Mastamaru UMMaluku: Generasi Muda: Kritis, Berintegritas dan Bangun Maluku

IMG 20260929 104220

Koreri.com, Ambon — Semangat dan rasa ingin tahu mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Maluku (UMMaluku) menjadi catatan penting dalam kegiatan Masa Ta’aruf Mahasiswa Baru (Mastamaru) Tahun Akademik 2026/2027, Senin (28/9/2026).

Dalam dialog bertema “Peran Mahasiswa sebagai Penggerak Kemajuan Daerah: Membangun Generasi yang Inklusif,

Progresif, dan Berintegritas”, mahasiswa diajak melihat pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh gelar, tetapi sebagai proses membangun karakter, kapasitas dan kepedulian terhadap daerah.

Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah keberagaman mahasiswa.

Kehadiran seorang mahasiswi Kristen asal Tanimbar yang memilih kuliah di kampus Muhammadiyah dinilai menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan lintas agama, daerah dan latar belakang.

“Berbeda, tetapi tetap bersaudara,” menjadi pesan penting dalam pertemuan tersebut.

Mahasiswa juga diajak memahami persoalan Maluku secara langsung, tidak hanya melalui media sosial atau data di atas kertas.

Mereka didorong turun ke masyarakat, mendengar persoalan warga serta memahami kondisi pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan dan konektivitas antarpulau.

Mahasiswa Harus Kritis dengan Etika

Dalam dialog, mahasiswa mempertanyakan bagaimana membangun relasi dengan pemerintah tanpa kehilangan sikap kritis.

Saadiah Uluputty Anggota DPR RI mengatakan mahasiswa memang harus kritis, tetapi kritik harus disampaikan berdasarkan data, argumentasi dan etika.

“Kritis tidak berarti harus memusuhi pemerintah. Dekat dengan pemerintah juga bukan berarti kehilangan sikap kritis,” pesan yang disampaikan,”katanya.

Mahasiswa didorong menjadi mitra kritis pemerintah, dengan mendukung kebijakan yang baik dan menyampaikan masukan terhadap program yang perlu diperbaiki.

Selain itu, mahasiswa diingatkan untuk tidak menyerang pribadi maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Integritas Dimulai dari Hal Kecil

Persoalan integritas juga menjadi bagian penting dalam dialog.

Integritas, kata dia, tidak menunggu seseorang menjadi pejabat atau pemimpin. Integritas dibangun sejak menjadi mahasiswa melalui kebiasaan sederhana, seperti jujur mengerjakan tugas, tidak mengambil karya orang lain, berani mengakui kesalahan, tidak memanipulasi data dan menepati janji.

“Jangan menunggu menjadi orang besar untuk belajar berintegritas. Mulailah sekarang.”tambahnya.

Sebagai Anggota MPR RI, ia juga mengingatkan mahasiswa agar nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa diharapkan terus bertanya, membaca, berdiskusi dan turun ke masyarakat.

“Jangan kuliah hanya untuk mendapatkan gelar. Kuliah untuk membangun kapasitas. Jangan hanya pandai mengkritik, jadilah mahasiswa yang mampu menawarkan solusi,” pesannya.

Ia meyakini dari generasi muda Maluku akan lahir para guru, dokter, pengusaha, akademisi, birokrat, aktivis, profesional hingga pemimpin masa depan.

“Ada masyarakat yang menunggu. Ada daerah yang membutuhkan. Ada Maluku yang harus kita bangun bersama. Dari kampus untuk Maluku, dari Maluku untuk Indonesia.”pungkasnya.

RLS