradaban yang kelak menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Namun pada musim panas tahun ini, matahari seolah menulis babak lain dari sejarah manusia. Cahaya yang dahulu dipuji sebagai sumber kehidupan berubah menjadi bara yang menguji daya lenting sebuah peradaban.

Jalan-jalan batu di Madrid, Paris, Roma, Athena hingga Berlin memancarkan panas yang tidak lagi sekadar menyentuh kulit, melainkan menguras daya tahan tubuh manusia. Malam kehilangan kesejukannya. Angin seolah lupa membawa embun. Kota-kota yang selama ini menjadi simbol kemajuan berubah menjadi ruang raksasa yang memantulkan panas tanpa jeda.

Gelombang panas yang melanda Eropa pada penghujung Juni hingga awal Juli 2026 bukan sekadar mencatatkan rekor suhu. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan lebih dari 150 juta penduduk terdampak suhu ekstrem. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih hanya dalam hitungan hari. Di Spanyol, lebih dari seribu kematian dikaitkan dengan suhu ekstrem, sementara Prancis mengalami lonjakan kematian yang jauh melampaui pola musiman. Benua yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pelopor konservasi lingkungan justru sedang menyaksikan bagaimana panas mampu mengubah ruang hidup menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Akan tetapi, sesungguhnya persoalan terbesar bukanlah tingginya angka kematian. Persoalan yang lebih mendasar adalah cara kita memahami kematian itu sendiri. Selama ini, gelombang panas hampir selalu dijelaskan sebagai konsekuensi logis perubahan iklim global. Penjelasan tersebut benar, tetapi belum utuh dan bijak. Ia baru menjelaskan penyebab meteorologis, belum menjelaskan mengapa panas yang sama dapat menghadirkan dampak kesehatan yang berbeda pada setiap kota, setiap kelompok masyarakat, bahkan setiap individu. Di sinilah kesehatan lingkungan menghadirkan cara pandang yang lebih luas. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak pernah sakit sendirian; manusia sakit bersama ruang yang ditinggalinya.

Dalam perspektif kesehatan lingkungan, panas bukanlah musuh utama. Musuh sesungguhnya adalah hilangnya kemampuan lingkungan melindungi tubuh manusia. Ketika pohon semakin sedikit menaungi jalan, ketika beton dan aspal menyimpan panas sepanjang hari, ketika ventilasi kota terhambat oleh rapatnya bangunan, ketika kualitas udara memburuk akibat pembentukan ozon permukaan dan partikulat halus, maka lingkungan kehilangan fungsi biologisnya sebagai pelindung kehidupan. Yang sedang mengalami demam bukan semata-mata tubuh manusia, melainkan ekosistem perkotaan itu sendiri.

Tubuh manusia sesungguhnya diciptakan dengan kecerdasan fisiologis yang luar biasa. Melalui mekanisme berkeringat, vasodilatasi pembuluh darah, dan pengaturan metabolisme, tubuh berusaha mempertahankan suhu inti sekitar 37 derajat Celsius. Namun ketika suhu udara yang sangat tinggi bertemu kelembapan yang meningkat, kemampuan tubuh melepaskan panas menjadi semakin terbatas. Keringat tidak lagi mudah menguap. Panas terperangkap di dalam tubuh. Jantung dipaksa bekerja lebih keras, ginjal kehilangan cadangan cairan, otak mengalami gangguan perfusi, dan organ-organ vital perlahan memasuki fase kegagalan. Banyak korban gelombang panas sebenarnya tidak meninggal karena suhu semata, melainkan karena penyakit kronis yang kehilangan ruang fisiologis untuk bertahan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kesehatan lingkungan bukan sekadar ilmu tentang limbah, air bersih, sanitasi, atau kualitas udara. Ia adalah ilmu yang mempelajari bagaimana lingkungan mempertahankan martabat biologis manusia. Ketika lingkungan gagal menjalankan fungsi tersebut, penyakit datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai konsekuensi ekologis. Di sinilah pendekatan One Health menemukan maknanya yang paling mendalam.

Selama ini One Health sering dipahami sebagai hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan. Pemahaman tersebut memang benar, tetapi sesungguhnya terlalu sederhana. One Health adalah pengakuan bahwa seluruh kehidupan bekerja dalam satu jejaring yang saling menopang. Sungai yang mengering bukan hanya kehilangan air, tetapi juga kehilangan mikroorganisme yang menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan yang memanas memaksa satwa liar mengubah pola migrasinya. Serangga pembawa penyakit memperluas wilayah jelajahnya menuju daerah yang sebelumnya aman. Tanah yang kehilangan kelembapan mengubah komunitas mikroba, memengaruhi produktivitas pangan, dan pada akhirnya mempengaruhi status gizi manusia. Bahkan kualitas udara yang memburuk akibat panas ekstrem meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan. Dalam One Health, tidak ada batas yang tegas antara kesehatan manusia dan kesehatan bumi. Yang berubah bukan hanya suhu udara, melainkan seluruh jaringan kehidupan.

