Koreri.com, Sorong – Provinsi Papua Barat Daya (PBD) baru saja menjadi tuan rumah pelaksanaan Konvensi Akademia dan Pertemuan Tahunan (KAPT) BKPTKI yang berlangsung selama dua hari, 24 – 25 Juli 2025.
Sebanyak 24 perguruan tinggi Kristen se-Indonesia hadir langsung dalam kegiatan berupa rapat kerja yang dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur (Wagub) Ahmad Nausrau bertempat di ASTON Hotel Sorong, Kamis (24/7/2025).
Total 76 perwakilan Perguruan tinggi yang terdiri atas para rektor, wakil rektor hingga pimpinan yayasan hadir dalam hajatan tersebut.
Bagi Institut Kesehatan Imanuel Bandung, salah satu dari 24 perwakilan Perguruan Tinggi yang hadir dalam raker tersebut lantas tak menyia-nyiakan kesempatan dengan melihat peluang lain sebagai momen untuk melebarkan sayapnya ke provinsi baru itu.
Dengan mengambil istilah “Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui”, kesempatan itu pun dimanfaat dengan baik oleh Rektor Dr. Susanti Niman., M.Kep., Ns.,SP.Kep.J bersama Lidya Natalia, S.Kep.,Ners., MS selaku Wakil Rektor III Bidang Kemanusiaan, Alumni, Pemasaran dan Kerjasama Institut Kesehatan Immanuel Bandung serta Pdt Stefanus Parinusa selaku Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi – Gereja Kristen Pasundan yang hadir di raker tersebut.
Ditemui Koreri.com, Rektor Dr. Susanti Niman mengungkapkan jika kehadiran pihaknya di Kota Sorong, Papua Barat Daya ini selain mengikuti raker KAPT BKPTKI, juga ingin menawarkan berbagai program kerjasama dengan Pemerintah daerah dan sekolah-sekolah di wilayah itu dalam kaitannya dengan kelanjutan studi para siswa maupun aparatur sipil negara.
“Untuk kerjasamanya seperti yang sudah terjalin adalah dengan Pemerintah Kabupaten intan Jaya dimana, mereka sudah mengirim mahasiswa dan saat ini sedang berkuliah baik itu di program studi D3 keperawatan maupun program studi D3 kebidanan,” urainya.
Diakuinya, untuk kerjasama dengan Pemkab Intan Jaya ini telah berlangsung beberapa tahun yang diperkuat dengan penandatangan MoU.
Kemudian untuk saat ini, lanjut Rektor, pihaknya juga mencoba untuk bekerjasama baik itu dengan Pemerintah provinsi maupun juga dengan Kabupaten Raja Ampat.
“Mudah-mudahan dengan kerjasama ini, banyak juga mahasiswa yang dikirimkan ke tempat kami baik itu prodi keperawatan ataupun prodi kebidanan ataupun prodi-prodi lainnya. Dan optimis itu akan sangat membantu untuk pengembangan kesehatan di wilayah Provinsi Papua Barat Daya ini,” imbuhnya.
“Artinya kami dari kampus Institut Kesehatan Imanuel bersedia dihadirkan sebagai tenaga ahli ketika semisal dibutuhkan untuk melakukan seminar ataupun pelatihan misalnya kepada Masyarakat. Terutama adalah misalnya kepada tenaga-tenaga kesehatan apabila itu dibutuhkan di Kabupaten/kota yang ada d Provinsi Papua Barat Daya,” tandasnya.
Profil Kampus
Berkaitan dengan profil kampus sendiri, Wakil Rektor III Bidang Kemanusiaan, Alumni, Pemasaran dan Kerjasama Institut Kesehatan Immanuel Bandung Lidya Natalia, S.Kep.,Ners., MS dalam keterangannya menyebutkan lembaga Pendidikan tersebut telah berdiri sejak 1910 silam.
Seiring berjalannya waktu, kampus ini kemudian mengalami berbagai macam perubahan bentuk mulai dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) kemudian Akademi Keperawatan (Akper), Sekolah Tinggi hingga pada akhirnya pada 2022 mengalami perubahan bentuk menjadi Institut Kesehatan Immanuel.
