Koreri.com (13/8) – Seekor paus pembunuh betina dengan nama J-35 melakukan aksi aneh dengan memanggul bayinya yang mati sesaat setelah proses melahirkan.
Aksi paus itu menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia karena aksi duka itu berlangsung berhari-hari.
Tepat setelah 17 hari setelah kematian bayinya, dan setelah menjelajah sejauh 1.000 mil atau sekitar 1.609 kilometer, paus itu berhenti memanggul bayinya.
“Hewan itu terlihat sehat walaupun menjalani masa duka. Hari ini adalah hari pertama saya melihatnya kembali. Bayinya sudah tidak terlihat lagi,” ujar Ken Balcomb, seorang direktur pendiri pusat riset paus kepada Seattle Times.
Balcomb juga mencatat bahwa paus jenis orca itu tidak terlihat kurang gizi dan hal tersebut merupakan tanda positif bagi kesehatannya.
Tetapi ada hal yang masih mengkawatirkan kelompok J-pod, salah satu dari tiga orca yang mendiami wilayah selatan di Laut Salish.
J-50, yang lebih dikenal dengan nama Scarlett, adalah orca berusia 4 tahun dalam grup paus itu , merupakan paus termuda dan dianggap sebagai anggota kelompok paus yang paling tidak berkembang dengan baik.
Para peneliti, minggu lalu mengamati J-50 dan mendapati tanda-tanda yang disebut “kepala kacang,” yang merupakan tanda kurang makan.
Berdasarkan pengamatan kelompak yang peduli kesehatan orca pada Kamis (9/8), menyatakan bahwa kondisi J-50 lebih baik dari perkiraan, namun para peneliti dan anggota kelompok yang peduli pada kelompok orca tetap sigap untuk memberi makan apabila diperlukan.
ARD
Sumber: seattlepi.com
