Koreri.com, Nabire – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah terus memperkuat komitmennya dalam membangun masa depan anak-anak melalui sektor pendidikan.
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini yang dipusatkan di Kabupaten Nabire tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum penting untuk meletakkan tonggak sejarah baru bagi masa depan anak-anak di seluruh pelosok Papua Tengah.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah secara resmi mendukung deklarasi menuju Provinsi Papua Tengah Layak Anak.
Kebijakan ini menegaskan bahwa sekolah dan seluruh lingkungan belajar di Papua Tengah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, ramah anak, serta bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan perundungan.
“Dengan demikian, tidak boleh ada lagi anak Papua Tengah yang terabaikan haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas,” tegas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Nurhaida Nawipa, SE dalam laporannya pada peringatan HAN 2026, Kamis (23/7/2026).
Paradigma Baru Pengembangan Daya Saing Anak Papua Tengah
Untuk mewujudkan provinsi layak anak yang berdaya saing tinggi, Disdikbud Papua Tengah melakukan perubahan paradigma secara fundamental dalam pengelolaan dan penyiapan sumber daya manusia.
“Jika sebelumnya penyiapan daya saing siswa dilakukan dengan mengirimkan mereka ke lembaga-lembaga kemitraan di Pulau Jawa dan Bali, sejak 2025 kebijakan tersebut mulai diubah secara fundamental,” ungkap Kadis.
Pemerintah kini memprioritaskan penyiapan daya saing pendidikan anak secara langsung di dalam wilayah Provinsi Papua Tengah.
Salah satu langkah progresif yang dilakukan adalah menggandeng lembaga kursus bahasa Inggris lokal yang dikelola oleh anak-anak asli Papua (OAP), yang merupakan lulusan perguruan tinggi dari dalam maupun luar negeri.
Pembelajaran bahasa Inggris tidak lagi diberikan secara terbatas hanya menjelang siswa dikirim ke luar daerah. Sebaliknya, kemampuan tersebut mulai dibangun sejak dini melalui program kursus yang terstruktur.
Program ini melibatkan siswa SD kelas 4, 5, dan 6, serta siswa SMP, SMA, dan SMK kelas 1, 2, dan 3. Pembelajaran dilaksanakan menggunakan kurikulum standar lembaga bahasa Inggris dengan target awal sebanyak 4.250 siswa.
Dan berdasarkan data lapangan, jumlah siswa yang mengikuti program tersebut mencapai 4.370 orang atau melampaui target yang telah ditetapkan.
Tingginya jumlah peserta menunjukkan antusiasme yang besar dari para siswa untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. Dan dari jumlah tersebut, sebanyak 99,8 persen merupakan anak-anak asli Papua Tengah.
Program ini memiliki tujuan strategis, yakni mencetak generasi Papua Tengah yang memiliki kemampuan bahasa Inggris sejak dini.
“Dengan bekal tersebut, para siswa diharapkan memiliki kepercayaan diri dan daya saing yang lebih tinggi untuk meraih berbagai peluang pendidikan dan beasiswa secara mandiri, baik di tingkat nasional maupun internasional,” sambung Kadis.
Revitalisasi SMA Meepago
Selain program penguatan bahasa Inggris, Disdikbud Papua Tengah juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire untuk melakukan revitalisasi penerimaan siswa baru di SMA Meepago.
Sekolah tersebut dipersiapkan secara khusus untuk mencetak lulusan yang memiliki peluang besar meraih beasiswa LPDP, beasiswa luar negeri dari kedutaan negara sahabat, maupun beasiswa yang ditawarkan oleh lembaga swadaya masyarakat internasional.
Pada tahun ini, SMA Meepago menyediakan kuota bagi 60 siswa unggulan yang akan diseleksi di tingkat kabupaten. Persyaratan utama yang ditetapkan adalah memiliki prestasi akademik yang baik serta kemampuan bahasa Inggris yang memadai.
KPG Jadi Pusat Pembentukan Guru Masa Depan
Di sisi lain, Pemprov Papua Tengah juga menaruh perhatian serius terhadap persoalan ketersediaan dan tingkat kehadiran guru di sekolah.
Krisis guru, yang dipengaruhi oleh keterbatasan tenaga pendidik, kompetensi, serta belum optimalnya panggilan jiwa dan komitmen mengajar, berdampak langsung terhadap kekosongan guru di ruang kelas. Kondisi tersebut pada akhirnya turut memengaruhi kualitas pembelajaran dan tingkat literasi siswa.
Sebagai salah satu solusi, Pemprov Papua Tengah melalui Disdikbud mengambil alih pengelolaan Kolese Pendidikan Guru (KPG) berbasis asrama.
KPG akan dikembangkan sebagai pusat pembentukan karakter, panggilan jiwa guru, semangat pengabdian, serta pembelajaran yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat Papua Tengah.
Program ini akan disinergikan melalui kerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan lembaga penyelenggara Pendidikan Profesi Guru (PPG) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Tujuannya adalah mencetak calon guru PAUD, TK, dan SD yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah.
Kuota penerimaan siswa KPG akan disesuaikan dengan kapasitas daya tampung serta pemetaan kebutuhan guru PAUD, TK, dan SD untuk 20 tahun ke depan.
Untuk tahun 2026, KPG menyediakan kuota penerimaan sebanyak 120 calon siswa. Kuota tersebut menggunakan formula keterwakilan, yakni satu anak dari setiap distrik di seluruh wilayah Provinsi Papua Tengah.
Terdapat dua persyaratan utama dalam penerimaan calon siswa KPG, yaitu: Putra-putri asli dari distrik setempat yang memiliki nilai akademik terbaik; dan Lulus tes psikologi untuk mengukur keterpanggilan menjadi guru serta memiliki komitmen terhadap pengabdian.
Anak Papua Tengah Harus Menjadi Tuan di Tanahnya Sendiri
Pembangunan fondasi pendidikan baru di Papua Tengah membutuhkan keberanian, komitmen, dan kerja keras bersama.
Memindahkan pusat penyiapan daya saing anak dari luar daerah ke dalam wilayah Papua Tengah merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa anak-anak Papua Tengah memperoleh kesempatan terbaik di tanahnya sendiri.
Dengan memperkuat pendidikan, membangun kemampuan bahasa asing sejak dini, menyiapkan sekolah unggulan, serta mencetak guru-guru yang memiliki kompetensi dan panggilan pengabdian, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berupaya memastikan generasi muda Papua Tengah tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi penggerak utama masa depan daerah.
“Memindahkan pusat penyiapan daya saing dari luar daerah ke dalam daerah kita sendiri adalah satu-satunya jalan terhormat untuk memastikan anak-anak Papua Tengah menjadi tuan di tanahnya sendiri,” pungkas Kadis.
HMS