Dirincikan Lidya, Institut Kesehatan ImmanueI Bandung memiliki dua Fakultas yaitu Fakultas Keperawatan yang terdiri atas Prodi D3 Keperawatan, S1 Keperawatan dan profesi Ners. Kemudian untuk Fakultas Kesehatan mencakup 7 program studi yakni D3 Manajemen Rumah Sakit, D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, Profesi Bidan, S1 Kesehatan Masyarakat dan S1 Gizi.
“Ke depan juga, kami berencana untuk membuka prodi profesi gizi dan juga mungkin untuk S2 Keperawatan,” sambungnya.
Sejauh ini, kata Lidya, mahasiswa yang sudah yang tercatat di Institut Kesehatan Immanuel Bandung jumlahnya kurang lebih sekitar 1.200-an untuk student body di Angkatan 2024-2025.
“Untuk saat ini, yang 2025-2026 masih dibuka pendaftarannya dan sudah ada di gelombang 3 sampai dengan tanggal 30 September 2025,” kata dia.
Untuk gedung kampus Institut Kesehatan Immanuel Bandung ada pada dua area di Jalan Kopo, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Lidya menambahkan, jika saat ini pihak Yayasan selaku pengelola juga berkomitmen untuk perluasan bangunan di kampus satu yang akan dilakukan dalam beberapa tahap.
Untuk dosen jumlah 48 orang, dimana sebanyak 6 dosen bergelar S3 dalam dan luar negeri, serta 10 dosen sedang studi lanjut S3 dalam dan luar negeri.
“Jadi beberapa tahun ke depan ini, kami akan banyak sekali panen untuk dosen- dosen program dengan program doktoral ataupun PHD,” pungkasnya.
Sementara itu, Pdt. Stefanus Parinusa selaku Ketua Yayasan menegaskan sangat mensupport perkembangan Institut Kesehatan Immanuel Bandung.
Kampus satu, lanjut Pdt. Stefanus sedang dalam proses perngurusan ijin untuk pembangunan kampus yang lebih modern dan mengakomodir semua kebutuhan mahasiswa dan juga kampus itu sendiri.
“Yang kedua, kami juga memperhatikan spritualitas. Jadi kampus ini satu kesatuan meskipun sebenarnya walaupun kampusnya Kristen tapi ada banyak juga mahasiswanya yang non Kristen dan kami menyiapkan pendeta kampus. Jadi ada pendeta kampus yang akan mendampingi para mahasiswa Kristen maupun juga non Kristen untuk spritualitasnya,” tegasnya.
Jadi, tegas Pdt. Stefanus mahasiswa bukan saja dibekali ilmu pendidikan tetapi juga kecerdasan spiritualitas juga.
“Tentu kebijakan ini menjadi poin penting dalam pengembangan kampus,” tegasnya.
Yang ketiga, yaitu mendukung Pemerintah dalam rangka Indonesia Sarjana yaitu menghasilkan sarjana tapi juga mendukung penyediaan beasiswa termasuk dari luar.
“Jadi ada beasiswa-beasiswa yang kami siapkan selain yang sudah disiapkan kampus seperti ada KIP ataupun ada juga kerjasama dengan mitra misalnya beasiswa dari Bank BNI ataupun yayasan sendiri menyiapkan. Juga beberapa skema beasiswa seperti potongan biaya untuk gereja karena pendiri Institut Kesehatan Immanuel Bandung pemiliknya adalah pimpinan di Gereja Kristen Pasundan. Namun kami juga terbuka dengan mitra gereja untuk berbagai beasiswa itu,” bebernya.
Selain itu, sambung Pdt. Stefanus, ada beasiswa Diakonia yaitu beasiswa yang diberikan 100% untuk calon mahasiswa yang memang tidak mampu yang dibuktikan dengan surat dari gereja setempat.
“Ada rekomendasi gereja bahwa yang bersangkutan itu memang tidak mampu dan itupun akan dipertimbangkan untuk mengikuti studi dengan biaya gratis hingga selesai. Jadi ada beasiswa prestasi akademik dan kita juga ada yayasan sosial serta panti asuhan yang memberikan beasiswa untuk anak-anak panti asuhan untuk bisa kuliah secara gratis,” sambungnya.
“jadi artinya secara fisik kita dukung pengembangan institut Kesehatan ImmanueI Bandung yang secara fungsinya menghasilkan SDM tetapi juga spiritualitasnya. Dan secara ekonomi didukung juga untuk perhitungan biaya pendidikannya,” pungkasnya.
RED
