87 Anak Kofiau Belajar Konservasi, Disiapkan Jadi Penjaga Masa Depan Raja Ampat

IMG 20260812 WA0034

Koreri.com, Waisai– Upaya menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini terus diperkuat di Kabupaten Raja Ampat. Sebanyak 87 anak di Distrik Kofiau mengikuti program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk mengenal lebih dekat pentingnya menjaga ekosistem laut dan darat sebagai sumber kehidupan masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 ini digelar oleh Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) bersama Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelola Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, dengan dukungan pendanaan hibah dari Blue Abadi Fund (BAF).

Program tersebut menyasar sekolah-sekolah yang berada di dalam Kawasan Konservasi Kofiau-Boo, salah satu dari lima kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil (KKP3K) di Raja Ampat.
Melalui metode belajar yang interaktif dan menyenangkan, para siswa diajak memahami fungsi ekosistem pesisir dan laut, pentingnya menjaga terumbu karang dan sumber daya alam, serta berbagai tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi lingkungan di sekitar mereka.

Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makasar, S.Pd., mengatakan pendidikan lingkungan merupakan bagian penting dari pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan.

“Penyadartahuan konservasi tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat dewasa saja, tetapi perlu ditanamkan sejak usia sekolah,” ujar Hasan dalam keterangan persnya yanh diterima media ini, Rabu (12/8/2026)

Menurutnya, program PLH yang dilaksanakan DIANTARA menjadi bentuk kolaborasi positif dalam mendukung standar pelayanan pengelolaan kawasan, khususnya pada aspek pendidikan dan penyadartahuan konservasi.
Hasan berharap anak-anak di Kofiau-Boo tumbuh dengan pemahaman bahwa menjaga laut, hutan, dan sumber daya alam bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari identitas serta masa depan masyarakat Raja Ampat.

“Generasi muda yang memahami nilai konservasi akan lebih siap menjadi penjaga kawasan di masa depan,” katanya.

Hasan menambahkan, penguatan pendidikan lingkungan di kampung-kampung yang berada dalam kawasan konservasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan Raja Ampat.
Karena itu, pengelola kawasan berencana memperkuat kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Raja Ampat untuk mendorong Pendidikan Lingkungan Hidup menjadi muatan lokal di satuan pendidikan.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan sekaligus memastikan pendidikan konservasi tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran generasi muda Raja Ampat.

“Harapannya keberlanjutan dan jangkauan program semakin luas,” kata Hasan.

Diikuti 87 Siswa
Selama dua hari pelaksanaan, program PLH melibatkan 87 siswa dari dua sekolah di Distrik Kofiau.
Pada 7 Agustus 2026, kegiatan berlangsung di SD Negeri 37 Mikiran dan diikuti 30 siswa kelas III hingga VI. Peserta terdiri dari 12 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki.

Sehari kemudian, 8 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan di SD YPK Bethel Deer dengan jumlah peserta 57 siswa kelas IV hingga VI. Terdiri dari 32 siswa perempuan dan 25 siswa laki-laki.
Wakil Kepala SD Negeri 37 Mikiran, Yushein Ambafen, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Hal baik ini kiranya dapat berlangsung lagi di masa mendatang sehingga adik-adik dari peserta saat ini juga dapat terpapar PLH,” ujarnya.

Menurut Yushein, letak Kofiau-Boo yang berada jauh dari pusat pemerintahan tidak boleh menjadi hambatan bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan lingkungan.

“Walaupun Kofiau-Boo merupakan pulau yang jauh dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Halmahera, semangat peduli lingkungan harus tetap menjadi gaya hidup dari generasi ke generasi,” katanya.

Bangun Generasi Penjaga Raja Ampat
Sementara itu, Edukator DIANTARA, Warda Amir, menilai pendidikan lingkungan memiliki peran strategis bagi anak-anak yang tumbuh di wilayah kepulauan seperti Raja Ampat.

Menurutnya, anak-anak perlu diperkenalkan sejak dini pada kekayaan alam yang berada di sekitar mereka agar tumbuh rasa memiliki sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya.

“Pendidikan ini penting sebagai dasar bagi anak-anak usia dini untuk lebih mengenal dan mencintai alamnya,” kata Warda.

Ia berharap generasi muda Kofiau dapat berkembang menjadi agen perubahan sekaligus garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan pembangunan berkelanjutan di Raja Ampat.
Program PLH ini sekaligus menegaskan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan kawasan, tetapi juga tentang membangun manusia yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan komitmen untuk menjaganya.

Dengan pendidikan yang dimulai dari bangku sekolah, anak-anak Kofiau diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi tumbuh sebagai generasi penjaga masa depan Raja Ampat—wilayah yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa.

RED

Exit mobile version