Koreri.com, Sorong– Pertemuan modal Internasional dan Modal Dalam Negeri Terus Bergulir ke Tanah Papua, menjadikan bumi Cenderawasih ini sebagai surga investasi.
Modal asing dari berbagai negara dengan bendera masing masing banjir ke Papua, realisasi investasi pada triwulan II 2024 mencapai Rp 64,2 triliun, mencakup 7,7% dari total investasi nasional.
Investasi ini didorong oleh pertumbuhan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang meningkat sejak 2020 dan upaya pemerintah provinsi.
Anggota DPD/ MPR RI Agustinus R. Kambuaya mengungkapkan, modal asing di Papua (Indonesia) cukup signifikan dan terus bertambah hal ini terlihat dari nilai investasi di Papua Selatan pada Mei 2024 mencapai Rp 5,31 triliun.
Investor dari berbagai negara seperti Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Jepang menunjukkan minat untuk berinvestasi di Papua, khususnya pada sektor energi, pertanian berbasis teknologi tinggi, dan pengembangan pelabuhan.
Potensi sumber daya alam yang melimpah seperti bauksit, emas, dan nikel serta kebutuhan pengembangan infrastruktur menjadi daya tarik utama bagi investor asing.
Laju investasi ini membuat resistensi masyarakat adat, kerusakan lingkungan dan ekologi bahkan konflik tenurial meningkat di Papua, alih-alih mendorong pendapatan daerah dan menciptakan lapangan kerja realisasi investasi terus meningkat.
Hari demi hari rakyat Papua terus berhadap-hadapan dengan konflik perampasan tanah (Landgrabing), konflik vertikal dan horizontal terus terjadi.
“Gereja, MRP dan DPR serta kita semua terus berpindah-pindah isu. Hari ini satu isu, besok pindah lagi bahas isu lain begitu seterusnya, kita seolah seperti pemadam kebakaran, besok satu isu kita tersedot energi, setelah itu pindah lagi isu yang lain karena itu sudah saatnya MRP, Dewan Adat, Lembaga Masyarakat Adat, DPRD, DPD RI, DPR RI, Semua komponen sipil segera gelar Forum Investasi di Tanah Papua,” jelas Senator Papua Barat Daya Agustinus Kambuaya dalam keterangan persnya yang diterima redaksi koreri.com, Sabtu (20/9/2025).
Lebih lanjut Agustinus Kambuaya menegaskan, forum ini untuk membicarakan banyak hal tentang investasi di Tanah Papua dan harus didiskusikan sejak awal sehingga ada suatu konsensus bersama, kesimpulan tentang bagaimana mendorong Papua kedepan.
Bagaimana sumberdaya alam ini di tata, dikelola. Harus ada Grand Desing Pengelolaan sumberdaya alam Papua untuk kepentingan pembangunan, Kepentingan anak cucu kita kedepan.
“Kita tidak boleh menjadi obral semua sumberdaya alam yang diatas perut bumi, dibawah perut bumi semua di jual sekejap mata, seolah-olah pemerintah telah menjadi Sales penjual yang baik untuk mendagangkan kekayaan kita dan lupa akan kehidupan hari esok untuk anak cucu kita,” sahutnya.
Mantan anggota DPR Provinsi Papua Barat itu menyebutkan, belajar dari Afrika Selatan, Aborigin dan beberapa negara lainnya, sumberdaya alam habis lupa menyiapkan SDM sehingga yang ditinggalkan adalah kerusakan lingkungan, kerusakan sosial dan konflik sosial.
Karena itu, perlu ada konsensus bersama, dilakukan rencana detail investasi di Papua road Map agar sumberdaya alam tidak di kelola menurut kepentingan industri di tempat lain, kebutuhan market semata.
Ini soal ketahanan nasional, soal keamanan masa depan bangsa, Negara lebih lagi bagaimana masa depan Papua 200 Tahun kedepan.
“Saya mengajak semua pihak duduk bersama dan bicarakan masa depan ekonomi Tanah Papua melalui Forum Investasi. Letakan semua perbedaan, negara harus menjamin eksistensi dan keberlanjutan kehidupan Orang Asli Papua 100 Tahun kedepan” harapnya.
Sejarah dunia sudah memberikan banyak pelajaran. Ketika sumberdaya alam habis tanpa alternatif persiapan, maka yang ada adalah Theory Kutukan Sumberdaya alam Menimpa.
RED













