Koreri.com, Nabire – Insiden kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Nabire, Provinsi Papua Tengah terus menunjukkan peningkatan pesat dalam hitungan beberapa jam terakhir.
Hal itu lantaran munculnya kabut asap yang mulai terlihat nyata di wilayah Nabire.
Menyikapi itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah langsung meluncurkan respons darurat segera untuk penanganannya dengan menggelar emergency meeting strategis, Jumat (21/8/2026) sore guna mengonsolidasikan kekuatan dari Dinas Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, Kepolisian, RRI, serta BMKG.
Berdasarkan data terkini dari BMKG dan BNPB, sejumlah titik api (hotspots) telah teridentifikasi di Kabupaten Nabire dan beberapa kabupaten lainnya di wilayah Provinsi Papua Tengah.
Berdasarkan analisis klimatologi, periode Agustus hingga September merupakan fase puncak musim kemarau, di mana risiko eskalasi kebakaran berada pada tingkat tertinggi.
Pemerintah menekankan bahwa identifikasi persoalan yang dilakukan hari ini merupakan langkah krusial untuk memastikan tindakan preventif yang presisi sebelum dampak lingkungan meluas.
Sementara itu, menghadapi keterbatasan sarana prasarana, pemerintah menerapkan strategi taktis melalui optimalisasi armada yang tersedia.
Saat ini, kekuatan pemadaman mengandalkan 6 unit mobil pemadam kebakaran gabungan (Provinsi dan Kabupaten Nabire) serta 2 unit armada kepolisian yang telah dimodifikasi secara teknis untuk mendukung operasi penyiraman di lapangan.
Penjabat Sekretaris Daerah, Silwanus Soemoele menegaskan transparansi pemerintah terkait kondisi logistik saat ini.
“Memang masih ada kekurangan-kekurangan, tapi itulah posisi kita per hari ini,” ujarnya.
Sebagai langkah solutif, Pemerintah membuka ruang kolaborasi bagi masyarakat yang memiliki armada tangki air pribadi untuk memperkuat suplai air bagi mobil-mobil pemadam.
“Kita akan terus mengupayakan memodifikasi dan memobilisasi jika ada masyarakat misalnya yang mempunyai mobil-mobil tangki dapat juga digunakan untuk membawa air dan memberikan itu kepada mobil-mobil yang ada,” lanjutnya.
Langkah inklusif ini diharapkan mampu menjangkau lokasi-lokasi bermasalah yang sulit diakses oleh armada standar.
Pemprov Papua Tengah juga menginstruksikan seluruh elemen masyarakat untuk mematuhi protokol pencegahan guna menekan munculnya titik api baru.
Masyarakat diminta untuk:
– Tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan secara sembarangan.
– Tidak membuang puntung rokok di area yang mudah terbakar.
– Melakukan upaya pemadaman mandiri pada titik api kecil selama masih aman dilakukan.
– Segera melapor ke posko darurat jika api tidak mampu dikendalikan.
“Kepada masyarakat dipastikan satu, jangan membakar sembarangan, jangan membuang puntung rokok sembarangan. Jika melihat titik-titik api ya sepanjang masih bisa dipadam dilakukan, tapi tidak mampu segera menghubungi posko-posko yang ada,” tegas Silwanus memberikan imbauannya.
Sebagai bentuk penguatan operasional, Pemprov Papua Tengah akan menyelenggarakan Apel Siaga Personel Terpadu pada Senin mendatang.
Agenda ini bertujuan untuk mengumpulkan seluruh tim lintas instansi guna memastikan kesiapan penuh di lapangan, yang akan dilanjutkan dengan pertemuan teknis untuk menetapkan langkah-langkah penanganan yang “lebih tajam” dalam menurunkan tingkat kebakaran.
Seluruh koordinasi penanganan Karhutla kini terpusat di Posko Penanganan Darurat yang berlokasi di kantor BPBD.
Pemerintah akan segera membagikan nomor kontak darurat secara luas untuk mempermudah akses pelaporan dari masyarakat.
HMS
