as

Miris! Anggaran Jumbo, Hasil Nol: Warga Mimika Timur Jauh Tetap Kesulitan Air Bersih

IMG 20250404 WA00182
Kepala Distrik Mimika Timur Jauh, Yulius Katagame saat memberikan keterangan pers di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (4/4/2025) / Foto: EHO

Koreri.com, Timika – Anggaran miliaran rupiah yang dikucurkan Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika ternyata tidak pernah memberikan manfaat apa-apa kepada warga masyarakat di wilayah itu.

Hal itu lantaran sampai saat ini masyarakat khususnya di Kampung Fanamo dan Omawita yang menjadi lokasi pembangunan fasilitas air bersih tetap kesulitan mendapatkan air bersih.

Sungguh sangat miris kondisi di dua kampung itu karena meski anggaran yang dikucurkan terbilang jumbo namun hasilnya tetap nol.

Warga di dua kampung itu tak juga mendapatkan pasokan air bersih sampai saat ini.

Kondisi ini diungkapkan langsung Kepala Distrik Mimika Timur Jauh, Yulius Katagame kepada Koreri.com, Jumat (4/4/2025).

Ia mengaku pembangunan proyek air bersih di Kampung Fanamo dan Omawita hingga saat ini tidak ada hasilnya sama sekali karena masyarakat tetap tidak mendapat pasokan apalagi menikmati air bersih.

Yulius kemudian menuturkan bahwa pembangunan sarana dan prasarana air bersih di Distrik Mimika Timur Jauh berlokasi di dua kampung itu dan sudah terbangun jaringan air bersih serta sumur bornya.

Pertama, fasilitas air bersih di Kampung Omawita sudah dikerjakan pada 2022 dengan kedalaman sumur bor 80 meter yang dilengkapi instalasi jaringan serta mesin Sanyo (penyedot air) juga menara penampungan.

“Namun sangat kita sayangkan karena sampai hari ini, detik ini masyarakat Kampung Omawita belum bisa menikmati air bersih,” bebernya.

Proyek air bersih Kampung Omawita ini dikerjakan Dinas PUPR Kabupaten Mimika.

Dan, alokasi anggaran pembangunan sarana air bersih tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Mimika tahun 2022 sebesar Rp1,8 miliar.

“Intinya sampai hari ini air bersih tidak ada, apalagi dinikmati masyarakat. Padahal instalasi pipa sudah di depan rumah warga,” cetusnya.

Ironisnya lagi, kata Yulius, air bersihnya tidak juga mengalir tetapi kini malah pipa instalasi sebagian besar yang sudah mengalami kerusakan.

Proyek air bersih kedua tepat pada tahun anggaran 2024, Dinas PUPR Mimika juga membangun lagi sarana dan prasarana air bersih di Kampung Fanamo tepat bersebelahan dengan Kampung Omawita.

Dan pekerjaan telah selesai di akhir 2024 lalu.

“Tapi faktanya sama saja karena sampai hari ini juga, masyarakat masih mengeluh tentang air bersih. Mengapa pekerjaan sudah selesai tetapi masyarakat belum bisa menikmati air bersih? Itu yang terus menjadi keluhan masyarakat sampai sekarang,” kembali bebernya.

Yulius pun kembali mempertanyakan kapan masyarakat bisa nikmati air bersih yang dibangun dari APBD Mimika TA. 2024?

Ia mengaku belum mengetahui persis nilai pembangunan sarana air bersih di kampung Fanamo yang merupakan ibukota Distrik Mimika Timur Jauh.

Yulius lantas memperkirakan bahwa alasan air bersih belum dinikmati masyarakat karena daya pembangkitnya kecil sehingga tidak mampu mengalirkan air sampai ke rumah warga.

“Saya sudah sampaikan ke Dinas PUPR Mimika bahwa kalau bisa secepatnya menambah daya. Entah pakai tenaga solarsel atau disel, itu urusan PUPR ! Yang penting masyarakat menikmati manfaat daripada pembangunan sarana air bersih ini,” tegasnya lagi.

