24 Pelajar Tolikara di Bogor Terancam Dipulangkan, Dana Otsus 3 Tahun Dipertanyakan

Forum Masyarakat Peduli Pembangunan Tolikara
Forum Masyarakat Peduli Pembangunan Tolikara Memberikan Keterangan Pers di Kota Jayapura, Senin (29/11/2021) / Foto: Ist

Koreri.com, Jayapura – Sebanyak 24 pelajar asal Kabupaten Tolikara yang menjalani studi di Yayasan Sekolah Anak Indonesia (SAI) Bogor kabarnya terancam dipulangkan ke daerahnya pada 17 Desember mendatang.

Diduga, keputusan pemulangan 24 pelajar tersebut oleh Yayasan karena Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara tak melakukan tanggung jawab pembayaran sejak 2019 hingga 2021.

Ketua Forum Masyarakat Peduli Pembangunan Tolikara, Moses William Serelak membenarkan adanya rencana pemulangan tersebut.

“Jadi, persoalannya itu kemarin per tanggal 24 November 2021 dari Yayasan ada mengeluarkan surat pemulangan siswa sebanyak 24 orang. Sampai saat ini kita belum ada konfirmasi dari yayasan dan Pemda juga terkait nasib adik-adik ini,” terangnya dalam keterangan pers di Kota Jayapura, Senin (29/11/2021).

Moses mengakui polemik ke 24 pelajar tersebut menjadi salah satu persoalan penting yang harus segera disikapi.

“Khusus untuk SDM adik-adik kami yang ada di Yayasan Sekolah Anak Indonesia Bogor, mereka ada di sana karena ada program kerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara. Jadi ada yang masih dalam pertengahan belajar begitu pula ada yang baru masuk juga,” akuinya.

Kerja sama ini, lanjut Moses, sudah berlangsung sejak 2019 dimana Pemda Tolikara melakukan MoU dengan Yayasan SAI Bogor.

“Namun sampai saat ini, belum ada perhatian bahkan belum pernah dikunjungi oleh Pemerintah Tolikara untuk melihat keadaan dan kondisi adik-adik kita di sana. Bagaimana studi dan prestasinya di sana. Jadi dari biaya administrasi adik-adik kita di sana dari tahun 2019, 2020, dan 2021 sampai sekarang ini tidak berjalan,” bebernya.

Tetapi anehnya, dari Dinas selalu meminta laporan pertanggungjawaban atau tunggakan perbulan dan pertahun. Walaupun faktanya, dananya itu belum pernah tersalurkan hingga 2021 ini alias menunggak.

“Pihak yayasan pun seakan sudah tak percaya lagi dengan janji-janji ini, terhadap adik-adik kami yang bersekolah di sana. Maka kami dari Forum Peduli Pembangunan Tolikara menyayangkan kejadian karena dengan besaran kucuran anggaran Otonomi Khusus untuk pendidikan dan kesehatan yang kalau tidak salah Rp20 miliar itu dikhususkan untuk pendidikan dan kesehatan tapi sampai sekarang tidak jelas,” herannya.

Moses menambahkan, Yayasan SAI Bogor telah menjadwalkan kepulangan 24 pelajar Tolikara.

“Adik-adik kami akan dipulangkan pada tanggal 17 Desember. Dan yang menjadi persoalan sekarang, mata pencaharian orang tua adik-adik ini hanya bertani. Mereka sekarang tidak tahu dan bingung bagaimana cara memulangkan anak-anak mereka. Adik-adik ini mereka sekolah di jenjang SD, SMP sampai SMA. Mereka tinggal satu atap dalam asrama dan mereka juga berprestasi,” sambungnya.

Moses menegaskan, pihaknya memberikan waktu dua hingga tiga hari ke depan agar segera Pemda memperjelas nasib mereka.

“Kami juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Yayasan SAI yang telah mendukung walaupun tidak ada perhatian serius dari Pemda tetapi yayasan sudah memberikan yang terbaik. Dan kami mengapresiasi. Tuhan yang akan membalas semua kebaikan mereka yang telah membina, mengajar, dan menjaga adik-adik kami selama di sana,” ucapnya.

Pihak yayasan pun akan tetap mengizinkan ke 24 pelajar Tolikara ini tinggal sampai ada yang menjemput mereka dan bisa pulang bersama-sama menumpangi satu pesawat.

Masih menurut Moses, jika ke depan sudah tidak ada jalan lagi, pihaknya berinisiatif menggelar aksi penggalangan dana dengan mengamen di jalanan atau mencari orang-orang berhati baik untuk memulangkan ke 24 pelajar ini.

“Karena kita juga tidak tahu di bulan Desember ini harga tiket berapa mahalnya. Kami sangat menyayangkan ini, karena adik-adik ini merupakan calon tulang punggung daerah Tolikara di masa depan. Dan masalah pendidikan ini yang seharusnya diperhatikan. Kalau memang program ini sudah tidak ada, kenapa Yayasan SAI masih hasilkan lulusan dan SAI masih terima Angkatan,” tegasnya.

Salah satu tokoh pemuda Tolikara, Feri Ceko Kogoya, mengaku kecewa atas persoalan yang menimpa 24 pelajar asal daerahnya.

“Kami sebagai intelektual di Kabupaten Tolikara dan juga mewakili masyarakat dan orang tua yang ada di sana, kami kecewa terhadap sikap dan tindakan Pemerintah Tolikara,” kecamnya.

Feri menilai hal ini sudah menjadi pembiaran.

“Apalagi adik-adik kita ini akan menjadi barometer atau mereka adalah generasi penerus Kabupaten Tolikara. Kami sangat kecewa dan rasa kekecewaan kami ini sebagai kaum intelektual mengajak senior-senior yang ada di Tolikara untuk memberikan bantuan ataupun sumbangan  agar kita bisa pulangkan adik-adik kita di sana,” pintanya.

Feri mengaku heran banyaknya intelektual yang ada di Kabupaten Tolikara, tapi hal seperti ini menyangkut pembangunan daerah tidak pernah dibicarakan bersama.

“SDM itu penting, kesehatan, pembangunan SDM nya dan kesejahteraan sosial itu juga penting. Kami berharap Pemerintah dan dinas terkait harus segera melihat ini. Dan juga kami meminta perhatian dari DPR juga untuk menyikapi ini,” tegasnya.

OZIE

Exit mobile version