Koreri.com, Sorong – Papua Barat Daya (PBD) menjadi tuan rumah kegiatan ReSea Global Seascape Exchange Bird’s Head Seascape Indonesia Meeting, yang digelar di Aston Sorong Hotel, Senin (9/2/2026).
Pertemuan yang diinisiasi Conservation Internasional tersebut diikuti delegasi dari tujuh negara yakni Madagaskar, Mauritius, Mozambik, Komoro, Tanzania, Kenya dan Sri Lanka.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Ahmad Nausrau.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dari tujuh negara yang hadir dalam event internasional ini,” ucap Wagub.
Wagub menyampaikan apresiasi kepada Konservasi Indonesia yang dinilai konsisten mendukung upaya konservasi berkelanjutan di Indonesia, khususnya di wilayah PBD.
Menurut Wagub, pertemuan ini memiliki makna strategis karena PBD khususnya Raja Ampat, dipilih sebagai pilot project konservasi bentang laut dunia.
Para delegasi datang untuk belajar langsung dari pengalaman PBD dalam menjaga dan mengelola kawasan konservasi laut yang telah diakui secara global.
“Raja Ampat dipilih sebagai contoh praktik terbaik konservasi. Mereka datang untuk belajar dari kita, bagaimana menjaga alam, bagaimana merawat kawasan konservasi yang sudah terkenal di dunia,” jelasnya.

“Kami berharap melalui pertemuan ini, kita bisa saling berbagi cerita, pengalaman dan ilmu tentang bagaimana merawat serta menjaga alam Papua, khususnya kekayaan laut Raja Ampat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wagub menitipkan pesan agar seluruh pihak terus berkomitmen menjaga Raja Ampat sebagai aset alam yang sangat berharga, tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk masa depan anak cucu.
“Harapan kami, dengan konservasi yang berkelanjutan, alam Papua Barat Daya tetap terjaga. Ini juga menjadi dasar bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan, sehingga wisatawan dapat terus menikmati kekayaan alam Papua Barat Daya,” pungkasnya.
Pertemuan ReSea Global Seascape Exchange ini diharapkan memperkuat jejaring kerja sama internasional serta memperkuat posisi PBD sebagai pusat pembelajaran dan praktik konservasi laut dunia.
Robert Mandosir selaku Papua Program Director Konservasi Indonesia Wilayah PBD menegaskan bahwa pertemuan ReSea Global Seascape Exchange Bird’s Head Seascape Indonesia menjadi momentum penting bagi penguatan kerja sama internasional dalam pengelolaan bentang laut berkelanjutan, khususnya di wilayah Kepala Burung Papua.
Tujuan utama pertemuan ini adalah sebagai wadah pembelajaran bersama dari wilayah-wilayah bentang laut yang dinilai berhasil dalam pengelolaannya.

“Di wilayah Kepala Burung, kita memiliki pengalaman pengelolaan yang sangat baik. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama jangka panjang antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan yang telah berlangsung kurang lebih selama 20 tahun,” ungkapnya.
Keberhasilan pengelolaan bentang laut di Raja Ampat dan kawasan Kepala Burung inilah yang mendorong delegasi dari tujuh negara untuk datang dan belajar langsung dari Papua Barat Daya.
Model kolaborasi yang kuat dinilai menjadi kunci utama keberhasilan konservasi di wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar tempat belajar, Papua Barat Daya diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi pemerintah dan masyarakat lokal, sekaligus memastikan keberlanjutan pengelolaan lingkungan hidup di masa depan.
Pertemuan ini juga bertujuan untuk menyusun roadmap kerja sama bersama antara tujuh negara peserta dan Pemerintah Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan kesepakatan antarnegara, khususnya dengan negara-negara di Afrika, dalam pengelolaan bentang laut berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya didorong menjadi leading institution yang menghubungkan kerja sama antarnegara tersebut.
Kehadiran Wakil Gubernur Papua Barat Daya dalam pertemuan ini menjadi penegasan bahwa kawasan Kepala Burung merupakan area strategis yang perlu dijaga melalui kolaborasi internasional.
“Kerja sama internasional ini penting untuk dipikirkan dari sisi pemerintah, sementara dari sisi mitra pembangunan, ini menjadi tanggung jawab bersama untuk terus bekerja dengan pemerintah dan masyarakat, khususnya di Raja Ampat dan wilayah Kepala Burung,” jelasnya.
Konservasi Indonesia juga menegaskan komitmen untuk menjadikan Raja Ampat sebagai pusat pembelajaran global atau learning hub pengelolaan bentang laut.
Dengan posisi tersebut, Raja Ampat tidak hanya menjadi ikon konservasi tetapijuga aset daerah yang berkontribusi pada pendapatan daerah dan negara.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kerja sama dan tanggung jawab semua pihak dalam menjaga keberlangsungan lingkungan hidup yang telah menjadi ikon nasional dan kebanggaan Indonesia.
ZAN






























