Koreri.com, Sorong – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat melalui Dinas Pariwisata setempat menyambut kunjungan tim Evaluator United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka proses revalidasi dan penilaian terhadap pengelolaan Geopark Raja Ampat, khususnya untuk melihat secara langsung berbagai upaya pelestarian, tata kelola, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, serta perlindungan budaya dan lingkungan yang telah dijalankan selama periode empat tahun terakhir.
Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat yang juga General Manager Geopark Raja Ampat, Klasina Rumbekwan mengatakan tim Evaluator UNESCO melakukan kunjungan lapangan di sejumlah lokasi dengan wilayah Misool menjadi salah satu titik utama penilaian.
“Yang dinilai adalah bagaimana kita menjaga dan mengelola Raja Ampat. Bukan hanya terkait geopark, tetapi juga budaya, pendidikan, serta bagaimana keberadaan geopark memberikan pengaruh dan manfaat kepada masyarakat setempat,” ujar Klasina, saat memberikan keterangan pers di Vega Hotel Sorong, Jumat (21/8/2026).
Kunjungan tim UNESCO dimulai setelah rombongan tiba di Waisai pada 18 Agustus 2026 lalu dimana tim melakukan pertemuan dengan Bupati Raja Ampat dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Selanjutnya, tim Evaluator mengunjungi Geopark Information Center, Sekolah Yayasan Cahaya Anak Papua, serta melakukan peninjauan sejumlah lokasi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan Geopark Raja Ampat. Rombongan kemudian bermalam di Raja Ampat Dive Lodge.
Pada 19 Agustus, perjalanan dilanjutkan menuju Misool sebagai salah satu kawasan utama dalam proses penilaian lapangan.
Klasina menjelaskan, rangkaian evaluasi juga mencakup kunjungan ke sejumlah lokasi lainnya, termasuk Tugu Yesus Memberkati di Sagawin dan Pulau Jefman.
“Kami berharap apa yang telah kami lakukan selama ini untuk menjaga Raja Ampat melalui Geopark dapat dihargai dengan penilaian yang baik,” harapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Raja Ampat Muhammad Hanif Fikri, menjelaskan penilaian tersebut merupakan bagian penting untuk mengukur keberlanjutan pengelolaan kawasan setelah Raja Ampat memperoleh status sebagai UNESCO Global Geopark.
Evaluasi dilakukan untuk memastikan pengelolaan geopark tidak hanya berhenti pada status atau pengakuan internasional semata.
“Jadi, proses ini untuk menguji, melihat dan mengukur apakah kita hanya berada pada status saja, atau memang ada upaya-upaya yang selalu dilakukan dalam empat tahun berjalan,” ujarnya.
Hasil revalidasi selanjutnya akan diputuskan dalam Sidang Dewan UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 mendatang di Paris, Prancis.
Dari sidang tersebut, akan ditentukan posisi Geopark Raja Ampat, apakah tetap mempertahankan status Green Card, atau mengalami penurunan status menjadi Yellow Card maupun Red Card.
Tim evaluator UNESCO dalam kunjungan tersebut diwakili oleh Nina Atsuko dari Jepang dan Chen Fang dari China.
Nina Atsuko menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, pimpinan daerah, masyarakat lokal, kelompok dan komunitas masyarakat, hingga organisasi nonpemerintah atau LSM yang turut terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan.
Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru selama melakukan kunjungan lapangan di Raja Ampat.
Namun, Nina menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyampaikan hasil evaluasi kepada publik karena proses penilaian masih berlangsung.
“Kami belum dapat menyampaikan hasil kunjungan kali ini, karena yang kami lakukan nanti adalah merampungkan laporan kepada Dewan UNESCO. Hasilnya akan diberikan pada pertemuan bulan November di Prancis,” ujarnya.
ZAN