Proyek Air Bersih Terancam Mubazir

Proyek sarana air bersih dalam kondisi terbengkalai kini terancam menjadi mubazir.

Kenapa demikian? Karena banyak uang negara habis begitu saja tapi pada akhirnya tidak memberikan manfaat apa-apa.

Masyarakat tetap tidak dapat menikmati manfaat dari pembangunan sarana air bersih tersebut.

Kadistrik Yulius Katagame mengaku sudah tiga kali melaporkan persoalan air bersih yang belum juga dinikmati masyarakat ke OPD teknis.

“Pertama dan kedua saya sampaikan langsung ke Kepala Dinas PUPR Mimika. Kemudian ketiga saya laporkan hal yang sama ke Kepala Bidang Cipta Karya tentang pembangunan sarana air bersih yang sekarang berpotensi mubazir. Tapi sampai hari ini, tidak ada tanggapan sama sekali,” herannya.

Yulius menambahkan pula bahwa masalah daya listrik yang kurang mampu itu menjadi tanggung jawab Dinas PUPR Mimika karena dianggap pekerjaan tersebut belum selesai dan masyarakat belum menikmati hasil.

“Harus air bersih sampai ke rumah masyarakat baru bisa dibilang pekerjaan selesai,” tegasnya.

Yulius kini berharap Pemda dalam hal ini Dinas PUPR Mimika segera seriusi persoalan air bersih yang belum dinikmati masyarakat. Karena sekarang pekerjaan di TA. 2022 dan 2024 itu terus menjadi keluhan masyarakat di dua kampung tersebut.

“Persoalan yang kemarin saya temukan dan sudah saya diskusikan dengan kepala seksi dan kepala bidang yaitu persoalan volume air atau debit air di dalam tanah itu tidak cukup. Saya bilang ke mereka, kalau mau kerja proyek harus ada perencanaan yang jelas kira-kira sumur bor kedalaman berapa untuk mendapatkan debit air yang banyak,” imbuhnya.

Yulius kemudian menegaskan soal apa yang disampaikannya.

“Karena pagi hari isi air di penampungan terus sore hari sudah tidak tarik air lagi karena sudah kering. Ini yang terjadi di Kampung Fanamo. Ini yang jadi persoalan, lalu siapa yang mau disalahkan?” sorotnya.

Yulius pun mendesak Dinas PUPR Mimika untuk segera bertanggung jawab terhadap pekerjaan ini sampai masyarakat menikmati air bersih.

Ia mengakui selama ini konsumsi air masyarakat di dua kampung itu masing-masing 65 persen tergantung pada air hujan, sedangkan sisanya 35 persen dari air sungai.

“Tetapi untuk air sungai yang memang merupakan pembuangan dari PTFI tidak menjamin untuk tingkat higenis bagi kesehatan masyarakat. Itu kondisi di kampung Omawita dan Vanamo,” akui Yulius.

Sementara untuk masyarakat di Kampung Otakwa dan Amamapare, 95 persen tergantung pada air hujan sedangkan 5 persen itu air sumur payau.

“Kalau di kampung Ayuka 100 persen ketergantungan masyarakat pada air sumur, air tanah dan air hujan,” pungkasnya.

Mengutip data LPSE Kabupaten Mimika, proyek pembangunan sarana dan prasarana air bersih di Kampung Fanamo, Distrik Mimika Timur Jauh dikerjakan oleh CV Kuku Perkasa selaku pemenang tender.

CV Kuku Perkasa beralamat di Jalan Jeruk Nipis BPD Blok A, RT 003 RW 001, Kelurahan Wahno, Kecamatan Abepura, Kota Jayapura.

Anggaran yang dialokasikan dalam pengerjaan proyek yang bersumber dari APBD Kabupaten Mimika TA 2024 mencapai lebih kurang Rp3,4 miliar.

Meski anggarannya terbilang fantastis namun fakta di lapangan, proyek tersebut sama sekali belum memberikan manfaat apa-apa kepada masyarakat setempat alias nihil.

EHO