Ironinya, pelajaran tersebut justru datang dari Eropa. Tidak ada kawasan lain yang dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan komitmen konservasi sekuat Eropa. Emisi karbon ditekan melalui transisi energi. Sungai-sungai direstorasi. Kawasan hijau diperluas. Ekonomi sirkular dikembangkan. Perlindungan biodiversitas diperkuat melalui berbagai instrumen kebijakan. Namun gelombang panas menunjukkan sebuah kenyataan yang lebih kompleks. Menjaga lingkungan ternyata belum otomatis menjadikan manusia siap menghadapi lingkungan yang telah berubah.

Di banyak kota tua Eropa, bangunan berarsitektur batu yang dahulu menjadi simbol ketahanan kini berubah menjadi penyimpan panas raksasa. Aspal, beton, dan dinding bangunan menyerap energi matahari sepanjang siang, kemudian melepaskannya perlahan sepanjang malam. Fenomena urban heat island menyebabkan suhu malam tetap tinggi sehingga tubuh kehilangan kesempatan melakukan pemulihan fisiologis. Kota yang dibangun untuk menghadapi musim dingin ternyata belum sepenuhnya siap menghadapi musim panas yang semakin ekstrem.

Ironi inilah yang sesungguhnya layak menjadi bahan renungan dunia. Persoalan hari ini bukan lagi sekadar bagaimana mengurangi emisi karbon, melainkan bagaimana membangun kota yang memahami kebutuhan biologis manusia. Dalam perspektif kesehatan lingkungan, kota bukan hanya kumpulan bangunan. Kota adalah organisme hidup. Jalan adalah pembuluh darahnya. Taman adalah paru-parunya. Sungai adalah sistem sirkulasinya. Pepohonan adalah mekanisme pendinginnya. Ketika salah satu organ itu kehilangan fungsi, seluruh kota mengalami demam ekologis.

Karena itu, solusi terhadap gelombang panas tidak dapat hanya bergantung pada pendingin udara. Pendinginan mekanis memang menyelamatkan individu, tetapi belum tentu menyelamatkan bumi. Ketergantungan berlebihan pada pendingin udara meningkatkan konsumsi energi dan berpotensi memperbesar emisi gas rumah kaca apabila sistem energinya belum sepenuhnya bersih. Kesehatan lingkungan justru menawarkan pendekatan yang lebih mendasar melalui pendinginan pasif: memperbanyak kanopi pohon, memperluas ruang terbuka hijau, menghidupkan kembali koridor angin perkotaan, memperbaiki desain bangunan, memanfaatkan material beralbedo tinggi, serta menjadikan air sebagai elemen penyejuk ruang kota.

Semua itu sesungguhnya bukan sekadar strategi adaptasi iklim. Ia adalah investasi kesehatan untuk kesejateraan masyarakat. Bagi Indonesia, gelombang panas Eropa seharusnya tidak dibaca sebagai berita dari negeri yang jauh. Ia adalah cermin yang memantulkan kemungkinan masa depan kita sendiri. Kota-kota besar di Indonesia menghadapi urbanisasi yang cepat, ruang hijau yang semakin menyempit, konsumsi energi yang terus meningkat, serta perubahan iklim yang semakin nyata. Jika pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa merawat mikroklimat, maka kita sedang membangun kota yang perlahan kehilangan kemampuan melindungi penghuninya.

Mungkin inilah saatnya kita mengembalikan kesehatan lingkungan pada kedudukannya yang paling hakiki: bukan sekadar disiplin yang mengelola pencemaran, tetapi ilmu yang menjaga harmoni antara manusia dan seluruh jejaring kehidupan. Sebab kesehatan sejatinya tidak lahir di ruang perawatan, melainkan tumbuh dari udara yang bersih, tanah yang subur, air yang lestari, pohon yang menaungi, dan kota yang memberi ruang bagi angin untuk berembus.

Gelombang panas Eropa akhirnya mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat sederhana, tetapi sering terlupakan. Alam tidak sedang menghukum manusia. Alam sedang menunjukkan batas-batas yang selama ini kita abaikan. Dan mungkin, ketika bumi terasa semakin panas, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya ketahanan iklim kita, melainkan kebijaksanaan peradaban kita sendiri. Sebab bumi tidak pernah meminta manusia menjadi penguasanya. Bumi hanya berharap manusia tetap menjadi penjaganya sebagai khalifah yang merawat bumi dengan Istiqomah.

“Pada akhirnya, kesehatan lingkungan bukan sekadar menjaga bumi agar tetap layak dihuni, tetapi menjaga hubungan manusia dengan alam agar tetap saling menghidupi”.

 

Penulis : Arif Sumantri*)

*) Ketua Umum PP HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

Exit mobile version