Koreri.com, Jayapura – Mantan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua, Constant Karma, mengungkapkan bahwa sejak 2013 Papua berhasil menahan laju penyebaran HIV/AIDS.
Namun, kondisi memburuk setelah pandemi COVID-19 dan lemahnya penanganan pasca kepemimpinannya.
Karma menjelaskan, HIV/AIDS merupakan penyakit kronis berbeda dengan COVID-19 yang bersifat akut.
“Penularan HIV/AIDS terutama melalui hubungan seks bebas. Kalau tidak pakai kondom, risiko tinggi tertular,” ujarnya di Jayapura.
Data Dinas Kesehatan Jayapura tahun 2024 mencatat 1.278 kasus baru. Lebih memprihatinkan, hanya 26% penderita HIV (ODHA) yang rutin mengonsumsi obat, sedangkan 35% putus pengobatan.
“Kalau putus obat, virus cepat berkembang. Ini berbahaya,” tegas Karma.
Ia juga menyebutkan dua pendekatan penting: pencegahan bagi yang sehat dan pengobatan bagi ODHA.
Karma menyayangkan lemahnya program KPA pasca dirinya, serta dampak pandemi yang membuat upaya pencegahan HIV tertunda hampir lima tahun.
Ia pun mengimbau anak muda waspada terhadap aplikasi kencan digital yang memicu seks bebas, serta mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu lawan HIV/AIDS.
“Jangan anggap remeh. Tes rutin dan jangan putus obat. Kita hidup di tengah epidemi HIV,” pungkasnya.
SAV

















