Koreri.com, Jayapura – Suhu politik menjelang pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Pemilihan Kepala Daerah Papua pada 6 Agustus 2025 terus menunjukkan adanya peningkatan eskalasi.
Kaitannya dengan hal itu, Tokoh Papua dan mantan pejabat tinggi negara serta mantan Wakabaintelkam POLRI, Komjen Pol. Purn. Paulus Waterpauw M.Si menyerukan ajakan kuat kepada seluruh elemen masyarakat Papua, khususnya Tim Khusus (Timsus) pendukung pasangan BTM-CK untuk bersikap kritis.
Ia pun menuntut kewaspadaan tinggi dalam menghadapi dinamika politik menjelang pungut ulang Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur Papua.
Dalam sebuah pernyataan yang ditujukan kepada Ketua Timsus BTM-CK dan seluruh anggota tim, Waterpauw mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi demokrasi yang menurutnya semakin kompleks dan mengkhawatirkan.
Ia menyebut bahwa suasana saling curiga antar individu, kelompok masyarakat, hingga antara rakyat dan negara kini telah melembaga.
“Demokrasi kita saat ini bukan hanya kompleks, tapi telah menjadi ruang yang rawan disusupi kebencian berbasis SARA, populisme primordial, dan berita bohong. Ini bukan lagi kompetisi gagasan, tapi penyebaran ketakutan,” tegasnya.
Pria yang dikenal dengan inisial nama PW ini juga mengingatkan bahwa bukan hanya para kontestan politik yang berperan dalam situasi ini, melainkan juga para “pebisnis hitam, koruptor, dan pelaku politik busuk” yang memanfaatkan situasi demi kepentingan sempit dan jangka pendek mereka.
Di tengah kesibukannya menyelesaikan program doktoral, ia tetap memberikan arah strategis dan ajakan moral kepada tim pemenangan BTM-CK dan seluruh masyarakat Papua, terutama di wilayah adat Tabi dan Saireri.
PW menekankan pentingnya pendidikan politik yang sehat dan literasi publik yang kuat sebagai benteng terhadap manipulasi demokrasi.
“Kita harus memobilisasi tokoh-tokoh agama, adat, pemuda, perempuan dan seluruh warga Tabi-Saireri untuk menolak para penumpang gelap reformasi yang hendak membajak demokrasi kita dari rakyat,” tekannya.
PW kemudian menyebutkan beberapa hal penting yang perlu dicermati:
1. Tantangan demokrasi dewasa ini semakin nyata, bahkan sudah melembaga. Kita menyaksikan berkembangnya sikap “saling curiga” antara individu, kelompok masyarakat, bahkan antara rakyat dan negara. Ini bukan asumsi, tetapi kesimpulan dari literasi dan fakta yang saya pelajari dan bandingkan.
2. Kondisi saling tidak percaya itu kini diperparah dengan menguatnya politik identitas dan populisme berbasis primordial.
3. Kompetisi elektoral telah bergeser. Tidak lagi dilandasi visi, misi, atau program politik yang membangun, tetapi malah menebarkan ketakutan, tekanan, dan penyakit kronis berupa kebencian berbasis SARA yang disebarkan melalui berita bohong.
4. Saya juga ingin mengingatkan bahwa fenomena ini tidak hanya datang dari peserta pilkada, tetapi kini turut disusupi oleh para pebisnis hitam, koruptor, dan pelaku politik busuk yang memanfaatkan sentimen primordial demi kepentingan sempit dan jangka pendek mereka.
Di akhir pesannya, Paulus Waterpauw menutup dengan salam khas Papua yang menyentuh hati.
“Siooo… Tuhan sayang kitorang samua basudara. Nimaowitime!” tukasnya.
TIM






























